---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- From: Rakyat1999 Menyambung informasi tentang nasib karyawan bank BUMN, sebenarnya sebagian besar mereka memiliki potensi sebagai bankir profesional. Lihat saja bagaimana pengalaman mereka selama dibank masing-masing. Umumnya karir mereka dikembangkan melalui tour-of-duty diberbagai kantor cabang, dalam dan luar negeri, serta diberbagai divisi dikantor pusat. Namun kelemahannya mereka tidak atau jarang diberi kesempatan dalam pengambilan keputusan sendiri. Semua keputusan hampir selalu bersifat top-down bukan bottom-up, khususnya dalam bidang perkreditan. Sehingga sebagian besar analisa pemberian kredit, terutama yang besar-besar bersifat customized (tailor-made) sesuai perintah atasan (direksi). Akibatnya sebagian portofolio kredit bank BUMN rusak setelah beberapa tahun kemudian paska booming 1988-1991, dan semakin hancur karena krisis ekonomi yang juga diakibatkan oleh over-leveraged oleh sebagian besar nasabah perusahaan besar/konglomerat Indonesia akibat menerima juga pinjaman valas langsung dari luar negeri (offshore). Para mantan direksi bank BUMN tersebut saat ini bersama nasabah-nasabahnya tenang-tenang saja menikmati hasil panen mereka dalam sepuluh tahun terakhir. Sedangkan sebagian besar karyawannya terancam menjadi pengangguran dan kredit macet yang masih dinikmati mantan direksi dan kroni-kroninya tersebut harus dibayar dalam bentuk rekapitalisasi. Sumber dananya berasal dari anggaran pemerintah yang merupakan uang rakyat lagi. Kesimpulannya, pada waktu booming mantan direksi bank BUMN dan kroninya berpesta dan sekarangpun tetap berpesta hasil markup yang tersimpan diluar negeri. Sebaliknya karyawan bank BUMN selama booming menikmati gaji yang lebih rendah daripada rata-rata gaji karyawan bank swasta dan sekarang terancam menjadi pengangguran. Ironisnya, sebagian karyawan bank swasta (BCA, DANAMON, PDFCI, TIARA, DSB) sebaliknya menjadi karyawan bank BUMN (de facto) karena bank-bank swasta tersebut sebagian besar sahamnya sekarang dimiliki pemerintah. Oleh karena itu, janganlah sebagian besar karyawan bank BUMN yang malang tersebut masih disalahkan sebagai penyebab rusaknya bank BUMN. Mereka justru menjadi korban dimasa booming maupun dimasa krisis sekarang. Dan jangan lupa meneliti kembali diantara karyawan tersebut karena sebagian besar justru berpotensi menjadi bankir handal dengan syarat diberi kesempatan sama dengan rekan-rekannya yang ada dibank swasta maupun asing. Bahkan ribuan diantara mereka merupakan alumni dari universitas-universitas terbaik di Indonesia plus ratusan yang telah dididik dibank-bank maupun universitas diluar negeri. Dilainpihak diteliti pula mantan-mantan direksi bank BUMN tersebut plus nasabah-nasabah besarnya yang sekarang mengelola usahanya diluar negeri dengan menggunakan kredit yang diberikan didalam negeri. Kredit-kredit tersebut dari awal hingga restrukturisasi telah direkayasa untuk menghindarkan pengembalian kredit tersebut selamanya. Satu- satunya yang mereka masih bayar mungkin hanya bunga yang telah diturunkan serendah mungkin dan bahkan ada tunggakan bunga yang telah dihapuskan tanpa ijin pemegang saham/pemerintah dengan cara rekayasa kapitalisasi/plafondering. Rekayasa lain adalah dengan pemberian kredit kepada anak perusahaan bank-bank BUMN dimana dananya digunakan sebagai penyertaan kepada nasabah bank ybs, yang selanjutnya digunakan oleh nasabah tersebut melunasi kredit dari bank BUMN tersebut. Dalam hal ini kredit bank berubah menjadi penyertaan/equity anak perusahaan bank pada nasabah ybs. Sehingga nasabah tidak lagi memiliki kewajiban melunasi kredit yang diterima dari bank BUMN tersebut, baik bunga maupun hutang pokoknya, karena telah menjadi equity. Selanjutnya kami harap kepada pihak-pihak yang berwenang dan pro-reformasi. Segeralah bertindak demi rakyat dan teliti lebih lanjut informasi diatas termasuk melalui due- dilligence dibank-bank BUMN. Semoga berhasil. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 12 Feb 1999 jam 10:06:26 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
