----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 05/II/11-17 Februari 99
------------------------------

BUNUH DAN CULIK DI ACEH

(POLITIK): Rakyat Aceh makin dicekam ketakutan. Teror merebak di mana-mana.
Aksi penculikan dan pembunuhan terjadi lagi.

Aceh memang bukan Aceh jika tak terjadi pergolakan. Setelah Ahmad Kandang
dan kawan-kawan mengamuk di Lhokseumawe dan menewaskan sejumlah anggora
ABRI, kekerasan makin brutal di Aceh.  Setelah pembantaian Idi Cut, Aceh
Timur, Rabu, 3 Februari lalu. Teror, ancaman pembunuhan dan penculikan
merebak di Aceh Timur, Pidie, dan Aceh Utara. Insiden Idi Cut adalah
pembantaian massa yang mengikuti Dakwah Aceh Merdeka di Idi Cut.

Nah, teror yang merebak tidak hanya diterima masyarakat biasa, namun juga
para aktivis LSM, pengacara, wartawan, anggota DPRD dan sejumlah tokoh
masyarakat Aceh.

Ketakutan masyarakat Kecamatan Kuta Makmur Kabupaten Aceh Utara, misalnya
melebihi ketakutan yang mereka rasakan saat berlakukan Daerah Operasi
Militer di masa lalu. Mereka ketakutan karena ancaman dan teror dari
orang-orang tak dikenal. Teror lainnya dirasakan masyarakat dengan datangnya
pasukan ABRI dan menempatkan peralatan perang di tengah pemukiman penduduk.

Banyak pula warga yang mengaku sering didatangi aparat tanpa kepentingan
yang jelas. Ada yang cuma untuk membentak-bentak tanpa ujung pangkal.
"Hal-hal seperti itu membuat suasana di desa kami kurang nyaman," kata
seorang warga Seuneubok Aceh Idi Cut, Aceh Timur.

Nasib sial menimpa Anwar Yusuf, 23 tahun, seorang relawan Forum Peduli Hak
Asasi Manusia (FP-HAM) Banda Aceh. Ia diculik aparat ABRI dan hingga kini
tak pernah kembali. Anwar nampaknya menjadi orang pertama yang diculik dan
hilang sejak Aceh dicabut sebagai DOM. Anwar, menurut kesaksian ibunya,
dijemput petugas dari Koramil Idi Reyeuk, Minggu, 7 Februari lalu. Namun,
hingga Selasa, 9 Februari, Anwar tak diketahui keberadaannya. Keluarga Anwar
melaporkan hilangnya Anwar ke FP-Ham di Banda Aceh. Namun usaha mencari
Anwar hingga kini belum membuahkan hasil.

Nah, menurut penuturan ibunda Anwar, anaknya dijemput petugas bernama Rusli
Malim, orang yang memang diketahui sebagai anggota intel Koramil Idi Rayeuk.
Kerena anaknya tak kunjung kembali, ibunda Anwar mendatangi Koramil Idi
Rayeuk, namun petugas Koramil mengaku tak tahu menahu dan malah menyarankan
dicek ke Polres Aceh Timur. Di Polres itu Anwar juga tak ada.

Teror terutama memang dialami warga yang bertempat tinggal sekitar Markas
Koramil Idi Cut. Sejak terjadi insiden berdarah yang menewaskan belasan
orang itu, warga desa tak berani keluar rumah pada malam hari. Munculnya
banyak tentara dan berdirinya sejumlah pos komando ABRI mengingatkan warga
Aceh di masa DOM dulu. Masyarakat Idi Cut mengaku mengalami trauma yang luar
biasa karena suasana perang itu. Sejumlah kios yang berada di sekitar lokasi
pasukan hingga kini belum berani membuka kiosnya.

Tentara juga masih saja tega menteror para janda yang tergabung dalam Forum
Organisasi Perempuan Janda Korban DOM se-Aceh (Forjadom). Nah, para janda
yang jumlahnya puluhan itu didatangi dan diancam aparat ABRI. Mereka ini
adalah para janda yang suaminya mati atau hilang semasa DOM.

Pergolakan di Aceh nampaknya tak akan padam dalam waktu dekat. Masyarakat
Aceh bahkan, mengikuti jejak Timtim, meminta dilakukan referendum. Rakyat
Aceh memang pantas kecewa pada Republik Indonesia. Dulu, mereka dengan
sukarela menggabungkan diri dengan Indonesia, setelah Belanda selama
beratus-ratus tahun tak mampu menaklukkan wilayah itu. Waktu itu Sultan
Iskandar Muda, bangsawan yang amat dihormati di Aceh menyatakan Aceh berada
di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kekayaan alam Aceh, yakni
minyak dan gas juga ikut diserahkan kepada pemerintah pusat. Namun, apa
balasannya? Rakyat Aceh malah makin miskin, Aceh bahkan pernah jadi bagian
propinsi Sumatra Utara, sebelum kemudian diputuskan menjadi daerah Istimewa.
Pusat militer malah dipindah ke Medan. Kodam Iskandar Muda dihapus.

Yang paling menyakitkan rakyat Aceh adalah penambangan minyak dan gas yang
tak memberikan peningkatan kesejahteraan bagi mereka. Padahal, dengan
kekayaan tambang minyak dan gas yang dimilikinya, Aceh sebenarnya tak jauh
berbeda dengan Brunei Darusalam. Sekolah dan rumah sakit gratis, jaminan
sosial tak jadi soal dan rakyatnya bisa hidup makmur. Kenyataannya, Aceh
yang tak pernah ditaklukkan Belanda, menderita dan ditaklukkan Indonesia.
Makanya, rakyat Aceh memberontak, sebenarnya bukan soal politik melainkan
soal ekonomi. Orang Aceh memang miskin di atas kekayaan mereka sendiri.
Seperti ayam yang mati kelaparan di lumbung padi. Pantas kalau mereka
memberontak. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 11 Feb 1999 jam 22:55:53 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke