----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

KOLOM  Perwira Alengka.
22 Desember 1998. Jam 19.00 WIBB.

Kentut Semar,Neo VOC dan Pandita.

Tulisan ini adalah tulisan terakhir Perwira Alengka di tahun 1998. Namun
sebelumnya izinkan Perwira Alengka terlebih dulu mengucapkan selamat
menjalankan Ibadah Puasa pada para netters sekalian dan Selamat hari
Natal bagi yang merayakannya. Semoga hikmah suci bulan Ramadhan dan
cinta kasih Natal membawa kesejukan bagi kita semua. Sekaligus
memberikan kesempatan bagi Perwira Alengka / GM TDA dan anak buahnya
untuk menarik nafas sejenak sambil menjalankan ibadahnya.

Belum selesai polemik Ratih, sudah datang Dialog Empat dengan segala
kontroversinya. Untuk zigsaw kecil ini, pesan Perwira Alengka sederhana
saja : Bila kail panjang sejengkal, janganlah laut hendak di ukur. Bila
otak cuma sepenggal janganlah   Si Buta dari Goa Ciganjur   hendak
diduga. ( Punten nuwun sewu Gus Dur, inilah pnghormatan tertinggi dari
Perwira Alengka untuk Gus Dur ).

Perwira Alengka sudah komit dengan Empu Supo, Aurang Zep, Alay Grey
Span, dan Khalil Gibran ( ini orang orang entah siapa, tetapi pinternya
minta ampun ) untuk tidak bergesekan dengan Pandita Gohkarna di
lapangan, bagaimanapun sang Pandita  memancing mancing nantinya. Para
Dewa ini selalu mengingatkan Perwira, bahwa darah boleh muda, tetapi
emosi harus tua. Jangan sampai terpancing lagi seperti oleh Rugaiya atau
MY Syafei kemarin. Berani boleh berani, nekad boleh nekad, tetapi untuk
menjaga citra dan image Neo TDA dan Neo Alengka, jasad hidup Perwira
Alengka lebih dibutuhkan dari pada jasad kaku. Bila main jibaku
kamikaze, sikat sana sikat sini, sehingga akhirnya mati sia sia, death
body tidak ada gunanya bagi memperjuangkan citra Neo TDA ini.  Maka itu,
untuk tulisan Pandita yang bilang bahwa Perwira Alengka dan Neo TDA,
walau diputar bagaimanapun jiwa militer dan premannya akan muncul,
mengalahkan kejujuran moral, intelektual dan humanisme nya,  . Monggo
saja . Yang jelas, Perwira Alengka dan GM TDA tidak sejelek itu.

Empu Supo, Alay Grey Span, Aurang Zep dan Kahil Gibran semua mengakui
bahwa manuver Gus Dur tentang Dialog Empat yang diluncurkannya  kali ini
luar biasa. Variant luar biasa yang akan memaksa siapapun untuk main
dalam pola ini , kalau tidak mereka akan hancur hancuran sendiri.
Perwira Alengka tidak perlu buka disini, sebab nanti justru akan timbul
counter anticipation untuk menggagalkannya. Sebetulnya apapun
argumentasi para tokoh diatas ( nama nama e mail diatas mewakili
kepentingan kelompok masing masing), semua setuju bahwa apa yang
dilakukan Gus Dur ini akan mengurangi socialcost bagi negara dan bangsa
ini. Sekaligus memberi win win solution bagi  kedua penunggang macan
baik Capo Transisi maupun mantan Capo untuk lengser dan hidup dengan
tenang. Dan Neo TDA bisa di tarik ke markas. Sayang Capo transisi dengan
segala pemikir septic tank nya telah menolak kesempatan emas ini.

Sayang sekali, benar benar sayang sekali. Dengan ditolaknya dialog empat
ini, maka situasi akan menjadi sulit. Menang jadi arang, kalah jadi abu,
sementara posisi Gus Dur tetap saja seperti Dewa Semar yang bisa kentut
dimana mana. Dan beliau akan terus kentut kapan saja dimana saja kepada
siapa saja, sesukanya bikin orang blingsatan. Sampai akhirnya kentutnya
Gus Dur ini menjadi duplikat kentut nya Semar. Dan bisa terjadi justru
setiap hari nantinya orang orang berebut menunggu Gus Dur kentut untuk
dianalisa laboratorium /  uji klinis atau disimpan dalam botol dijadikan
azimat. ( Gossip yang beredar saat ini, karena persaingan memperebutkan
privilege kentut Semar inilah yang membuat Eyang Soeharto tidak mau
menemui Gus Dur selama bertahun tahun).

Seguru se ilmu jangan mengganggu, sesama pengemudi bis kota jangan
mendahului, demikian kiranya pesan akhir tahun Perwira Alengka pada
Pandita Gohkarna. Bila Pandita masih ingin memperebutkan nama Alengka
yang sebenarnya memang di pakai oleh Pandita terlebih dahulu, Perwira
Alengka siap minta maaf atau minta lisensi. Atau Pandita ingin kembali
menjadi Pandita Alengka, sejujurnya nama itu adalah milik Pandita dahulu
nya. Hanya keputusan Pandita yang terburu buru mengganti nama menjadi
Pandita Gohkarna meninggalkan istilah Alengka suatu Brand Name yang
sudah go publik, sejujurnya amat Perwira Alengka sayangkan. Jika Pandita
minta hak paten nama tersebut, sejujurnya Perwira Alengka akan ganti
nama, tidak enak rasanya berdiri diatas fondasi orang lain. Kita orang
timur, punya tepo punya seliro.

Sementara untuk generalisasi bahwa semua militer adalah preman, Perwira
Alengka kurang setuju. Cobalah duduk dan bicara panjang lebar dengan
Patih Bambang Yudoyono atau Patih Rizal Nurdin yang gubernur Sumut.
Nuansa militeris nan preman akan hilang berganti suatu wacana budaya
universal, humanis, luas, dalam dan penuh nilai nilai moral dan
kejujuran. Jangan bandingkan Para Patih ini dengan Perwira Alengka,
perwira muda di milis ini. Perwira Alengka ini cuma kelompok sampah,
orang yang dari kumpulannya terbuang, orang yang gagal di GM TDA, (sama
seperti aktivis mahasiswa abadi yang jadi provokator demo). Makanya
prinsip Perwira Alengka, dari pada DARI  PADA, masih lebih baik LEBIH
BAIK. Jangan sampai teman teman yang bagus bagus karrier nya di GM TDA
yang jadi korban dari reformasi internal Neo TDA ini. Lebih baik seorang
Perwira Alengka yang cuma rumput saja yang tampil jadi bemper dan korban
di milis ini.

Bila Pandita salah duga pada Perwira Alengka, mungkin komunikasi kita
saja yang kurang. Dari pada bicaraain yang tidak jelas, alangkah baiknya
Pandita dan cantriknya bahas soal Neo VOC atau Capitalist without
borders. Bila para netters dan Pandita pernah baca buku buku komik
science-fiction tentang Tangui- Laverdure, ( Skwadron Mig 21 Perancis )
dengan berbagai judul nya, maka thema thema ceritanya adalah persaingan
group group bisnis raksasa dunia yang berusaha menaikkan atau
menjatuhkan pemerintahan  negara / kerajaan kecil demi kepentingan
bisnis mereka. ( Penguasaan ladang minyak, tambang uranium, batu bara,
emas dll ).  Dengan menggunakan segala kekuatan yang ada, baik militer,
politik, intrik-intrik, devide, adu domba, rekayasa, dll.

Demikian juga hal nya yang terjadi di Neo Alengka saat ini. Gus Dur
membicarakan adanya dana dari luar negeri untuk mendukung demo, yang
dikeluarkan oleh  CIA dan di salurkan melalui Unilever, itu hanya satu
peringatan saja bahwa di United States sendiri, antara State Department,
Pentagon dan CIA tidak satu visi tentang Neo Alengka. Mereka memiliki
policy masing masing. Belum lagi konflik terbuka antara partai demokrat
dan republik. Partai Demokrat dengan NDI nya dan Partai Republik dengan
IRI nya. (Kepanjang annya cari di encyclopedia ). Belum lagi permainan
group group bisnis raksasa yang saling memiliki kepentingan tersendiri.
Inilah arti ucapan Gus Dur yang tidak dimengerti orang dimana Gus Dur
mengatakan CIA mendukung demo di Neo Alengka. Tujuannya, minta CIA stop
sebentar, satukan visi dulu dengan Pentagon, State Departement, dan
Foreign Ministry. Juga hendaknya konsultasi dengan partner Eropah, Asia,
Australia ( Eropah bukan cuma Deutchland ). Sementara penyatuan visi di
luar negeri itu .. Gus Dur mati matian mengupayakan dialog empat mencari
solusi internal Alengka tanpa campur tangan asing. Jelasnya, urusan
Alengka kita selesaikan dengan cara Alengka, jangan bawa bawa backing
asing.

Selain itu, variant lainnya bukan cuma pemerintahan Negara Asing. Di
luar sana, pemerintahan negarapun sudah nyaris di kuasai oleh Konglo
Kapitalis mis: Jepang, Amerika dll. Contohnya James Ryadi. Sedangkan
contoh soal group raksasa yang mengatur pemerintahan adalah bisnis
minyak. Di United States ada perusahaan minyak raksasa namanya SO

Standart Oil ). Ada yang bermarkas di Texas ( SOTEX ), ada yang di
California ( SOCAL ). Lalu mereka bergabung menjadi CALTEX.  Sedangkan
induknya SO dimodifikasi ( undang undang monopoli ) menjadi EXXON. Apa
kaitannya dengan Neo Alengka ? Kaitannya yaah biasa biasa saja. Mobil
Oil di Arun dan Aceh sudah di beli Exxon. Caltex di Duri, Dumai Pakan
Baru kontraknya akan berlanjut. Begitu juga proyek proyek lepas pantai,
Kalimantan Timur dan Natuna diambil oleh mereka. Dalam peran yang begitu
kuat, mereka tidak perlu lagi mendukung apa atau siapa di Neo Alengka
ini. Ingat James Moffet dengan garangnya bicara pada saat di interview.

Siapapun yang jadi Raja di Alengka ini akan tunduk pada mereka, sebab
mereka bisa menentukan posisi Raja. Kalaupun Kerajaan Kesatuan Alengka
ini pecahpun, bagi mereka tidak apa apa, bahkan lebih baik, sebab
bargain position untuk negara kecil pasca Alengka sangat memudahkan
mereka untuk intervensi, baik politik keuangan, agama, maupun sosial
budaya lainnya. Dan tetesan uang minyak itu ( tricle down effect )
seperti Kerajaan Brunei, akan lebih terasa.  ( TDA dengan tema
unitariannya jelas tidak disenangi oleh kelompok ini ) Karena itu
Perwira Alengka mohon pada Pandita untuk berpikir lebih dalam dan jangan
terus menyudutkan kami. Kami mungkin salah, tetapi semuakan masih bisa
di perbaiki, sebelum semua pecah berantakan dan Neo Alengka tinggal
mozaik mozaik yang berserakan.

Itu masih soal minyak, belum bicara soal James Moffet dengan
Freeportnya, atau Bre X, dll dengan Busangnya, dan banyak lagi.  Jadi,
jika kita semua hanya terfokus bicara soal demo dan anti demo, ratih dan
anti ratih, dan membuat semuanya itu tetap dan terus hangat, selama itu
pulalah harta negara ini akan terkuras dan dikuras habis. Anjing
menggonggong kafilah tetap berlalu.

Ilmu ini adalah Kiu Yang Sin Kang, level ke tiga dari sembilan level
wawasan inti  yang Tat Mo Tjouw Su ajarkan pada Perwira Alengka di
Ciganjur. Jadi tulisan ini baru pada level 3. Masih ada 6 level yang
lebih tinggi lagi, yang tidak pantas di buka disini. Kalau pembicaraan
kemarin bicaranya cuma di level II saja resikonya  bagi Perwira Alengka
sudah nyawa. Apa lagi di Level III ini, taruhannya adalah nyawa Perwira
Alengka beserta keluarga. Bisa jadi Perwira Alengka diselesaikan bukan
oleh unsur ekstreem kanan TDA sendiri, tetapi oleh kelompok Capitalist
without borders ini yang contoh konkritnya adalah Soros dkk. Atau Tommy
Winarta dkk karena Perwira tidak satu kubu dengannya. Lihat Guzman yang
jatuh dari helikopter di hutan Irian Jaya gara gara Busang. Mengapa ?
Sebab GM TDA dan Generasi Perwira Alengka adalah suatu generasi militer
masa depan yang tidak bisa terbeli atau dibeli. Tidak bisa di ijon atau
terijon, dan mempunyai komitmen total pada bangsa dan negara ini.

Tapi kalau Tommy Winarta tawarin gue 100 juta, mungkin gue mikir juga
yaa .? )

Konsep kami GM TDA hampir sama dengan konsep yang di jalankan habibie
saat ini. Tetapi dengan fase awal yang berbeda. Mereka langsung main
keras bahkan gaya radikal fasis. Cara Hitler pembunuhan 6 juta jewish
atau gaya komunis Vietnam dengan Boat Peoplenya. Mereka main mulai
Banyuwangi-Situbondo Tasik Malaya, Pekalongan, Ujung Pandang dll, untuk
menggeser peta ekonomi. Gereja dibakar untuk jatuhkan Gus Durdi mata
dunia. Tapi Gus Dur di lawan  yaah amburadul semua.

Sedangkan Maha Patih Wir khususnya dan TDA pada umumnya ingin main lebih
moderat. ( Ingat kebulatan tekad kesetiaan para Pangdam pada Pangab
Mahapatih Wir saat baru di lantik ).  Soal porsi kue, cukup diselesaikan
dengan PP / Kepres atau paling TAP MPR, berlangsung seperti Malaysia
tanpa kerusuhan sosial yang berkepanjangan. Bukan gebyah uyah, bakar
rumah, bakar Alengka begini. Yang membuat perdagangan, investasi,
industri, perbankan, property, pasar modal, dll hancur total. Ini zero
sum game gila gilaan. Dan inilah yang tidak di setujui Neo TDA.

Apalagi kemudian citra Alengka dan TDA hancur berantakan di dunia
pewayangan sejagad, sehingga harus ganti nama jadi Neo Alengka dan Neo
TDA. Perwira tidak akan menghujad atau menyebut nama lagi. Semua sesuai
amal perbuatan. Cukup sekali, tidak akan ada kedua kalinya. Soal Perwira
Alengka militer ?  Yaa nama yang dipilih saja adalah Perwira Alengka. Ya
sifatnya Perwira. Dan perwira itu kan juga prajurit. Apakah tidak boleh
kalau muncul new wave ( bukan new left ) dimana disamping fungsi
militer, kami juga ingin menjadi pemikir yang humanis.

Sekedar justifikasi langkah Gus Dur, sebetulnya, saat mantan Capo
mundur, beliou masih memiliki kekuatan yang sangat besar, minus 14
mentri penghianat. Jika mantan Capo ini saat itu ngotot dan tiwikrama,
bentuknya Neo Alengka saat ini bisa beda. Tetapi  Perwira Alengka oleh
Empu Supo, Aurang Zep, Alay Grey Span dan Kahil Gibran dilarang
membeberkan konsep Eyang Soeharto itu sebab nanti Eyang keenakan dibela
oleh Perwira Alengka dan Gus Dur. Terutama Alay Grey Span yang protes
paling keras tentang konsep itu, sebab dia merasa konsep itu, apalagi
bila diterapkan dengan cara radikal oleh kelompok ultra kanan,  sangat
melanggar HAM cina marjinal. Tapi kalau babat Konglo bangsat yaah amin
amin saja katanya. Sebab konglo model The Kian Seng itu lebih banyak
mudaratnya dari pada manfaatnya bagi Cina Marjinal.

Jika kemudian Pandita mengatakan bahwa Neo TDA akan menuduh, merekayasa,
memfitnah, menangkap atau membunuh rakyat atau mahasiswa, itu sangat
menusuk hati Perwira Alengka. Itu permainan kuno dan sangat kami tabukan
lagi. Di era transformasi informasi yang demikian canggih saat ini,
tidak ada lagi rahasia yang dapat di sembunyikan. Dan sebagai informasi,
Militery life/law is not that simple as you think.

Kalau Pandita tidak simpati sama Neo TDA, tidak simpati sama Mahapatih
Wir, wajar wajar saja orang berdemokrasi. Namun mohon jangan main
generalisasilah. Perwira Alengka sudah menyabung nyawa di Milis ini,
hanya demi citra dan image Neo TDA. Mohon janganlah jelek jelekkan terus
Neo TDA sampai akhirnya anak buah kami frustasi dan akan menjadi benar
benar jelek. Dilapangan, selaku komandan kompi atau pleton, perintah
kami kepada anak buah kami bukanlah TEMBAK SAJA. HAJAR TERUS !.
Melainkan :  Tolonglah kami komandan komandan mu ini. Kami punya istri,
kami punya anak. Walau kita di hina, dicaci, dihujad . sabarlah. Jangan
emosi. Kalau kalian emosi, apakah kalian tidak kasihan kalau komandanmu
ini sampai di copot atau di pecat untuk membela kalian. Sebab di militer
tidak ada prajurit yang salah. Yang salah adalah komandan.

Jika Pandita kagum pada Gus Dur, kami juga demikian. The Merciful and
most compasionated Gus Dur saja tidak menghujad kami Neo TDA dan masih
memberikan kesempatan pada kami untuk berbenah diri, begitu pulalah
hendaknya Pandita di milis ini. Dan untuk selanjutnya mohon jangan bawa
bawa nama Gus Dur seorang tokoh yang amat Perwira Alengka hormati dalam
menghujad Neo TDA. Soal siapa yang lebih dekat dengan Gus Dur, antara
Perwira Alengka atau Pandita, belum dapat ditentukan.

Hidup Neo Alengka yang tidak perlu bingung pada Gus Dur.
Hidup Neo TDA yang kini berjuang memulihkan citra.

Perwira Alengka.
Di
Neo Alengka.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 23 Dec 1998 jam 07:26:41 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke