----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Banteng Suropati :
Menuju Timor Timur Merdeka

Merdeka !!

Mencermati jalannya negosiasi segitiga antara Menlu Indonesia Ali Alatas
dan Menlu Portugal Jaime Gama dibawah payung PBB (Jamsheed Marker), 7 -
8 Februari lalu, nampaknya apa yg dikhawatirkan oleh Saudara HS
Supangkat dalam berbagai tulisannya yg bertebaran di milis ini akan
menjadi kenyataan: deadlock!

Indonesia menyodorkan dua pilihan: otonomi luas ATAU merdeka, bukan
otonomi sebagai persiapan MENUJU kemerdekaan. Sementara Portugal ngotot
menggolkan referendum yg ditolak keras Indonesia karena dibayangi
ketakutan pecahnya perang saudara.

Kalau kita lihat di berbagai media elektronik, kemungkinan pecahnya
perang saudara kelihatan semakin nyata. Di berbagai wilayah, seperti
Dili, Viqueque, Ainaro, Suai, Ermera, Baucau dan di banyak tempat
lainnya tampak gerombolan demi gerombolan, baik yg menyatakan mati hidup
untuk integrasi, maupun mereka yg bertekad menghirup udara kemerdekaan
mulai unjuk kekuatan. Mereka mondar-mandir menyandang berbagai macam
senjata mulai dari parang, klewang hingga pistol dan bahkan senapan
mesin dengan wajah sangar berkeliaran dengan aksi siap tempur. Di
beberapa tempat  bahkan mulai pecah insiden berdarah dan merenggut
nyawa, seperti yg terjadi di Suai beberapa saat lalu.

Sangat naif kalau kita hanya mempercayai seolah-olah hanya ABRI yg
secara diam-diam mempersenjatai kelompok pro-integrasi, karena mereka yg
pro-kemerdekaan ternyata juga telah menyandang senjata yg sangat muskil
jika dikatakan hanya hasil rampasan dari ABRI.

Itu sebabnya seruan Jamsheed Marker agar kedua pihak menahan diri dan
perlu diadakan perlucutan senjata untuk seluruh laskar di Timtim memang
perlu didukung sepenuhnya, karena hal itu dapat menciptakan suasana yg
lebih kondusif bagi terciptanya iklim dialog dan negosiasi demi
kepentingan rakyat Timtim sendiri secara keseluruhan.

Kalau kita mau berkepala dingin, sebenarnya Indonesia selangkah lebih
maju dan telah menunjukkan "semangat" penyelesaian masalah ketimbang
Portugal yg terkesan "keras kepala". Dalam negosiasi segitiga
sebelumnya, kartu yg digelar diatas meja hanya kartu "referendum" dari
Portugal dan kartu "integrasi" dari Indonesia. Kemudian, menyusul
lengsernya Soeharto, Indonesia di bawah pimpinan Habibie, menyodorkan
langkah terobosan berupa kartu "otonomi luas", sementara Portugal tak
sesentipun bergeser dari posisinya. Sikap Portugal yg menyodorkan "harga
mati" ini akhirnya hanya menyebabkan pembicaraan berputar-putar tanpa
ujung pangkal yg jelas.

Lantas, 27 Januari lalu, kembali Indonesia menyodorkan "kartu baru" yang
menggegerkan banyak pihak: "otonomi ATAU merdeka". Langkah terobosan
terakhir ini dipuji banyak pihak. Tak kurang dari PM Howard dan Menlu
Downer (Australia) menyambut baik "goodwill" Indonesia tersebut. Begitu
pula halnya Menlu Inggris Robin Cook ikut bertepuk tangan yang diikuti
oleh beberapa senator AS, termasuk Kennedy (D-Rhode Island) yg terbilang
sangat kritis terhadap Indonesia dalam urusan Timtim.

Lagi-lagi Portugal yg "kaget dan mati langkah" atas perubahan sikap
Indonesia itu, kembali memasang "blokade" sehingga jalan perundingan
terhenti alias deadlock. Alasan Portugal bahwa "referendum" merupakan
SATU-SATUNYA cara untuk mengetahui apa yg diinginkan rakyat Timtim, sama
sekali tidak memiliki landasan yg kuat. Atau, penulis curiga bahwa
jangan-jangan justru Portugal yg tidak mau masalah Timtim selesai secara
tuntas. Kalau portugal menolak usul "otonomi luas" atau lebih jauh lagi
"kemerdekaan" Timtim, lantas maunya apa??

