---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 05/II/11-17 Februari 99 ------------------------------ Ismid Hadad, Direktur Yayasan KEHATI: "PERLU DIBENTUK PUSAT RESOLUSI KONFLIK" (DIALOG): Merebaknya kerusuhan kini datang seperti halilintar saja, begitu tiba-tiba, mengejutkan, dan bahkan bisa menyambar korban yang tak tahu apa-apa. Berbagai kota yang semula tenang dan damai tiba-tiba diterjang badai kerusuhan dengan picu yang kadang tak masuk akal, seperti pertengkaran bocah atau majikan yang memarahi buruhnya. Siapa yang menyangka kota seperti Kebumen, Kupang, dan Ambon bisa dilalap api kerusuhan? Menyimak konflik yang kian meruyak tersebut, beberapa intelektual, aktivis, agamawan, dan profesional, kini membahas sebuah gerak penyelesaian konflik secara damai. Idenya tentu sudah ada di benak semua orang yang mendambakan redanya rusuh yang seolah tak kunjung padam. Selanjutnya dibutuhkan suatu jaringan yang semakin meluas merangkul banyak kalangan, tanpa mempersoalkan siapa yang memotori tapi lebih menitik-beratkan pada apa yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan persoalan bersama ini. Ismid Hadad dari Yayasan Kehati adalah salah seorang yang terlibat dalam proses membentuk institusi penyelesai konflik tersebut. Berikut petikan wawancara Xpos di ruang kerjanya: T: Bisa dijelaskan bagaimana ide penyelesaian konflik ini? J: Ide penyelesaian konflik ini jelas bukan sebuah barang baru dan saya yakin banyak orang yang sudah dan sedang memikirkannya. Intinya, bagaimana meningkatkan kesadaran kita semua akan bahaya terjadinya benturan yang memuncak hingga menimbulkan berbagai konflik sosial. Adanya kerusuhan yang kini begitu cepat muncul di mana-mana pada dasarnya tidak akan menguntungkan siapa pun atau kemenangan apapun bagi siapapun. Karena itu benih-benih kerusuhan harus diantisipasi sejak awal dan dicegah sejak dini. Maka itu harus dan bisa dilakukan oleh siapapun. Nah, kita harus berupaya untuk memulai proses itu. T: Bentuknya bagaimana? J: Saya terus terang belum bisa bicara banyak. Ide untuk conflict resolution center ini sebetulnya dirasakan dan diperlukan banyak pihak. Sekarang ini yang jadi soal, action-nya bagaimana? Prinsipnya semua sudah menyadari dan ada di banyak tempat. Lalu, bagaimana kesadaran ini tidak berhenti di himbauan dan kesepakatan-kesepakatan, tapi lebih mendarat jadi lebih efektif, bisa mencegah, atau kalaupun sudah terjadi orang tahu apa yang harus dilakukan. Sebetulnya sederhana sekali. Kalau tidak dilakukan, terhadap masyarakatnya sendiri nanti akan besar kerugiannya. Tiba-tiba saja, dherrr!!, kerusuhan meledak. T: Idenya sederhana, pelaksanaannya? J: Itulah, idenya memang sederhana, pelaksanaannya membutuhkan banyak pembicaraan dengan berbagai kalangan dan melibatkan pihak-pihak yang berkemungkinan terlibat konflik. Susah memang, konflik kita ini kan sudah bertumpuk, antar agama, antar suku, antar ras, antar kelas sosial. Oleh sebab itu perlu kepedulian dari begitu banyak kalangan untuk bersama-sama menyelesaikan konflik. Kebetulan di negara-negara lain juga ada upaya-upaya mediasi (menjadi penengah, red) yang terorganisasi dari masyarakat sendiri, jadi kita bisa belajar, misalnya dari Afrika Selatan, Asia Selatan, dan banyak tempat. Memang tidak bisa langsung diterapkan di Indonesia yang areanya begitu plural berbeda satu-sama lain. Pelaksanaannya sendiri membutuhkan banyak resources, banyak sumberdaya. Awalnya kita bersama menyusun agenda yang nantinya juga akan dikerjakan bersama-sama. Sebagai langkah pertama, kita mencoba ada gerak untuk mendatangi dan mengajak bicara partai-partai, yang secara potensial akan terlibat konflik. Nah masalahnya kita itu siapa? Di tingkat forum atasnya diperlukan wibawa orang yang netral dan tidak memihak. Ada upaya juga untuk meminta bantuan Tim Sebelas yang kini mendaftar partai-partai yang ikut pemilu. Kalau itupun nggak cukup, kita ajak kelompok rektor-rektor yang berminat memantau pemilu atau siapa sajalah, kami nggak ingin menonjol sendiri. Bukan identitas siapa kita dan bendera yang kita pakai tapi pesannya tercapai. T: Tapi di level bawah sendiri bagaimana? Bukankah penyebaran konflik begitu cepat? Sekarang kan banyak pemimpin yang tidak diterima? J: Memang sampai saat ini kita belum sampai pada level itu. Sebetulnya saya yakin masyarakat bawah sendiri sebetulnya memnginginkan ketenangan. Lalu pertanyaannya darimana datangnya konflik? Satu, salah satu asumsinya banyak benturan terjadi karena adanya konflik di tingkat elit yang kemudian menjalar ke bawah. Kedua, ada kesan bahwa peristiwa kerusuhan di mana-mana itu ada yang "memprovokasi". Kesadaran itu muncul dari masyarakat setempat dan diperbesar oleh liputan media. Ketiga, nah ini menjawab pertanyaan saudara tadi, masyarakat bawah di Indonesia itu banyak sekali, kita sendiri belum bisa menjangkaunya. Maka, dibutuhkan kerjasama dan keterlibatan dengan banyak pihak yang mampu menjangkau sampai masyarakat bawah. Akan sampai ke sana, efek berantainya. T: Apakah tidak terlalu lambat? J: Kita tahu ini sudah terlambat, waktunya singkat, yang harus dilakukan banyak sekali dan kita tahu kita tidak mungkin untuk mencapai semuanya. Kita mesti berbuat sesuatulah. Nggak sampai muluk-muluk ada suatu agenda besar untuk menyelamatkan bangsa, nggak seideal itu. Ya hanya keinginan untuk berbuat sajalah melihat begitu banyak kerusuhan yang muncul. T: Mengapa provokator itu selalu berhasil? Apakah memang ada perbedaan mendasar yang selama ini tak terselesaikan dalam pluralitas masyarakat kita? J: Kalau kita amati betul kerusuhan demi kerusuhan, akan terlihat kumpulan dari banyak faktor yang tumpang-tindih. Satu karena setelah tiga puluh tahun lebih masyarakat direpresi, ketidak-puasan itu menjadi lahan yang selama ini tertekan dan tertindas itu menjadi lahan yang subur untuk disulut. Karena tingkat penekanan, ketidakpuasan sudah begitu meluas disulut sedikit saja cepat terbakar. Kedua, aparat pemerintah dan militer sendiri ternyata tidak punya kemampuan atau kompetensi untuk mengantisipasi keadaan untuk mencegah meluasnya kerusuhan. Juga ketika sudah terjadipun, mereka tidak punya kemampuan dan kemauan untuk cepat bertindak. Selalu sesudahnya sesudah jatuh banyak korban yang bergelimpangan. Itulah, ABRI kita tidak punya kemauan dan kemampuan, bahkan setelah lewat kerusuhan tidak ada kemauan dan kemampuan untuk menganalisa dan menyimpulkan mengapa itu terjadi dan apa akar permasalahannya. T: Tapi dengan adanya kerusuhan, bukankah ABRI punya alasan untuk tetap hadir menyelesaikan kerusuhan sehingga punya legitimasi untuk tetap berkuasa? J: Bagaimana dia mampu memperkuat legitimasinya kalau terus-terusan tidak bisa menangani kerusuhan? Citranya di mata masyarakat bahwa dia ternyata tidak mampu. Bukan citra. Kenyataan sudah menunjukkan bahwa dari hari ke hari tak ada perbaikan apapun. Dengan melihat kombinasi faktor penyebab itu memang banyak, kita nggak bisa karena itu banyak faktor lalu membiarkan saja dan tidak diselesaikan. Masalahnya memang banyak, kompleks dan ruwet. Tapi nggak bisa lantas didiamkan. T: Darimana mau mulai menyelesaikan? J: Jangan tanya darimana mau mulai menyelesaikan dan kapan dimulai. Ya, kita siapapun sekarang memulai dan oleh siapa saja yang mau. Saya yakin kalau semua orang yang peduli pasti mau dan berupaya sesuai apa yang dia bisa. Jadi prinsipnya participant according to their ability, siapa yang bisa siapa yang mau, itu aja. Karena kalau menunggu susah. Kelompok ini akan diperbesar-diperbesar mengajak serta siapa saja yang mau terlibat. Itu lebih baik daripada menunggu. T: Apakah akan diterima? J: Ya belum tentu bisa diterima. Tapi apa salahnya kita coba. Dasar optimismenya adalah kalau yang didekati adalah kelompok yang cukup strategis maka dampak berantainya bisa terjadi dan lebih cepat. Ini bertolak belakang dengan cara Orde Baru meredam konflik. Selama ini mereka mengandalkan power. Yang penting tidak ada rusuh, mereka mau menyelesaikan dengan otoritas yang dipunyai, tapi akar persoalan tidak disentuh. Maka gagallah cara penyelesaian konflik begini ketika Soeharto pergi. Secara teoritis, ada tiga cara menyelesaikan konflik. Satu, dengan memakai power itu tadi. Kedua dengan menggunakan rule and rights (peraturan hukum dan hak-hak yang dimiliki masyarakat, red). Di Indonesia ini penyelesaiannya sudah tidak bisa sekedar dengan memperhitungkan rule atau rights tapi juga perlu cara yang ketiga yaitu dengan mengakomodasi kepentingan. Apa kepentingan pihak-pihak yang berkelahi? Baru diupayakan kompromi semaksimal mungkin. Akhirnya disepakatilah ada konsensus bersama. Nah pemerintah kita yang lalu, belum-belum sudah langsung ke konsensus. Proses ini yang coba kita balik. T: Tapi kan upaya penyelesaian itu tidak punya alat pemaksa, bagaimana bisa menjamin konsensus bisa terlaksana? Faktor apa yang bisa mengikat? Apa jaminannya salah satu pihak tidak akan melanggar konsensus? J: Nggak ada. Satu-satunya yang bisa diharapkan itu ya kalau prosesnya benar. Pendekatan ini bukan output oriented tapi process oriented. Kalau melewati prosesnya dengan cara yang benar, orang merasa didengar, diajak serta, dan kepentingannya ditanggapi dan diselesaikan, kemungkinan dia juga mau menanggapi, mau mendengar, dan muncul kemauan maupun kemampuan untuk menghentikan konflik pun lebih besar. T: Penyelesaian konflik ini bukankah sebetulnya sudah jadi tradisi lama yang hidup dalam masyarakat Indonesia? J: Ya ini sebetulnya biasa dilakukan nenek moyang kita. Di Sumatra Barat ada lembaga adat, lembaga nagari, di mana kita duduk bersama kemudian menyelesaikan masalah. Di Jawa juga ada rembug desa. Tapi tradisi ini kan dikoyak-koyak oleh Orde Baru selama tigapuluh dua tahun berkuasa. Jadi kepemimpinan lokal nggak banyak berfungsi. Pemimpin-pemimpin informal hilang, yang ada hanya kepala-kepala desa yang ditugaskan pemerintah atau penguasa lokal yang cara pemilihannya pun lewat rekayasa. Itu kan yang membuat dislokasi sosial terjadi. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 12 Feb 1999 jam 01:12:13 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
