----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

Media Indonesia, Selasa, 9 Februari 1999

Kekerasan Massa

SADISME sedang memamerkan diri dalam wujud yang menakutkan.
Perampok tidak hanya ditangkap tapi dibakar. Di Malang beberapa
waktu yang lalu tersangka ninja tidak hanya diringkus tetapi
digorok lalu kepalanya diarak keliling kota diiringi sorak-sorai.
Ini, hanya sedikit contoh dari sejumlah tindak kekerasan massa
yang merebak di tengah kita.

Di tengah kenyamanan individu yang kian terampas, berita tentang
perampok yang dibakar dan mayat ninja yang diseret, mungkin sedikit
mengobati kemarahan orang-orang yang tidak berdaya. Akan tetapi
persoalan besar sebenarnya disemai di sana. Yaitu, pelampiasan
kemarahan orang-orang yang tidak berdaya adalah awal dari anarki.

Kita seperti mangsa yang terlempar dari mulut singa masuk ke mulut
buaya. Lepas dari cengkeraman yang satu terperangkap ke cengkeraman
yang lain. Bergeser dari ekstrem yang satu ke ekstrem yang lain.
Kita belum memperlihatkan kecekatan untuk melaju di atas rel yang
betul.

Stabilitas yang diciptakan selama Orde Baru ternyata hanya pelipur
lara. Karena, begitu Orde Baru tersingkir, tembok-tembok stabilitas
jebol. Kita seperti narapidana yang terlempar ke luar tembok
penjara dan mulai memperlihatkan watak napi sesungguhnya.

Watak homo sapiens tergusur oleh naluri homo homini lupus. Kita
menjadi beruang bagi yang lain. Begitu bengisnya, sampai-sampai
kita mulai disingkirkan oleh peradaban global. Di Singapura,
misalnya, sopir taksi akan menurunkan kita di tengah jalan begitu
mengetahui kita berasal dari Indonesia. Cara kita memperlakukan
sesama sudah tidak bisa diterima akal sehat mereka sebagai manusia.

Sadisme yang merebak, mungkin semakin membenarkan asumsi bahwa kita
adalah bangsa yang selalu menjadi hamba zaman. Dalam era apa saja
kita selalu berada di ujung ekstrem. Di zaman kolonial kita menjadi
bangsa yang terjajah. Di era kemerdekaan kita terjajah oleh
kemiskinan. Di era Orde Baru kita terjajah oleh stabilitas.
Sekarang, di era reformasi, kita terjajah oleh anarki.

Celakanya, kita semakin kehilangan institusi yang berwibawa untuk
menegakkan hukum. Polisi, kalau tidak sangat terpaksa, tidak mau
memakai pakaian dinas karena takut disiksa massa. Tentara tidak
bisa mengambil tindakan tegas karena takut dituding melanggar hak
asasi manusia. Pemerintah asyik dengan keyakinan dan asumsi sendiri
karena tidak didengar. DPR kehilangan semangat reformasi.

Lalu, siapakah sesungguhnya manajer kita sebagai bangsa?
Premis-premis moral-kultural yang diyakini sebagai pemandu telah
kehilangan khasiatnya. Di berbagai daerah, pembantaian sesama
justru terjadi atas nama agama.

Karena itu tidak ada pilihan lain kecuali menegakkan yang namanya
supremasi hukum. Rasa aman warga negara harus diserahkan kepada
institusi yang bertanggung jawab untuk itu. Tidak bisa dibiarkan
di tangan massa di jalanan. (*)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 12 Feb 1999 jam 10:06:06 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke