----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


ISTIQLAL (9/2/99)# "KONCO KENTAL", DI  MANA KAH ENGKAU?

(Sebuah Renungan)

Oleh: Dini S Setyowati

      Beberapa  hari lalu aku membaca sebuah tulisan  di internet.   Sebuah
berita  tentang diskusi   empat   aktivis mahasiswa  yang  membahas masalah
"menjauhnya  visi mahasiswa dari  visi  rakyat". Tentu ini satu persoalan
dan  pertanyaan yang  mendesak  dipecahkan dan dijawab.  Pertanyaannya
ialah: Apakah tidak ada perasaan "setiakawan" sejati  antara  kedua kelompok
- mahasiswa dan rakyat - itu? Sedangkan persoalannya ialah:  Di mana  kah
rasa setiakawan yang
sejati itu tertinggal, sehingga berakibat visi antara kedua kelompok itu
berjauhan?

     Pertanyaan dan persoalan tersebut bukan lah sekadar tampil sebagai
"peringatan  moralis". Tapi  benar-benar "mengebor", hingga  menggugah  rasa
penasaran ingin tahu,  dan  mendesak saya berusaha mencari jawab.

      Bahwa  kedua kubu berdiri saling berjauhan visi,  itu lah pertanda
tidak  adanya  sambung rasa yang  murni  dan  kuat. Mengapa ini? Padahal dahulu,
ketika kita masih kanak-kanak dan bebas  spontan berekspresi, mempunyai
"konco  kental"  adalah sesuatu warna hidup yang lumrah belaka. Mengapa
mahasiswa  dan rakyat tidak bisa menjadi "konco kental"?

     Membaca diskusi empat aktivis mahasiswa tersebut terkesan padaku
tentang  betapa besar cita-cita dan keinginan  mereka yang  sama.  Yaitu
cita-cita  dan
keinginan  untuk  mencapai tatanan  masyarakat  baru yang  demokratis.  Tapi
masalah-masalah  tentang masyarakat demokratis, dan  tentang  tatanan
demokrasi   yang   bagaimana,  apakah  sudah   tuntas   mereka diskusikan?
Apakah,  berbicara  tentang  tatanan demokratis, berangkat dari kebebasan
individu yang
tanpa batas ala  sistem kapitalis, atau kah benar-benar bercita-cita sama,
dan bertekad mewujudkannya bersama-sama, dengan rakyat?

      Sistem  kapitalisme, yang berangkat dari ide konkurensi ialah  pangkal
kristalisasi mutu, sudah sejak awal menciptakan suasana individual bagi kita.
Bermula di sekolah, ketika  rasa "konco  kental" terkalahkan oleh  keharusan
berpretasi,  dan berupaya  menjadi  yang paling baik di klas dan bahkan
juara sekolah! Akhirnya yang tampak di sekitar kita bukan lagi  para "sesama
konco",
melainkan para pesaing yang membahayakan  bagi diri sendiri masing-masing.

      Pengalaman  menunjukkan,  bahwa  rasa solidaritas  akan tumbuh   dan
menguat  dalam perjuangan  nyata. Perjuangan mahasiswa  telah melahirkan dan
memperkuat ikatan solidaritas antara  mereka  dengan  rakyat. Ini tampak
nyata, khususnya, sejak kasus Kedung Ombo sampai Tragedi Semanggi.

      Itu  adalah  suatu  proses perjalanan lahirnya perasaan setiakawan,
yaitu kesanggupan  menempatkan diri  di   dalam situasi sesama (kata  Jawa:
"tepa slira"),   yang telah menumbangkan  semangat "semau gue" yang telah
diciptakan  dan dihidup-hidupkan Orde Baru selama lebih 30 tahun.

      Gaya  "semau  gue" ini berangkat dari sikap egosentris burjuis kecil.
Ia  berhenti  pada berkaca  pada situasi sekelilingnya,  demi  berpuas-puas
dengan  urusan "eksistensi diri"  dalam  melawan  perasaan  rendah diri,
atau  kompleks "minderwaardig".  Cukup ironis.  Karena ini berupa suatu
lingkaran setan, di  mana  teror  psikis  Orde  Baru  justru berpangkal
pada  tujuan menyuburkan dan menyebarkan perasaan rendah dan ragu diri.

      Di  jaman revolusi, kemerdekaan direbut atas dasar rasa perjuangan
setiakawan, bersama-sama berjuang menghadapi musuh di depan  mata: kekuasaan
kolonial. Perasaan "konco  kental" tumbuh di mana-mana bagaikan tunas-tunas
hijau segar di atas hamparan  padang rumput yang tua. Sesungguhnya  juga
sekarang ini pun, ketika kita bersama menghadapi pemerintah yang korup.

      Tapi, mengapa perasaan yang "luhur" ini hanya lahir demi perjuangan
melawan yang tak luhur? Hanya kah bersifat sementara, sebagai imbalan
belaka?  Ah,  alangkah indahnya apabila keluhuran ini menyertai kita seterusnya!

      Tapi resep paten untuk itu belum ada yang tahu. Mungkin bisa dimulai
melalui instansi yang paling awal, yaitu keluarga. Terutama antara kedua
orangtua sebagai contoh pertama  dan utama bagi anak-anak mereka. Kemudian
dilanjutkan dengan di  tengah suasana sekolah, di mana  picuan  prestasi
dibarengi  dengan mata pelajaran mata pelajaran kesusasteraan yang merakyat
dan kritis struktural, sejarah yang menganalisis, bahasa yang menginspirasi,
ilmu bumi yang mengalam, dan ilmu alam yang bersahabat lingkungan.


PERBEDAAN MENDASAR ANTARA RASA SETIAKAWAN DENGAN SEKTARISME
        Sektarisme justru timbul dari perasaan kurang identitas (pada)  diri
sendiri, hingga orang yang bersangkutan mencari "baju" identitas  melalui
organisasi  atau  ideologi. Karena pribadi  yang kurang meng-inti pada diri
sendiri, maka segala tanggungjawab  dan inspiratif  disalurkannya melalui
"baju" identitas  itu. Karena itu selalu merasa sangat terancam  oleh
"bahaya  luar",  baik yang berasal  dari  oknum  perseorangan maupun
organisasi lain. Ia lalu menjadi bersifat  tertutup, hingga   segala
sesuatu  yang  bukan termasuk kelompok- nya sendiri, justru tidak mendapat
uluran solidaritas daripadanya. Sedangkan  solidaritas berangkat dari
situasi individu yang sudah "selesai", atau sedang dalam proses penemuan
diri. Sehingga karena itu tidak akan merasa terancam atau menghadapi bahaya,
kalau seandainya ada kelompok atau person lain  masuk atau memerlukan
solidaritas.

       Perasaan setiakawan justru berangkat dari kepekaan terhadap  situasi
yang  lain, atau yang berada di luar kelompoknya  sendiri. Ungkapan Jawa
"tepa slira" tepat  untuk dipakai sebagai ilustrasi tentang ini. Misalnya
kepekaan, atau  rasa "tepa slira", tentang ketidak-adilan dan penindasan
terhadap
kelompok masyarakat yang paling bawah, yaitu rakyat.

      Orde  Baru  Soeharto berhasil mematikan bukan hanya  Ruh Kehidupan
masyarakat,  tetapi sekaligus juga  Ruh  Kehidupan individu.  Politik
sensor dari berbagai  instansi  pemerintah terhadap  masyarakat telah
menciptakan mekanisme "self-sensor" pada diri setiap manusia. Bukanlah
kebetulan  jika  filsafat Jawa  mengenal  salah  satu butir ajarannya yang
mengatakan, bahwa  "dunia  besar adalah pencerminan dunia  kecil, dan
sebaliknya dunia kecil adalah
bayangan dunia besar".

       Kalau di zaman Pertengahan masyarakat menegakkan "reformasi" demi
pembebasan diri dari feodalisme dan perbudakan,  maka dalam zaman tahun 2000
sekarang ini, masyarakat mulai  membebaskan diri dari  rezim militer  semi
feodal birokrat, dan dari pengintaian Bakorstanas-Bakorstanas dalam  diri
masing-masing. Sengaja saya tidak menyebut "zaman modern"  tapi  "zaman
tahun  2000", oleh karena  pengertian "modern" sejatinya tidak hanya
terbatas pada kemutakhiran hitech, tapi mencakup juga kepekaan penghayatan
individu  pada dinamika kehidupan dan proses peradaban.

      Demi  pendidikan  terhadap anak-cucu bangsa yang  sudah menanti, maka
jutsru sekarang ini lah - bukannya baru di  masa mendatang! - kita semua perlu
ber-introspeksi diri,  memeriksa "dunia kecil" dan "dunia besar" kita
masing-masing. Kesempatan berintrospeksi,  atau memeriksa ke dalam diri sendiri,
itulah sebenarnya  yang  dibukakan oleh tradisi silaturahmi lebaran, ketika
kita  saling mengucapkan kata-kata ritual "maaf lahir batin".  Melakukan
introspeksi ialah masuk dalam proses melihat,  mengakui dan memaafkan diri
sendiri, yang tak lain ialah proses "akseptasi diri". "Memaafkan"  bukan
sekedar "excuus"  begitu  saja, tapi mencoba menarik  pelajaran  dari
kesalahan yang telah lalu.

      Sejalan  dengan reformasi di luar, introspeksi ke dalam diri berarti
me-reform diri  sendiri,  untuk  bersiap-siap membangun  sesuatu  ide  yang
baru - dalam  konteks Indonesia sekarang:   membangun  tatanan  masyarakat
yang   betul-betul demokratis.

                         ***

       Organisasi  ialah  wadah  untuk menyalurkan aspirasi-aspirasi, dan
membawakan ide-ide serta prinsip-prinsip  para anggota ke arah pewujudannya
yang nyata. Jadi, sebenarnya yang dimaksud  dengan berorganisasi ialah
untuk  memasuki  proses pembebasan  diri manusia. Di dalam konteks Indonesia
sekarang ialah  proses  pembebasan diri "manusia Orba Indonesia" dari segala
macam obligasi birokratis. Berbagai bentuk organisasi dan pernyataannya
(seperti jawatan, sarasehan den sebagainya), semuanya itu  menuju ke arah
manusia berjiwa universal, yang  berhasrat melaksanakan  ide-ide dan
prinsip-prinsip tanpa terkotak-kotak dalam bentuk. Fungsi bentuk,  dalam
hal ini organisasi, merupakan saluran untuk memanifestasikan ide-ide yang
hidup tapi abstrak ke dalam wujud yang tetap hidup  dan  kongkret. Jangan
sampai terjadi, bahwa ide-ide yang hidup justru menjadi tertangkap dan
perlahan-lahan tercekik karena dan di dalam belenggu  tatanan birokratis.
Karena itu anggota (organisasi) yang berjiwa universal merdeka, haruslah
menghidupi ide-ide di dalam  pikiran dan jiwanya sendiri. Sehingga kalau
pun  suatu ketika terpaksa jauh atau terputus  dari  organisasi (atau
bentuk),  ia akan tetap mampu melaksanakan prinsip- prinsip idenya secara aktif.

      Mengapa  solidaritas sesama dan antar-berbagai kelompok timbul kuat
hanya ketika menghadapi situasi "ancaman nasional"?  Hingga  karenanya
pemerintah selalu   berhasil memanipulasi  situasi  di  balik  kata-kata
yang mengancam, seperti "bahaya  stabilitas  nasional", atau "awas
neo-kolonialisme" dan semacamnya? Bangsa Indonesia sesunggguhnya sudah
terperangkap  dalam politik Orde Baru yang sudah menetapkan Pancasila
sebagai azas tunggal, dan dengan demikian Demokrasi Pancasila ala rezim Orba
menjadi kaidah tunggal tata hukum Indonesia?*** (bersambung)

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 9 Feb 1999 jam 10:33:31 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke