----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


DEMO KEMBALI GOYANG INDORAYON

        MEDAN (SiaR, 10/2/99), Aksi masyarakat yang menghendaki ditutupnya PT Inti
Indorayon Utama (PT IIU), tampaknya terus bergulir. Sebelumnya pada 30
Januari 1/99, sekitar 5 ribu massa telah melakukan longmarch dari Simpang
Sirait Uruk (simpang masuk dari jalan Lintas Sumatera sekitar 5 KM sebelum
kota Porsea) menuju ke lokasi pabrik PT IIU di Sosor Lodang. Demonstrasi
yang diikuti ibu-ibu, remaja, pemuda dan orangtua diiringi dengan nyanyian
'O Tano Batak' dan
pekikan "Tutup Indorayon".

        Pada Senin (8/2) kemarin ribuan  massa kembali melakukan demonstrasi di
Simpat Sirait Uruk dengan tuntutan yang sama. Massa demonstran diramaikan
oleh para pelajar SLTP dan SMU yang telah memenuhi Simpang Sirait Uruk sejak
pukul 07.30 WIB. Para demonstrasn menggelar spanduk yang bertuliskan "Tutup
Indorayon" dan "Tolak Audit".

        Maraknya aksi demonstrasi masyarakat yang meminta ditutupnya PT IIU,
membuat PT IIU belum lama ini menyurati Memperindag Rahardi Ramelan. Menurut
Mulia Nauli, Manajer Umum PT IIU, kepastian audit terhadap PT IIU akan
menjawab keresahan masyarakat, baik yang pro maupun yang kontra terhadap PT
IIU. Namun Mulia nampaknya tidak memperhitungkan psikologi masyarakat
Porsea. Soalnya bagi mereka, ada audit atau tidak, bukan di situ letak
masalahnya.

        Beberapa warga Porsea mengungkapkan bahwa sejak kehadiran PT IIU,
masyarakat tak hanya menerima bau busuk limbah pabrik dan asap chlorine
yang mempercepat proses korosi atas-atap seng rumah mereka.

        Simak yang dituturkan Diris Sirait, seorang petani dari Dolok Nauli, Porsea
kepada SiaR. "Setahun sekali sekarang kami harus membeli atap seng gara-gara
asap chlorine Indorayon," ujar Diris sembari menunjukkan atap seng rumahnya
yang sudah karatan.

        Menurut Diris Sirait, sebelum Indorayon beroperasi, atap seng mereka
mampu bertahan sampai 4 tahun. Diris juga menuding bahwa Indorayon telah
menebangi hutan-hutan di kawasan Aek Mandogi, akibatnya banyak mata air yang
mati. "Sawah-sawah kami jadi kering, kalau tidak ada hujan, sebutir padipun
tak bisa kami panen," ujar Diris Sirait, yang panen pada 1998 kemarin,
menunggak utang jutaan rupiah gara-gara gagal panen.

        J. Gurning (60) meratap karena di sekitar pabrik Indorayon, kini marak
praktek prostitusi. Yang lebih disedihkan lagi, sejak Indorayon beroperasi,
masyarakat Porsea terbelah menjadi yang pro dan kontra terhadap Indorayon.
Akibatnya pesta-pesta adat di Porsea, kini tak lagi dihadiri lengkap oleh
sanak kerabat. "Saya sedih, kehadiran Indorayon ternyata juga telah merusak
adat orang Batak," ujar J. Gurning.

        Jadi tak usah heran, jika di masa-masa mendatang, demonstrasi menentang
kehadiran Indorayon akan terus berlanjut. Barangkali hal-hal ini yang luput
dari perhitungan Indorayon. Soalnya ketika dengar pendapat dengan DPRD Sumut
belum lama ini, Dirut PT IIU, Ir Herbun Darlin, selalu mengajukan jumlah
kerugian yang harus diderita PT IIU ketika tidak berproduksi.

        "Selama 4 bulan tidak berproduksi, kami kehilangan pendapatan
sekitar $US 32 juta," ujar Herbun Derlin.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 10 Feb 1999 jam 11:19:37 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke