---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk PRABOWO KEPUNG HABIBIE, WIRANTO BENTUK TIM KHUSUS JAKARTA (SiaR, 16/2/99), Presiden Habibie akhirnya mengakui bahwa Letnan Jendral (Purn) Prabowo, memang melakukan pengepungan Istana Merdeka sehari setelah ia dilantik jadi Presiden menggantikan Soeharto, Mei tahun lalu. Habibie juga mengakui, rumahnya juga dikepung pasukan Prabowo, yang ketika itu masih sebagai Panglima Kostrad. SiaR pernah memberitakan, sekompi pasukan Kopassus, mengepung Istana Merdeka sehari setelah Habibie dilantik, 22 Mei 1998. Namun pasukan Kopassus itu akhirnya bisa diusir dari sekitar Istana oleh pasukan Marinir. Sumber SiaR di Markas Besar TNI-AL pernah mengatakan, Panglima ABRI, Jendral Wiranto meminta Mayjen (Mar) Soeharto, Komandan Marinir untuk mengusir pasukan Kopassus dari sekitar Istana dan rumah Habibie. Mayjen Soeharto bukan orang asing bagi Prabowo karena mereka berdua pernah tinggal dalam satu kamar di Seskogab Bandung, ketika keduanya menjadi siswa sekolah komando itu. Sumber itu mengatakan, Wiranto bertanya apakah Soeharto berani menghadapi pasukan Prabowo. "Soeharto menjawab berani. Kami sendiri ingin menunjukkan kepada Kopassus, coba siapa yang lebih unggul sekarang, mereka atau Marinir," ujar sumber itu. Pasukan Marinir kemudian memang bergerak menuju Istana dan pasukan Kopassus akhirnya mengundurkan diri. Sejumlah sumber SiaR di sekitar Istana Merdeka malam 22 Mei itu mengakui mendengar sejumlah tembakan. Kepada seorang wartawati Amerika Serikat, Prabowo mengakui mengerahkan pasukannya namun bukan untuk mengkudeta Habibie. "Saya justru ingin mengamankannya," ujar menantu mantan Presiden Soeharto itu. Prabowo sendiri mengaku menarik pasukannya malam itu juga. "Saya kan masih punya hak untuk masuk Istana," ujar Prabowo kepada wartawati itu. Pengakuan Habibie memang mengejutkan, kendati hal itu sudah diketahui secara umum. Menurut Habibie pasukan Kostrad dan mesin perangnya yang dikonsentrasikan di beberapa lokasi strategis kawasan ibukota negara, menyulitkan pengendalian pasukan oleh Jenderal Wiranto. Menurut Habibie ia dilapori Wiranto soal konsentrasi pasukan Prabowo yang tak jelas maksudnya itu. "Presiden sebagai Pangti ABRI memerintahkan supaya tarik pasukan tersebut ke barak. Saya tanya Wiranto, apakah perintah saya itu benar," ujar Presiden Habibie, yang langsung dijawab Jenderal TNI Wiranto, "Ya, itu benar, Pak Presiden." Dengan pengakuan Habibie ini, sebenarnya secara hukum, Prabowo sudah bisa dikenai tuduhan percobaan makar atau bahkan subversif. Hingga kini keberadaan Prabowo tak banyak diketahui. Ada yang mengatakan Prabowo kini masih berada di Amman, Yordania terutama setelah Raja Hussein wafat dan Pangeran Abdullah, sahabat lama Prabowo mempersiapkan dirinya menjadi Raja Yordania. Ada seloroh di kalangan pejabat tinggi di Jakarta bahwa Prabowo mungkin akan diangkat jadi Panglima Angkatan Bersenjata Kerajaan Yordania. Sisa-sisa pengikut Prabowo terutama di Kopassus memang masih banyak. Disinyalir merekalah yang ikut bermain dalam berbagai kerusuhan di Tanah Air belakangan ini. Sumber SiaR menyebutkan Wiranto sudah membentuk satgas khusus yang dipimpin oleh seorang kolonel Kopassus untuk melakukan pembersihan. "Pembersihan itu sedang berlangsung," ujar sumber itu.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 16 Feb 1999 jam 11:18:10 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
