---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- MENCERMATI KOALISI PARTAI-PARTAI BARU Setelah penetapan UU Parpol dan menjelang dibentuknya KPU yang akan menseleksi Parpol-parpol baru calon peserta Pemilu 1999, beberapa Parpol baru yang kecil mulai sibuk berkonsolidasi dan beberapa di antaranya melakukan koalisi untuk menjadi sebuah partai besar yang layak pentas alias memenuhi syarat untuk ikut menjadi peserta Pemilu. Kesibukan Parpol baru berkoalisi terlepas dari sasaran mendapatkan kursi kekuasaan minimal kursi empuk badan legislatif, jika dicermati lebih teliti juga berorientasi untuk meramaikan pilihan rakyat agar terhindar dari pilihan yang selama ini melekat dihati yakni Golkar. Sasaran terakhir ini banyak dipelopori oleh PUDI partainya Sri Bintang Pamungkas. Bahkan dibawah koordinasi PUDI beberapa parpol baru sudah punya konsensus bahwa jika Golkar menang maka Pemilu dianggap gagal karena pasti berbau manipulasi dan tidak Jurdil alias penuh kecurangan. Singkatnya Parpol-parpol baru yang berkoalisis khususnya dibawah koordinasi PUDI berasumsi bahwa kehidupan politik yang demokratis lewat Pemilu harus dapat mengalahkan Golkar. Asumsi ini dalam literatur politik tentu lebih berdimensi balas dendam dibanding dimensi etis esensi demokrasi. Artinya kalaupun ada dendam kesumat yang terselip didada Sri Bintang Pamungkas sebagai Ketua PUDI dan pimpinan Parpol baru lainnya yang berkoalisi terhadap tindakan Golkar selama ini, tapi seyogyanya bukan dendam itu yang menjadi landasan aturan main berdemokrasi melalui Pemilu sebab dengan cara itu nilai demokrasi dalam Pemilu menjadi musnah. Dengan kata lain jika Golkar menang dalam Pemilu mendatang juga adalah hasil dari sebuah proses pergulatan politik yang demokratis, kecuali jika memang ada bukti dan data yang konkrit yan bisa dipertanggung jawabkan tentang kecurangan dan pelanggaran Golkar. Nakh, untuk menghindari kecurangan itu Parpol yang berkoalisi khususnya PUDI mutlak terlibat dalam KPU atau komite pengawas pemilu jangan sampai hanya pandai menilai tapi tak mau terlibat dalam tanggung jawab suatu tugas, sebab ada kecenderungan para politisi untuk menghindar dari tawaran tugas dan tanggung jawab kegiatan teknis Pemilu yang kini digelar pemerintah sebagai fasilitator. Disitulah tempatnya Parpol baru berkiprah untuk bertanggung jawab menjadi pelaksana, pengawas atau apapun namanya untuk jujur dan adil memberi contoh kepada Golkar yang selama ini dituding sebagai biangnya manipulator politik. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 12 Feb 1999 jam 10:10:49 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
