---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- PRO KONTRA TERHADAP KOMITE PEMILIHAN UMUM (KPU) Pembentukan Komite Pemilihan Umum (KPU) oleh Lembaga Pemilihan Umum (LPU) yang hanya akan bekerja selama kurang lebih sebulan untuk mengantar bekerjanya KPU yang dibentuk dari unsur Pemerintah dan Parpol sebagaimana dikemukakan Jubir Depdagri dalam sebuah dialog khusus di SCTV, rupanya banyak mengundang perdebatan yang pro dan kontra berkaitan dengan independensi dan kejujuran lembaga KPU tersebut. Belum lagi bekerja, rupanya KPU sudah mendapat kendala yang cukup besar karena pendapat yang kontra atas eksisten kelembagaan itu justru banyak muncul dari kalangan fungsionaris Parpol baru. Namun ironisnya dari pandangan yang kontra itu tak satupun melahirkan gagasan alternatif kelembaga lain yang dianggap lebih representatif untuk dapat menjamin terselenggaranya Pemilu secara Jurdil dan Luber. Fenomena sikap kontra terhadap setiap gagasan dan kebijakan pemerintah tentang Pemilu rupanya bertumpu di atas landasan negatif thingking sehingga tidak heran kalau semua pandangan kontra tidak lebih dari ASBUN (Asal bunyi) karena tak menawarkan gagasan/ alternatif pengganti. Mungkin ini yang disebut oleh Ryaas Rasyid (Ketua Tim Revisi UU Parpol), sebagai situasi yang emosional dan irrasional yang justru sangat tidak demokratis. Lalu siapa yang demokratis .? Demokrasi ataupun ungkapan sejenis memang kini menjadi komoditas politik yang paling laris ditengah upaya kasak kusus pemimpin Parpol yang sedang berkonsolidasi menyongsong Pemilu. Namun ironisnya secara perlahan tapi pasti komoditas politik dengan isyu demokrasi itu seolah-olah semakin membukan aib para pimpinan Parpol baru yang berkedok demokrasi namun berjiwa anarkis dan otoriter dengan pemaksaan kehendak atau gagasan. Semakin lama mereka bertengkar tentang KPU semakin tampak pula kapasitas politik mereka yang hanya memanfaatkan era reformasi sebagai momentum untuk tampil dalam pentas politik melalui Pemilu mendatang. Momentum ini sebenarnya menguntungkan rakyat yang memiliki hak pilih agar tidak terjebak dengan pilihan yang keliru dan menyesatkan. Sebagai rakyat biasa tentu kita berharap agar pilihan kita tak salah sasaran sebab jika keliru, maka tokoh Parpol baru yang sangat ambisisus kekuasaan itulah yang akan memimpin bangsa ini membawa negara dan rakyat ke lembah kehancuran di masa depan. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 12 Feb 1999 jam 10:11:05 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
