---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- CATATAN INTERNAL NETTERS INDONESIA 1998 Datang senja 1998, banyak yang terjadi, banyak sekali yang menyedihkan, tetapi juga ada yang kita syukuri. Indonesia mempunyai resilience yang tidak sangat hebat, tetapi masih ada. Walau penguasa mengobok2 negara, Indonesia kita tetap ada, tetap suatu kesatuan. Yang bila dilihat dari kacamata luar sangat cacad, tetapi pandangan dari atas perbukitan sini, tidak banyak berbeda. Jagad Besar kita cukup liat menerima hantaman2 kultural yang luar biasa tahun ini. Saat Jagad Kecil seperti hilang pegangan, Jagad Besar yang tak peduli ini tetap tegak cuek. Menahan keterlaluan2 kultural yang merusak tidak terlalu besar. Kita bisa berdebat tentang relativitas kata terlalu besar , karena definisi2 HAM, satu nyawa pun sudah terlalu besar. Dan benar. Dalam kehidupan kita sehari2 , apalagi satu nyawa, satu kehormatan diri, satu dignity pun tidak boleh kita langgar. Dilain sisi, relativitas makro, (maaf jika ini dilandasi semangat nJawa) kita bersyukur bahwa negara kesatuan Indonesia masih tegak. Tidak kurang2 usaha2 pemimpin2nya untuk mengobok habis2an. Pengobok akbar, seperti soeharto, prabowo, hartono, harmoko dan pada level berikutnya habibi, wiranto, dan pemimpin2 lain, tentu bertanggung jawab secara disproportionate pada kehancuran, dibanding si bejo tukang ojeg. Tetapi kita masih ada, kita masih segar, walau banyak lebih miskin. Kita wajib mensyukuri hal2 seperti ini. Count our blessings. JAGAD KECIL KITA Kondisi Indonesia pada awal 1997 dan sebelumnya, sangat memprihatinkan. Soeharto berhasil mengenali watak bangsa ini, dan menjeratnya. Kondisi pemikiran begitu macet dan gersang, Jagad Kecil kita penuh dengan slogan2 palsu dan slewo2an, bak kondisi di tempat pelacuran. Palsu, kasar dan sangat ragawi. Saat ini , sekali lagi relatif, tetap banyak sekali racun2 menguwar. Selain sisa2 racun jahat dosomuko yang lama, juga ada racun2 baru. Racun fanatisme Islam, variant pinggiran dari agama Islam kuno (lihat bawah) , yang desperate miskin marah dan mental kere. Daya tariknya saat ini sama seperti komunisme, yang seolah membela tetapi menunggangi. Hampir saja sangat dominant di tahun 1998, karena suara pengkristalisasinya, para pemimpin ambisius hampir berhasil merebut posisi flag-bearer. Racun militerisme, kekuasaan yang hirarkis patriakal kaku satu dimensi. Raw power ini sangat efektif untuk menguasai keadaan, sehingga dalam keadaan kaco pastilah very tempting. Padahal pada level Jagad Kecil Mikro Individu, persoalannya selalu sama saja ambisi kekuasaan pribadi. Kekuatan Birokrasi kaku linier, sisa2 era soeharto. Diwakili oleh habibi sang presiden, kekuasaan ini juga mempunyai efektivitas untuk menguasai keadaan. Dengan slogan satu baris = konstitusional ! Merebut kekuasaan melalui senjata administrasi. Baramuli adalah conto sangat jelas untuk birokrat murni karena orang ini tidak punya konstituen lain, beda dari yang lain yang sedikit banyak bisa nunggang macan 2lain. Dan tentu saja, black archetype yang selalu muncul setiap kali ada retakan di Jagad Kecil. Jarah, perkosa, rampog. Ini dilakukan oleh siapa saja, tetapi masalahnya ada di para fasilitator, panitia. Yang mengobok orang2 pinggiran yang tak punya apa2 selain badan, para urban poor. Yang dijebak / set up oleh pelaku2 besar, baik itu dari Islam fanatik, dari birokrat, dari militer. Maupun yang pure bisnismen anarki, dari hercules bos preman itu sampai para pemuda2an pancasial. Tetapi sesungguhnya banyak sekali orang2 yang menjarah tahun ini, bukan menjarah fisik kathon, tetapi menjarah cash account perusahaan2, baik perusahaan swasta maupun bumn. Pada saat ruwet begini, siapa yang punya access pada cash account meroyok dana pribadi. Dalam semua assault diatas, dalam tahun ini ada waktu2 dimana Pandita sendiri melihat abyss, jurang tanpa dasar looming didepan mata. Kehancuran tak terelakkan. Seandainya saja ada cantrik yang bakat puisi , pasti dapat dilahirkan banyak karya sastra, waktu denawa2 Jagad Kecil Makro Universal lepas. Baik denawa dari soeharto-gang, militer muda , pure blackies yang wathon suloyo. Maupun malahan denawa2 individu, dari mereka yang diperlakukan sangat tidak berbatas, dari mereka2 yang hilang pegangan. Tetapi kita melaluinya tahun ini. PERAN INTERNET. Setiap manusia selalu bias pada apa yang dilakukannya. Dokter spesialis paru akan melihat vlek2 terus disemua foto paru pasien. Montir mobil selalu mendengar klik2 suara mesin yang tidak wajar. Dan netters, sebagai special-breed of people, terlalu sering menganggap posting2 di internet terlalu serius. Ini adalah catatan awal untuk suatu fenomena yang menarik sejak 1997 di Indonesia (dan dimanapun didunia) , klep lepas untuk Jagad Kecil Individu. Kita bisa melepaskan uneg2 pemikiran maupun just any-old-thing dari pikiran kita ke internet. Klep Jagad Kecil inilah yang penting. Teknologi yang membebaskan, seperti dulu telepon membebaskan manusia untuk berbicara bukan hanya dengan tetangga. Dalam satu tahun ini, tulisan2 yang melalui Apakabar si John, maupun versi stuttgart, di Siar, di KdP dan semua site lain, SCI, merebak sangat luas. Dan semua varian muncul, dari yang ngotot soal ngentot (SCI) sampai pemikir2 filosofis (dari fanatik Islam/Kristen sampai milis spiritual nya Hudoyo). Dan tengah2nya, para politikus partisan. Yang awalnya cuma ngipas emosi untuk rame2 (mana Jusfiq ?) sampai yang serius ingin merubah dunia, si wiseman yang tak kenal lelah. Sampai para moderat, Pandita sendiri berharap disitu. Perwira Alengka (salam untuk artikel terakhir anda), Ki Mangir, Proletar, dan banyak sekali yang lain. Tak ada studi, tetapi jelas bahwa tulisan2 netter , yang awalnya di dominasi John Apakabar, dan sekarang meluas, memberikan sumbangan kepada Jagad Kecil yang waras. Dengan segera menuliskan sesuatu yang mengganjal, melepas katub agar tak perlu mengumpulkannya jadi Das Kapital, tetapi juga perlu untuk orang lain yang membacanya bahwa varian macam ginian ada. Dan informasi. Pada saat2 konflik panas, berita2 di SCI sangat membantu bagi mereka yang sedang di luar negeri. Media komunikasi baru, seperti halnya telepon, televisi, maka internet membuka kemungkinan2 baru, instant publishing. Idea2 yang tidak harus dipotong dalam sound-bites sloganistik, dapat di airing tanpa sensor tanpa waktu delay. Dalam negara yang terbuka ini adalah revolusionary. Dalam file Apakabar, kita bisa melihat berbagai teriakan yang saling silang. Dan secara makro itulah benefitnya. Perwira Alengka menyuarakan suara seorang militer, jarang terdapat, sehingga menarik. Wiseman menyuarakan seorang fanatik sempit agama dan kelompok, yang jarang pula bersedia bersusah payah menuliskan logika2 nya. Proletar menyuarkan suara seorang musafir yang rindu tanah air, not bad. Ki Mangir dan Hudoyo dan banyak yang lain membawa pemikiran2 idea. Semuanya kita setuju atau tidak bukan soal besar, toh artikel2 ini tidak dimaksudkan untuk menjadi jurnal pengubah dunia. Bahkan tulisan2 yang sangat menyengat kelompok atau malah fitnah besar (seperti dari wiseman) , juga tidak apa2. Adage lama mengingatkan orang bahaya pena lebih dari pedang. Ini adalah adage kuno (lahirnya waktu jaman nulis masih pake buntut bangau, dan buta huruf masih 90%). Jaman kedepan, information glut memasang filter kuat, hanya real messages. Kalau di abad pertengahan, teriak2 : Kiamat sudah dekat bisa bikin beken orang, sekarang mah tidak. Tidak, internet adalah wahana kesetaraan manusia, dimana suara seseorang tidak lagi suara raja suara dewa, maupun suara setan. Anda baca anda percaya atau tidak percaya sangat bebas. Tentu saja ada beberapa benturan misalnya soal smut, pornografi. Karena dibaca anak2, yang belum mempunyai filtering capability (seandainya hanya untuk dewasa, tidak apa2) dan crime. Tetapi ini adalah debat internet secara umum. INDONESIA. Seperti Pandita tuliskan dalam diskusi dengan John, di internet kita tidak akan melakukan revolusi sosial. Tidak dapat dipercaya bahwa seorang netter, yang membuang waktu hanya sebagian kecil saja, dapat mempengaruhi dunia. Tetapi ini tidak berarti bahwa posting tidak penting. Melihat tulisan2 di internet Indonesia, kita selalu dapat melihat cross-section dari pemikir Indonesia. Mungkin kolom2 surat pembaca di berbagai tabloid juga memenuhi fungsi ini. Tetapi kesegeraan waktu sangat berbeda. Dan keterbukaan. Jika kita perhatikan, tidak mudah mempertahankan posisi yang bigot (sangat tendensius sepihak) dalam suatu artikel panjang. Dalam suatu pidato lebih mudah. Sedikit spesialis yang bertahan, misalnya kasus wiseman, dia mungkin salah satu yang paling konsisten berpihak pada Islam fanatis. Banyak sekali ucapan kemarahan ditujukan kepadanya. Tetapi sesungguhnya, dari beberapa artikelnya , tampak dia sangat lemah logikanya. Mungkin Fadli Zon dapat berbuat lebih baik dari dia, tetapi sangat itupun sangat diragukan. Untenable position sangat sulit dibuka open tanpa malu2in diri sendiri. Memberikan jendela ke pemikiran seorang bigot. Lalu Perwira Alengka, Pandita selalu merasa fondness pada netter ini, yang sayang sekali selalu diterima dengan salah faham olehnya. Perwira membawakan suara young turks, dan ini sangat bagus, karena dia jujur dengan elan satria nya. Kegalauan jiwa, dan perjuangan untuk rasionalisasinya adalah unik. Dan jarang terdapat. Walau tidak benar, versi satria alengka nya sebenarnya juga untenable position. Apa yang menggaris bawahi kesamaan netter2 ini ? Karena mereka mau menceritakan sesuatu, suatu visi, suatu renungan. Jika jujur, hal ini sudah valuable. Jika tidak, hanya akan menambah statistik database. Dan yang terbaik adalah, anda tidak perlu membaca semuanya. PESAN PANDITA Semuanya ini adalah elemen Jagad Besar untuk pembentukan Kesetaraan Manusia, landasan yang terpenting bagi suatu society, termasuk Indonesia. Pada era soeharto, tidak ada sama sekali landasan untuk kesetaraan, semua di gradasi dalam tingkat2. Di militer ini natural, ada ranking2 yang mati kaku. Di perusahaan2 ini tidak natural tetapi masih workable, terutama jika anda penganut manajemen Jepang atau konglomerasi ala Harold Geneen ITT. Banyak perusahaan dapat dikelola begini. Tetapi di masyarakat umum ? Dimana RT, RW , lurah camat terus keatas berperan sebagai mandor bertingkat ? Tentu saja, eksperimen sosial begitu sudah sering dicoba, struktur Hindu misalnya. Reduksi ke denominasi terkecil ini yang tidak mungkin di jaman modern sekarang. Di jaman dulu , kultur primat sangat mungkin, sampai kerajaan feudal pun sangat mungkin. Di jaman kerajaan Islam maupun Kristen sangat mungkin. Walau Nabi Muhammad saw sangat progresif dalam masyarakat yang dikehendakinya, tetapi para khalifah sesudahnya kembali ke bentuk feudalisme, bahkan bentuk yang paling kasar. Jesus tidak spesifik mengajarkan masyarakat negara, tetapi dari ajaran individu nya kita lihat dia sangat menjunjung Kesetaraan Manusia. Pelaksanaan kerajaan Kristennya adalah versi Romawi. Semangat evangelis katolik membuat salah faham sejarah luarbiasa. Logika evangelis ini jadi racun terus bagi pemikir agama Islam Kristen yang malas2, anakronistis. Sejarah Kesetaraan Manusia memang lahir sangat baru, 200 tahun yang lalu di Perancis dan Amerika. Dalam bentuk yang masih primitif, dan diperbaiki terus. Bukankah ini kebarat2an dan karenanya salah ? Tidak, kultur manusia adalah sesuatu yang bergerak maju, bukan statis seperti yang banyak diajarkan oleh pemikiran Asia. Memang benar di Cina pada tahun 1000 dan 1500 tidak banyak berbeda, dengan 1900 pun. Hal ini membiasakan orang Cina untuk meng-glorify masa lalu, dengan kitab2 ajaib seng-kun . Juga kultur Islam, yang repotnya lagi memang lebih bagus dijaman dulunya. Sejak abad 15 bukan hanya kerajaan Islam memaksakan feudalisme umum-jelek, kultur nya juga dibekukan, sampai kini. Tetapi dalam abad ini, perubahan sangat dahsyat dalam kemanusiaan. Dimulai dengan keadaan yang masih berat, dalam pertengahan abad, 1950 an , dunia mengalami dua PD, dan strata sosial Amerika, sang pemenang, diubah total oleh teknologi. Mobil , freeway, teve, radio, nuklir. Dan mereka menyebarkannya ke seluruh dunia. Melalui perdagangan, teknologi maupun tekanan kultural lewat perang , infiltrasi intel atau apa saja. Mengapa ? Siapapun akan melakukan hal yang sama. Amerika bukan dewa. Goncangan kultur 1960an, goncangan politik 1970an dan selain itu perkembangan teknologi yang tidak karu2an. Bayangkan, kehidupan antara 1850 1900, 1900 1950, dan sekarang 1950 2000. Perubahan ber akselerasi luar biasa. Dan ini akan terjadi di 2000 2050 secara jauh lebih dahsyat. Dalam perjalanan ke era itu, tentu saja suatu negara berdaulat boleh memilih sendiri jalurnya, dari jalur Korea Utara yang pet-tutup, jalur Brunei yang paling menguntungkan sultan saja, jalur Serbia, jalur Sudan, jalur Cina. Tidak semuanya mungkin untuk Indonesia. Tetapi memilih jalur yang lebih rendah sangat bisa. Walau kita bisa mengambil jalur Cile misalnya, tetapi memilih Kuba bisa saja. Paling pol-bawah adalah jalur Saddam Irak atau Korut. Raja lalim dan anti Kesetaraan. Pilihan2 ini , kembali pada pemikiran diatas, tidak secara rata jatuhnya pada semua orang Indonesia. Artinya, habibi sangat berpengaruh (bukannya dia mampu memilih yang lebih baik, tetapi kalau mau merusak dia sangat mampu), Wiranto idem (jika dia menyuruh militernya untuk ngobok). Soeharto (katanya gus Dur !) juga. Sebaliknya si bejo blas ndak berpengaruh. Biar mati njengking, yang nangisi cuma si Iyem istrinya. Tentu saja ini tidak salah, selalu demikian. Justru ini premis mengapa feudalisme merupakan sistem yang cocok dengan alam , alam manusia kuno. Dan juga merupakan kesulitan terbesar bagi agama Islam modern, yang selalu berkiblat ke masa lalu, dan melihat contoh2 yang sama, feudalisme. Walau berjanji akan baik jika jadi raja pemimpin, pokoknya serahin dulu deh seperti lagu KISDI masa kini. Janji2 semacam ini sudah anakronisme sekarang. Khalifah Islam, seperti halnya kerajaan Katolik, Protestan