----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


MAHASISWA MEDAN DIGEBUKI DI MAKODAM I/BB

        MEDAN (SiaR, 17/2/99), Demonstrasi damai yang dilakukan sekitar
50-an aktifis mahasiswa yang tergabung dalam Aksi Solidaritas Mahasiswa
Medan Atas Tragedi Kemanusiaan di Aceh di Makodam I/BB di Jl Binjai-Medan,
berakhir dengan aksi kekerasan yang dilakukan aparat keamanan. Tragedi
berdarah itu terjadi Senin (15/2/99) siang sekitar pukul 13.30 WIB.

        Para mahasiswa yang berasal dari Unika St. Thomas, USU, ISTP, UMSU
dan UMA) melakukan unjuk rasa ke Makodam memprotes perlakuan ABRI terhadap
masyarakat Aceh yang dinilai sewenang-wenang dan mengingkari HAM. Mereka
minta Pangdam I/BB untuk segera menarik pasukan non-organik dari Aceh.

        Para mahasiswa juga menuntut agar militer menghentikan tindakan
represif terhadap rakyat Aceh dan segera mengadili aparat militer yang
melakukan tindakan kekerasan seperti yang terjadi di Idi Cut belum lama
ini. Selain itu, mereka juga menolak keberadaan ABRI di DPR, menolak
Ratih/Kamra dan menuntut agar Dwi Fungsi ABRI segera dicabut. Aksi tersebut
dimulai dengan orasi dan pembagian selebaran di Bundaran Mayestik. Setelah
itu, rombongan mahasiswa kemudian bergerak menuju ke Makodam I/BB.

        Namun bukannya bertemu dengan Pangdam Mayjen Gaffar Rochman, para
pengunjuk rasa itu malah dihadapi dengan popor senapan, sol sepatu tentara
dan gebukan alat HT. Insiden berdarah itu terjadi ketika aparat keamanan
yang menjaga pintu gerbang Makodam I/BB, mulai panas dengan orasi dan
nyanyian-nyanyian mahasiswa yang mengejek mereka. Mahasiswa meminta bertemu
langsung dengan Pangdam. Namun permintaan itu tidak digubris. Letkol A
Sembiring mencoba melakukan negosiasi dengan para mahasiswa dan menanyakan
siapa penanggungjawab aksi tersebut. Serentak para mahasiswa menjawab, "Kami
semua penanggungjawabnya." Jawaban tersebut membuat Sembiring naik darah.

        "Yang kutanya, siapa yang mau bertanggungjawab di sini jika terjadi
apa-apa?" bentak Sembiring, sebagaimana dituturkan Jansen, aktifis dari ISTP
yang kena pukul di kepala bagian belakang. Jansen menuturkan pada waktu itu
tentara yang berjaga langsung membunyikan senjata mereka mendengar teriakan
atasan mereka. Ketika Jansen sekali lagi menjawab bahwa yang
bertanggungjawab adalah semuanya, maka Sembiring tiba-tiba membuka pintu
gerbang. Jansen tiba-tiba ditarik krah bajunya dan dibawa masuk.

        "Kau ini gembongnya, jadi kau yang bertanggungjawab," bentak seorang
tentara, dan sebuah jotosan langsung melayang ke kepala Jansen. Jansen
terjatuh, namun sodokan popor senjata tiba-tiba menikam pundaknya.

        Serentak dengan itu, aparat yang lain tiba-tiba berteriak, "Ayo
masuk, masuk kalian semua ke dalam......"

        Aparat keamanan kemudian mendesak para mahasiswa dengan menggunakan
tendangan, pukulan dan popor senjata agar masuk ke halaman Makodam. Para
mahasiswa pun kocar-kacir.

        Beberapa mahasiswa menyelamatkan diri dengan naik ke angkutan kota.
Namun mereka dikejar seorang tentara. Si sopir berhasil dipaksa untuk
membelokkan angkotnya ke halaman Makodam. Seluruh penumpang kemudian disuruh
turun, para mahasiswa pun kena hajar. Joko Bagus, mahasiswa Fakultas Ekonomi
UMSU, langsung dipukul hidungnya oleh seorang tentara dengan HT. Setelah
terjerembab, popor senapan M-16 langsung mengahajar pundaknya.

        Para mahasiswi juga tidak luput dari tindak kekerasan. Yudith (Fisip
USU), kena tendang sepatu lars dipantatnya. Sedangkan Sri terkena pukulan di
kepalanya. Korban lain adalah Bobi, fotografer Harian Realita Pos. Kameranya
dirampas seorang tentara, dan kemudian filmnya dikeluarkan.

        Tercatat ada 37 mahasiswa yang ditangkap pihak Kodam I/BB. Para
mahasiswa didata dan dicatat identitasnya. Sekitar pukul 14.30 WIB muncul
Kapolsek Medan Sunggal, Tagam Sinaga dan bawahannya. Mereka meminta pihak
Kodam agar para mahasiswa dimintai keterangan di Polsek Medan Sunggal.
Permintaan tersebut dipenuhi, dengan syarat mahasiswa yang mengalami luka
serius dibawa berobat terlebih dahulu ke rumah sakit. Pukul 15.30 WIB
setelah diinterogasi, para aktifis mahasiswa itu kemudian dilepaskan. Selama
proses interogasi, para mahasiswa didampingi para pengacara dari LBH Medan
dan YPBHI Sumut.

        Tindak kekerasan yang diperagakan tentara, sudah tentu berbuntut
protes. Duman Wau, aktifis dari Unika St Thomas, mengatakan bahwa para
mahasiswa sudah merencanakan untuk melakukan gugatan kepada Pangdam I/BB dan
Letkol A Sembiring. Pangdam I/BB akan dituntut dengan tuduhan telah
melakukan tindak penganiyaan dan kriminal terhadap demonstrasi damai yang
dilakukan mahasiswa. Sedang Sembiring dituduh sebagai provokator yang
memulai tragedi berdarah itu.

        "Sembiring itulah yang memprovokasi aparat yang lain untuk melakukan
kekerasan terhadap mahasiswa," ujar Duman Wau. Selain akan melakukan gugatan,
para mahasiswa juga merencanakan akan menggelar demo besar-besaran memprotes
tindak kekerasan itu.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 17 Feb 1999 jam 20:18:26 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke