---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- CERAMAH TERAKHIR ROMO MANGUN WIJAYA Pr. JANGAN UNTAMAKAN INDOKTRINASI DALAM MENGAJARKAN AGAMA. Jakarta, 12 Pebruari 1999.( Kompas) Orde Baru melakukan kesalahan fatal karena mengindentikkan agama dan iman atau ketakwaan,padahal justru dua hal yang prinsipiel berbeda. Agama hanyalah sarana. Agama hanyalah kendaraan atau jalan. Agama sama sekali bukanlah tujuan,apalagi Tuhan. Oleh karenanya,mengindentikkan agama dengan iman atau religiusitas amatlah salah fatal ! Bukti kefatalan itu tampak dalam kerusuhan2 selama beberapa bulan ini,terutama setelah 21 Mei 1998. "Itulah semua akibat praktik pendidikan yang mengutamakan indoktrinasi agama tanpa memperhatikan tujuan nya ,yakni sikap dan kekaryaan nya,yakni sikap dan kekaryaan penuh iman,harapan,cinta kasih,saling tolong,memperkaya,menganuggerahkan perdamaian dan kasih sayang,serta pembentukkan suatu konvivialitas) situasi hidup bersama) dan solidaritas dalam segala kebaikan" ujar romo Yusuf Bilyarta Mangunwijaya Pr. ( 69 tahun) dlaam simposium Meningkatkan Peranan Buku dalam Upaya Membentuk Masyarakat Baru Indonesia di Hotel Le Merridien Jakarta,Rabu( 10/2) siang, sesaat sebelum terkena serangan jantung dan meninggal dunia ditempat itu. Inilah pesan terakhir Romo Mangun kepada para peserta simposium usai mengurai makalah setbal 20 lembar tentang Peran Buku demi Kearifan dalam Iptek. Kurang lebih 10 menit usai tanya jawab, Romo Mangun tiba2 limbung karena serangan jantung dan meninggal tidak lama setelah bertegur sapa dengan kolumnis Mohammad Sobary dan FX.Supri Harsono dari Penerbit Kanisius Yogyakarta. Ortopraksis Vs Ortodoksi. Dalam makalah kepada peserta simposium,Romo Mangun menegaskan satu contoh kesalahan mendasar pada praktis manajemen pendidikan nasional. Kesalahan itu adalah terlalu diutamakan kualitas pengetahuan murid tentang perintah, hukum agama - termasuk teori,dogma, dan ritus-ritusnya - alias ortodoksi. Padahal yang lebih penting dan utama,kata romo,adalah ortopraksis, yakni bagaimana mengajari murid agar mereka mampu menghayati,mewujudkan imannya kepada Allah dalam lingkup sosialnya. "Jadi praksis beriman atau bagaimana mewujudkan imannya dalam tindakkan nyata operasional itu jauh lebih penting dan uatama,bukan indoktrinasi tentang perintah dan hukum agama. Tegasnya,bagaimana bisa memperkaya dimensi iman murid agar semakin mampu menghayati sikap2 dasar moraal dan imannya agar bisa berdampak pada praksis perilaku dan tindakkan para pelajar itu" ungkapnya. Karena itu jelasnya lagi,salah satu kesalahan terbesar Orde Baru dalam management pendidikan nasional adalah ketidak berhasilan mamberi knowledge ( pemahaman kognitif sekaligus pengertian atas nilai-2 normatif dan moral) kepada generasi muda. Buku-2 dan program pembelajaran selama ini sering cuma berkisar tentang ortodoksi. Secara lahiriah tampaknya ini memang hebat. Akan tetapi dalam praksis hidup sehari hari menunjukkan betapa anehnya bangsa ini yang juara beragama namun pada saat bersamaan juga juara korupsi dan mudah tersulut emosi amuk amukan massa. Aneh sekali. Karena itu Romo Mangun mengingatkan, jenis buku yang diperlukan adalah jenis buku yang berbicara tetang persyaratan yang harus ada agar dapat membina sikap sikap moral dasariah universal dan perilaku professional dalam ber Iptek. " Disinilah membangun sikap fair play, yakni mental keichlasan mengakui kekalahan dan kekeliruan bila pembuktian ilmiah telah dilakukan dan love for truth ( cinta kebenaran) menjadi relevan untuk dikedepankan," tandasnya. Menjawab pertanyaan salah seorang peserta,Romo mengemukaan , bahwa tentara dimanapun diseluruh dunia tidak ada sama sekali yang dipersiapkan menjadi guru. Latar belakang pendidikannya menjadikan tentara sebagai orang-2 yang profesional dilatih untuk menebarkan teror,melakukan sabotase kepada musuh,serta bersikap proaktip kepada lawan,dengan adagium lebih baik membunuh terlebih dahulu daripada terbunuh. "Sebab itu, dari prespektif ini,menjadi janggal sekali dan aneh,bila ada orang yang mau berguru tentang morallitas kepada tentara. Alasan fundamentalnya, karena tentara itu sejak awal tidak dididik menjadi guru, yakni mereka yang secara profesional wajib mendidik generasi muda serta mewariskan nilai nilai moral dasar dan tatanan kebenaran universal," kata romo Mangun. ( ryi) * Penulis berita Kompas di Jakarta. "Caring is doing something thoughtfully for another, expecting and anticipating nothing in return". ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 16 Feb 1999 jam 08:58:47 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