dan Anglikan versi abad pertengahan adalah anakronisme. Kita bahas hal2 ini lain waktu. Kembali ke topik internet, ini adalah tool modern yang dapat masuk ke Jagad Besar (=mempengaruhi perubahan dunia) kearah Kesetaraan Manusia. Dimana habibi dan wiranto, walau gung-liwung2, dan bisa menggedor donya, tidak dapat dibedakan haknya dari si Bejo dan Iyem. Boleh lebih kaya, karena lebih berprestasi, tetapi tidak boleh membunuh Bejo atau memperkosa Iyem, tanpa hukuman yang sama seandarinya terjadi sebaliknya. Konsep ini tampak tidak sreg, lha masak Gus Dur disamaan Bejo ? Kita menghargai gus bukan karena kelahirannya, atau gendutnya atau butanya, tetapi karena apa yang dilakukannya. Kesetaraan Manusia tidak sejalan juga dengan militerisme. Kaku mekongkong seperti militer ini kegunaannya terbatas. Seperti halnya budaya satpam tidak bisa diterapkan dalam personalia umum. Ini juga tidak sejalan dengan budaya confucius yang mendasari budaya Cina didunia. Atau budaya Jawa. Ini sejalan sebagian dengan budaya keluarga Minang dan Batak, yang egalitarian. Sejalan dengan budaya Dani primitif. Terpenting, ini adalah satu2nya jalan jika negara Indonesia akan berupa negara terbuka. Karena Kesetaraan Manusia adalah jalan pedagang, basis dari Ekonomi Global. Kita tak perlu ngeper ketakutan sama analis2 Lehman dan Salomon (yang rata2 junior2 itu) tetapi jangan lalu melawannya dengan meditasi atau memanjatkan doa kepada Tuhan, doang. Kesetaraan Manusia tidak berarti kita tidak bertempur. Tetapi bukan pertembpuran militer, melainkan pertempuran NBA atau IBF. Knowledge matters. Ini jalan yang berat dan susah, lebih mudah ber-insaalah dan blong2an maju secara jantan . Kalau kalah tetap ngejago, toh yang mbayar generasi berikut. Persis gaya ex-menperindag tunky waktu membela mobnas dulu ( senjata rahasia sudah ditangan, WTO pasti keok ! katanya sambil cengar cengir, ternyata yang ditangan cuma gombyoknya sendiri : onani !). Gemboran2 ini sekarang laris lagi di kalangan habibi , si Tanri dulu dengan takzim : insaalah, penjualan BUMN milyardan dolar ! . Nyatanya ? jualan ke kroni doang (ispat maling BRI itu) dan hasilnya ? 2 % atau 0,2 % ? Tidak dihukum. Ya ulangi saja terus. Banyak tindakan menteri itu memang inevitable, terpaksa di terus2kan. Lha piye maneh. Kesetaraan Manusia adalah basis dari hubungan modern manusia. Internet memberikan hal ini. Pada saat menulis ini, Pandita sama saja dengan siapapun yang mengakses internet. Dan siapapun sama saja kepada Pandita. Dan kepada semua netters, anda juga semuanya dipersilakan untuk meneruskan apa yang anda percayai perlu untuk ditulis atau dibaca. Tentu saja sejauh tidak melanggar ketentuan sang Administrator. Pandita anjurkan untuk bersikap jujur pada tulisan anda, satu2nya batasan untuk tulisan yang menarik. Walau anda menyembah setan pun, jika jujur bisa menarik, apalagi sekedar menyembah soeharto, habibi, icmi. Jika tidak menarik, yah tidak apa2, cuman gak dibaca aja. Belajar yang terbaik adalah sambil berjalan, belajar bahasa Inggris sambil dating cewe bule, belajar sepeda sambil buru2 mau dolan, belajar JavaScript sambil bikin applet untuk homepage. Belajar Kesetaraan Manusia sambil misuh2 dan ngomel2 di internet. Cepet bisanya. In the meantime, you got wiser, tetapi tetep saja boleh jadi apapun. Salam Akhir Tahun 1998 Kumbokarno. Sang Pandita. 23 / 12/ 1998 ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 23 Dec 1998 jam 07:27:29 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