Ketika Republik Indonesia dulu mau merdeka, TAK PERNAH ADA REFERENDUM
yang menanyakan apakah rakyat Indonesia mau merdeka atau tidak. Nyatanya
proklamasi kemerdekaan dikumandangkan TANPA REFERENDUM segala macam.

Kalau kita mau melihat ke belakang pada sejarah Republik Indonesia yg
tercinta sebenarnya banyak menyediakan "pelajaran" yg amat berharga.
Kita mengenal BPUPKI dan PPKI yg bertugas mempersiapkan kemerdekaan.
Lembaga itu juga mencoba "menyelami" isi hati rakyat Indonesia dengan
jalan konsultasi kerakyatan (popular consultation) dengan berbagai tokoh
dan organisasi massa dan kerakyatan. Hasilnya, TANPA REFERENDUM pun
dapat disimpulkan bahwa rakyat Indonesia menginginkan kemerdekaan dari
Hindia Belanda. Untuk mengejawantahkan aspirasi rakyat itulah kemudian
PPKI mempersiapkan segala hal yg berkaitan dengan kemerdekaan, termasuk
perangkat yg dibutuhkan sebuah negara yg berdaulat, seperti dasar
negara, UUD, wilayah, pemerintahan dan sebagainya.

Dengan contoh sederhana diatas tentunya kita dapat menyimpulkan bahwa,
jika memang Portugal beritikad baik untuk menyelesaikan masalah Timtim
secara tuntas, APA SALAHNYA mengesampingkan referendum dan segera
meminta PBB membentuk semacam komite konsultasi rakyat Timtim yg berasal
dari Timtim, maupun diaspora, termasuk Kay Rala Alexander "Xanana"
Gusmao, Lopez Da Cruz, Manuel Carrascalao, Uskup Belo, Ramos Horta, Joao
Carrascalao, Alkatiri dan lain-lain (sebagai "utusan golongan") dengan
tidak melupakan "utusan daerah" dan para "liurai" dari
kabupaten-kabupaten yg ada di Timtim (karena mereka ini seringkali tidak
pernah diajak bicara, melainkan selalu menjadi "pelengkap penderita").

Komite inilah yg akan menjalankan "konsultasi kerakyatan" untuk menyerap
dan menyuarakan "aspirasi rakyat" apakah mau otonomi tidak, dan kalau
mau merdeka lantas bagaimana jalan yg terbaik dan sebagainya. Sedang di
fora internasional, komite tersebut akan didampingi oleh semacam komite
jasa-jasa baik (good offices) yg beranggotakan beberapa negara. Komite
jasa-jasa baik ini pernah ada pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia
dulu, beranggotakan a.l. Belgia dan Australia.

Dengan cara ini tidak satupun muka yg tercoreng sehingga kita tak perlu
sibuk menyelamatkan muka masing-masing. Dengan cara ini pula kemungkinan
pecahnya perang saudara dapat diminimalisir sekecil mungkin. Jika pecah
perang saudara yg paling menderita dan tersiksa adalah rakyat kecil
Timtim, sementara para "tokoh" dan politisi Timtim sibuk beradu strategi
diatas awan.

Kalau memang benar Ramos Horta dan seluruh kroninya tulus dalam
memperjuangkan hak asasi rakyat Timtim dengan selalu menomorsatukan
kepentingan rakyat Timtim, maka tidak ada lagi alasan untuk tetap
"ngotot" menuntut referendum yg hanya berarti akan  menyengsarakan
rakyat kecil yg terjebak ditengah perang saudara yg pasti akan lebih
berdarah dibanding  1974-75 dulu.

Semoga bumi Loro Sae tak lagi bersimbah darah..!!

Merdeka !!

Banteng Suropati
Karachi - Pakistan

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 15 Feb 1999 jam 10:56:45 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke