---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- From: Michael Bastian Sebagai orang awam saya bingung dengan pemerintah yang (katanya) tidak punya uang, sehingga dengan "memelas" memohon bantuan dari asing (IMF). Sebagai masyarakat yang bodoh tentu saja saya ikut prihatin. Tetapi ada fakta dibalik itu semua yang bisa membuat kita tercengang. Dinegara ini semua kena pajak, kalau kita bekerja secara resmi (sebagai karyawan kantor, pengusaha, pedagang dan lainnya), secara langsung gaji/pendapatan kita akan kena pajak sebesar 21%. Setelah itu kalau kita bayar air, listrik dan telepon akan kena pajak lagi sebesar 10% (PPN). Belum lagi kalau kita membeli barang (yang katanya) ekspor (dengan menggunakan US$), kena pajak barang (yang di)mewah(kan), setelah itu kena PPN 10% (lagi). Setelah itu kalau uang kita simpan di bank, bunganya kena pajak lagi , padahal seharusnya uang itu khan dipakai bank untuk dipinjamkan ke BI untuk pembangunan Indonesia (berarti kita "membantu pembangunan") lalu BI memberi kita "penghargaan" berupa bunga, eh disunat juga. Kemana-mana sekarang kena pajak, yang namanya PPN, Pajak Pembangunan, atau apapun juga namanya yang penting pajak. Perusahaan kena pajak, karyawan kena pajak, anaknya karyawan kalau beli juga kena pajak (stop nanti muntah !) Pajak lagi, pajak lagi, pajak terus. Kemudian kita hitung-hitung, berapa dana yang masuk ke pemerintah "gara-gara" pajak ? Saya tidak mempermasalahkan pajak, demi pembangunan, tetapi kenapa kita masih membutuhkan dana lagi dari asing (IMF) ? Padahal dari pajak itu jumlahnya besar sekali, untuk apa uang rakyat dari pajak itu ? (Baca posting INDO-News tentang korupsi di pemerintahan Habibie). Kasihan untuk beberapa orang, sudah bayar pajak banyak (mungkin bisa lebih dari 50% penghasilan, kena intimidasi, kena tuduhan minoritas (bahkan minoritas ganda), kena jarah, diperkosa. Padahal mungkin mereka termasuk orang yang "paling" taat (karena terpaksa) bayar pajak. Kalau kita lihat diluar negeri (USA), kalau tidak salah mereka tidak kena pajak yang buaanyak sekali, dan ada beberapa pajak yang bisa dipotong (tidak dihitung) kalau mereka membelanjakan sesuatu barang. Dan kalaupun dirasa banyak mereka bisa protes (demo), apabila dari pajak itu tidak digunakan untuk pembangunan yang baik. Mungkin ada pakar atau ahli yang bisa mengomentari atau menambahkan kebingungan saya, supaya tidak (tambah) bodoh. Kepada saudara-saudara yang beragama Nasrani saya ucapkan Selamat Natal dan kepada saudara-saudara yang beragama Islam saya ucapkan Selamat menunaikan ibadah puasa. Semuanya Selamat Tahun Baru. Tuhan memberkati Indonesia dan kita semua. orang yang (jadi) bodoh, memimpikan hidup yang lebih baik ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 23 Dec 1998 jam 07:25:09 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
