---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk Sobron Aidit : KELUHAN SEORANG MISKIN Susahnya hidup di zaman ini kerja sebulan dua,lalu dipecat katanya sih pabriknya bangkrut lalu mulai hutang sana-sini. Ayah saya dulu punya sebidang tanah kecilnya bagaikan gundukan dua tiga kuburan tadinya ditanami berjenis sayuran tiba-tiba saja kena gusur katanya buat obyek pembangunan sebab negara kita sedang memperlancar tinggal-landas dan kami mulai jadi gelandangan tanah diganti,sudah sedikit masih juga dihutang potong inilah potong itulah mau melapor malah kita yang kena cecer mau mengadu malah kita yang maju ke pengadilan mau cari keadilan malah kita yang dapat hukuman tidak mengadu,tidak melapor lah lalu apa kerjanya itu para polisi apa gunanya itu jaksa - hakim dan pengadilan tinggi tidak kerja tapi terus terima gaji sudah korupsi masih juga berkolusi kalau tak percaya coba tanya Adi Andjoyo atau Benyamin Mangkudilaga. Dia enak-enaknya berlebaran sekapalterbang sekeluarga komplit ke Solo lalu bersembahlah para pengikutnya pada mencium tangan tampaknya dia memang sedang cari muka ketemu lagi dengan tokoh yang juga cari muka maka cacatlah nama yang dulu begitu meninggi lalu apakah juga masih dapat disebutkan pelopor reformasi,reformasi sejati lagi! Katanya kalau dia mau tobat cara tobat nasuha atau setingkat lagi tobat muhabalah maka selesailah sudah dia diterima,anggap saja tak lagi berdosa anggap saja hartanya yang trilyunan itu sudah putih sebab sudah minta ampun takkan lagi dikejar-kejar sejarah mak enaknya jadi dia itu! Orang yang selalu bikin rakyat sengsara tapi tak pernah dihukum orang yang membunuh berjuta jiwa tapi selalu mengulum senyum dihujat sedikitpun banyak yang membela mak enaknya jadi dia itu! Kami ini hidup mati ketakutan dulu takut sama dia kini takut kemiskinan entah kapan diusir dari rumah kontrakan sebentar lagi listrik diputus beras tiap hari naik gula tak lagi terasa manis garam tak lagi terasa asin cabe tak lagi terasa pedas hutang sudah mulai menggunung para penagih sudah terasa mengikuti punggung walah susahnya hidup di zaman ini orang yang dulu hidup sederhana kini tambah miskin orang yang dulu hidup miskin,kini menunggu mati walah mak,susahnya hidup di zaman ini! Paris, 7 Februari 1999.- ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 9 Feb 1999 jam 10:48:31 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
