---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- From: Amin Riza Bung Banteng, Ini adalah awal babak akhir reformasi, dekolonisasi bagi semua wilayah Indonesia yang menghendakinya, atau dalam istilah saya : Perpisahan damai. Dewi Fortuna Anwar benar dengan statement-nya, dan semakin memperjelas dia adalah calon tunggal pengganti Alatas di Pejambon kelak. Banyak analisis yang dapat diungkap dengan langkah memerdekakan Timtim ini, misalnya : - Kalau Ramos Horta bisa dapat Nobel dari issue Timor Leste, kenapa Habibie tidak ? - Kalau jelas Habibie cs. nggak bakal menang dalam Pemilu yang fair, selagi masih bisa, bumi hanguskan saja Indonesia, sehingga siapapun pemenangnya tak akan memperoleh apa-apa. Caranya : Mulai dari Timtim, dan hampir pasti gerakan kemerdekaan akan merambah keseluruh kawasan Indonesia. - Kalau memerdekakan Timtim mengangkat citra Habibie cs. maka mati kartulah kelompok yang menamakan dirinya reformis, karena pada hakekatnya tokoh reformasi telah dapat dijengkal kemampuan dan daya nalarnya, setelah tak ada kemajuan yang berarti walau diberi kesempatan begitu luas. Dan terbuka kesempatan Habibie menjadi Presiden lagi. - dan macam-macam analisis yang beranjak dari kecurigaan. Sedang bagi saya, lebih baik main di hal-hal yang jelas saja. Apapun motif terselubung dibaliknya, jelas kemerdekaan Timtim sejalan dengan piagam kemerdekaan Indonesia, yang mengakui kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Sementara definisi bangsa, dengan segala keragamannya, dapat diperluas dan dipersempit, berakar pada satu basic idea : commonalities. Sejauh terdapat kesepakatan commonalities, sah-sah saja sekelompok masyarakat menganggap dirinya satu bangsa. Jadi sah-sah saja kalau Rakyat Aceh, atau Papua, atau Bali, atau Ambon menganggap dirinya masing-masing satu bangsa. Bahkan Jawa juga dapat membedakan diri dari Sunda. Lebih tajam lagi Jawa Timur dan dawa Tengah. Juga Jawa dengan Madura. Banyaklah. Dan sah-sah saja mereka memperoleh kemerdekaan. Begitu juga Timor Leste. Soal bagaimana nasibnya kelak, itu sama sekali bukan urusan kita. Dulu Belanda juga bilang bahwa Indonesia belum bisa dimerdekakan karena terlalu banyak orang bodoh dan miskin, nyatanya kita ngotot dan merdeka juga. Setelah merdeka itulah segala sesuatunya dibenahi. Bahwa kini kita terpuruk, nggak ada yang menyalahkan Belanda atau Jepang. Saya berharap dekolonisasi ini akan semakin marak, atau setidaknya otonomi yang diperluas itu segera diterapkan bagi seluruh Propinsi, sehingga dalam lingkup-lingkup kecil, rakyat semakin merasakan arti kemerdekaan, meningkat kesejahteraannya, dan semakin berhak menentukan nasib sendiri (self determination). Bukannya diatur-atur terus oleh Jakarta, yang ternyata lebih banya melahirkan koruptor daripada pemimpin. Dari semua yang tampil sebagai tokoh reformasi, belum ada yang dapat diandalkan sebagai pemimpin untuk skala sebesar Indonesia, sehingga apapun hasil Pemilu, bagaimanapun fair-nya, hanya menghasilkan 'the bad among the worses' dengan biaya trilyunan. Pilihannya sangat terbatas dan semuanya belum dapat diandalkan. Karena itu, marilah kita berdoa semoga akal sehat mengungguli penyakit hati yang aneka rupa, sehingga kelak hidup ini lebih nyaman. Akhirnya, saya menangkap sinyal bagus dari Habibie, dalam tatap muka dengan warga Banten di Pandeglang hari ini, bahwa diantara alasan memerdekakan Timor Leste, karena kawasan ini tidak termasuk yang ikut merdeka pada tahun 1945. Istilah dia : baru 22 tahun ikut kita. Jadi kalau dilepas nggak apa-apa. Kalau begitu kan Papua boleh merdeka juga ya ? Lalu menyusul yang lainnya. Wassalam. -- ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 9 Feb 1999 jam 08:43:39 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
