---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 05/II/11-17 Februari 99 ------------------------------ KORBAN PASAL 510 (POLITIK): Turun pertama kali setelah Idulfitri, aktifis FAMFRED langsung dihajar dan ditangkapi. Mereka dijerat pasal tentang arak-arakan. Pasal 510 KUHP memakan korban lagi. Kali ini yang jadi korbannya adalah para demonstran Famred. Dari 55 orang yang diadili, 51 diantaranya divonis untuk membayar denda Rp2750. Sedangkan 4 orang dinyatakan bebas karena tidak terbukti. Keputusan tersebut dikeluarkan oleh PN Jakarta pusat ketika mengadili demonstran dari Front Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi (FAMRED), Rabu (10/2). Mereka disidang di dua ruangan yang berbeda. Di ruang V menyidangkan 29 mahasiswa, sedangkan ruang VI secara bergantian 11 dan 5 mahasiswa dengan didampingi oleh penasihat hukum Yuana Berliyanthy SH dan Fatmawati dari LBH Jakarta. Ke 55 mahasiswa itu didakwa melakukan unjuk rasa tanpa izin seperti tertuang UU No. 9/1998 juncto pasal 510 KUHP. Yaitu UU unjuk rasa dan pasal mengenai pawai tanpa ijin dengan ancamam hukuman sebulan dan denda maksimal Rp10 ribu. Para demonstran ini ditangkap oleh pasukan gabungan ketika mereka bersama-sama ratusan mahasiswa yang lain melakukan demonstrasi di Semanggi, Selasa (9/2). Demonstrasi yang hanya diikuti oleh sekitar 300 mahasiswa itu rencananya akan menuju ke Gedung MPR/DPR untuk memprotes kelambanan rejim Habibie dalam mengusut tuntas Soeharto. Kelambanan tersebut dinilai mereka disebabkan oleh watak rejim Habibie yang masih menjadi penerus rejim lama. "Kerusuhan-kerusuhan yang dipicu oleh provokator menandakan sistem dan ideologi kekerasan selama Soeharto tetap utuh tak terkoyakkan dan harus diberantas dengan semangat reformasi," demikian tulis pernyataan Famred. Namun, belum jauh mereka long march dari kampus Atmajaya pasukan ABRI sudah menghadangnya dan mendesak untuk kembali ke kampus Atmajaya. Benturan keras aparat keamanan tersebut berhasil memporakporandakan barisan Famred. Sebagian dari mereka digebuki hingga luka-luka dan sebagian yang lain lari kocar-kacir. Mahasiswa yang tertangkap langsung dinaikkan ke atas truk militer dan dilarikan ke markas Polda yang tidak jauh dari tempat kejadian. Mereka diinterogasi hingga tengah malam dan ditahan bersama tahanan kriminal yang lain. Dari sejumlah fakta yang berhasil dikumpulkan Xpos menyebutkan bahwa memang ada kesengajaan dari aparat keamanan untuk menghabisi demonstrasi mahasiswa waktu itu. Indikasi yang berhasil ditemukan, ternyata sebelum mahasiswa ditangkapi, aparat keamanan telah mempersiapkan pentungan di lokasi kejadian yang akan digunakan untuk mendiskreditkan demonstran. Supaya, mengesahkan aparat melakukan tindak kekerasan. Dan yang lebih mencurigakan lagi, adalah kehadiran 13 truk yang salah satu truknya berisi pasukan berpakaian preman dan menyebar di arena konflik di sekitar Semanggi itu. "Tampaknya ada skenario khusus untuk menghancurkan barisan mahasiswa. Untung saja tidak ada mahasiswa yang terpancing provokasi mereka," kata salah seorang mahasiswa. Dan kesannya memang, peristiwa di Semanggi Selasa lalu itu sangat berat sebelah. Jumlah tentara tampak lebih banyak dibandingkan para demonstrannya. "Sudah begitu, militer masih pakai senjata," katanya. Pasukan Famred yang ikut demo Selasa lalu itu tidak ada seperlimanya dari aksi-aksi mereka sebelumnya yang mencapai ribuan orang. Sedikitnya peserta aksi Selasa itu, menurut salah seorang aktifis Famred dikarenakan sebagian masih sibuk mengikuti kuliah atau tes di kampusnya masing-masing. Namun sumber lain menyebut, bahwa belakangan sedang terjadi polarisasi pemikiran mahasiswa di kampus. Sebagian mahasiswa konon sudah mulai berpikir realistis untuk mendukung dan mengawasi Pemilu. Sementara sebagian yang lain tetap terus menolak produk-produk Orba termasuk semua hasil sidang MPR, seperti yang selama ini mereka suarakan. "Tampaknya perlu ide dan kemasan baru gerakan mahasiswa, agar masyarakat maupun simpatisan sendiri tidak bosan dan jenuh dengan acara demonstrasi itu," kata salah seorang demonstran senior. Sumber ini menolak anggapan bahwa melempemnya gerakan mahasiswa setelah Idul Fitri ini merupakan keberhasilan pemerintah Habibie dalam meneror gerakan mahasiswa. Menurutnya, para aktifis mahasiswa sekarang sedang bingung mencari momentum yang pas untuk kembali ke jalan. Sejumlah kerusuhan di berbagai tempat menurutnya juga merupakan salah satu pertimbangan tersendiri untuk terus turun ke jalan. "Mereka sekarang diberi beban tambahan selain harus berhadapan dengan aparat keamanan yang represif, mereka diharuskan berpikir, bagaimana supaya aksi mereka tidak dijadikan picu untuk membuat kerusuhan oleh pihak lain," katanya. Namun begitu, harapan masyarakat terhadap mahasiswa untuk selalu menjadi kekuatan kontrol yang relatif independen masih besar. Apalagi kematian sejumlah rekan mahasiswa dalam perjuangan reformasi beberapa waktu lalu juga merupakan tanggung jawab mahasiswa untuk meneruskan tujuannya. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 11 Feb 1999 jam 23:18:00 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
