----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 05/II/11-17 Februari 99
------------------------------

SISTEM KEUANGAN GLOBAL

(EKONOMI): Setiap kali ada krisis, muncul keinginan merombak sistem keuangan
global. Sayangnya, selalu terlambat.

Sistem keuangan global sudah saatnya direformasi. Suara ini, datangnya bukan
dari pemimpin-pemimpin negara dunia ketiga. Tapi, dari para pemain utama
kapitalisme global. Seperti dikutip The Economist, Bill Clinton menginginkan
"penyesuaian arsitektur keuangan internasional dengan kebutuhan abad ke-21."
Sedangkan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair menginginkan "Bretton Woods
yang baru bagi milenium baru."

Sebetulnya ada banyak keinginan untuk mendesain ulang sistem keuangan
global. Ada segudang "cetak biru," "kerangka kerja," "rencana aksi," dan
'agenda'. Di samping, kelompok kerja, berbagai dewan dan komite-komite yang
selama ini diusulkan. Hanya saja, sejarah mengatakan upaya-upaya ini
seringkali tidak menghasilkan sesuatu yang berarti. Tuntutan bagi
terbentuknya arsitektur keuangan dunia yang baru selalu muncul setelah
terjadi krisis keuangan.

Setengah abad lalu, sejak pondasi sistem dunia sekarang diletakkan dalam
konferensi Bretton Woods tahun 1944, telah banyak tuntutan bagi sebuah
institusi serta aturan baru, atau "Bretton Woods II". Lalu, ketika sistem
pertukaran mata uang tetap (fixed-exchange-rate) mulai mengalami kehancuran
di awal 70-an, banyak pihak memperdebatkan tentang perlunya sistem
pengganti, dan ternyata gagal. Kemudian, di saat krisis utang 80-an, banyak
organisasi baru bermunculan. Lagi-lagi, tak ada perubahan berarti.

Sebaliknya, konsep Bretton Woods malah berkembang menyesuaikan diri dengan
lingkungan yang berubah. Lembaga-lembaga sentralnya menangani tugas-tugas
baru. Saat sistem pertukaran mata uang tetap hancur, IMF mulai mengawasi
sistem mengambang yang baru dan mengkonsentrasikan aktifitasnya pada
negara-negara berkembang. Setelah runtuhnya komunisme, IMF pun beralih
menjadi kepala arsitek sekaligus pemberi dana bagi negara-negara komunis
yang menjadi kapitalis. Lalu, dalam krisis Meksiko tahun 1994, perannya
bertambah lagi, menyediakan dana bagi negara-negara yang dihantam krisis
keuangan.

Berbagai peraturan dan prosedur pun mengalami perubahan. Para pemimpin di
negara-negara kaya, menyesuaikan diri setelah collapse-nya Herstatt Bank di
tahun 1974, dengan berjanji untuk mengkoordinasikan supervisi pada bank-bank
internasional. Lebih dari satu dekade kemudian, mereka muncul dengan standar
minimum kesehatan bank  atau Basle Capital Accord. Perubahan-perubahan
evolutif ini telah membuat wajah arsitektur keuangan dunia berbeda
dibandingkan tahun 1969, apalagi tahun 1949.

Kendati demikian, pergerakan keuangan dunia ternyata berubah lebih radikal
lagi. Di negara-negara kaya, sejak tahun 70-an dan 80-an liberalisasi
keuangan bergerak sangat cepat. Bebas dari aturan-aturan mencekik. Banyak
bank melakukan inovasi, menciptakan surat-surat berharga serta berbagai
instrumen lain. Komputer memungkinkan mereka membagi-bagi risiko ke dalam
surat-surat berharga itu. Pasar modal dan utang pun berkembang secara dramatis.

Pasar modal kini sudah jauh berbeda dengan saat konsep Bretton Woods pertama
kali didesain. Malah ada anggapan, lembaga seperti Bank Dunia tak perlu
lagi. Mengapa sebuah birokrasi raksasa yang mesti mengalokasikan uang
publik, jika sektor swasta mampu membangun bendungan, jembatan dan rumah sakit?

Kerangka kerja lama memang sudah ketinggalan jaman, namun selama modal dapat
dengan mudah bergerak ke seluruh dunia, tak ada kepentingan untuk
menciptakan yang baru. Di saat-saat booming, kesenjangan ini dianggap tak
terlalu jadi soal. Baru setelah terjadi krisis, keterlenaan ini disadari.

Sangat mudah untuk mengetahui apa yang salah (Sistem keuangan di
negara-negara berkembang, umumnya lemah, tak diawasi secara baik dan tak
diatur dengan tepat. Meksiko, Thailand, Korea Selatan dan Indonesia terkena
krisis karena berbagai perusahaannya meminjam modal jangka pendek dengan
gegabah dan meyakini kestabilan nilai mata uangnya).

Apakah semestinya ada lebih banyak, atau sedikit aturan global -juga bantuan
keuangan publik? Mestikah sistem pertukaran mata uang longgar, atau ketat?
Tak ada jawaban sederhana. Sebab, masalah kebijakan ekonomi modern terkait
satu sama lain. Bagi pembuat kebijakan yang hendak mendesain sistem keuangan
ideal, setidaknya memiliki tiga tujuan: Melanjutkan kedaulatan nasional;
Pasar uang yang diatur, diawasi dan fleksibel serta; Mengambil keuntungan
dari pasar modal. Sayangnya, ketiga tujuan ini tak bisa saling melengkapi.
Misalnya, mereka yang ingin mengatur pasar dan menjaga kedaulatan nasional
harus mengorbankan integrasi pasar modal. Begitu pula yang ingin kedaulatan
nasional dan membolehkan integrasi pasar modal mesti menerima pasar bebas
secara utuh.

Harapan terbesar, dalam waktu singkat, adalah mencari jalan tengah di antara
ketiganya. Ada beberapa cara untuk itu. Transparansi dapat ditingkatkan;
Standar global (secara sukarela) dapat dikembangkan ke lebih banyak
institusi dan produk; Insentif dapat diciptakan supaya peserta di pasar
lebih berpegang pada aturan-aturan yang ada. Semua ini bisa mengurangi
risiko krisis keuangan.

Sementara itu, perubahan pasti akan terjadi. Dalam beberapa dekade mendatang
arsitektur keuangan global akan mengalami perubahan mendasar. Bukan karena
lahirnya Bretton Woods II, tapi karena dunia akan menyaksikan paling sedikit
dua blok besar regional, bahkan bisa lebih. Dan meskipun akan ada standar
aturan global, pengawasan dan manajemen krisis akan berada pada level
regional. IMF akan tetap hadir, namun hanya pada negara-negara di luar blok
regional. Mustahilkah? Tidak juga, bila dibandingkan cetak biru lain yang
ada. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 12 Feb 1999 jam 00:26:28 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke