----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 06/II/18-24 Februari 99
------------------------------

UJIAN AKHIR INDONESIA

(PEMILU): Kekerasan dan praktek politik uang mengancam pelaksanaan pemilu di
Indonesia. Gejala ini secara khusus disoroti oleh Time.

Pemilu 7 Juni mendatang, tak pelak lagi, merupakan momen paling krusial bagi
masa depan Indonesia. Pendapat ini tidak saja muncul dari para pengamat di
dalam negeri. Suara ini juga secara obyektif disuarakan oleh pengamat asing.
Seperti yang dikemukakan oleh James Van Zorge dalam edisi Time edisi Asia
baru-baru ini.

Dalam pemilu itulah, kelak, kesempatan untuk "mendongkel" Golkar dari kursi
kekuasaan. Dan pada saat MPR bersidang untuk memilih presiden, itulah
peluang untuk mendapatkan pemimpin yang dapat dipercaya dan memiliki
legitimasi rakyat. Seandainya semua ini berlangsung mulus, kepercayaan diri
baru akan kembali muncul. Bukan saja untuk menegakkan hukum, tapi juga untuk
menjadikan kembali Indonesia sebagai tempat yang cerah bagi dunia bisnis.

Lalu, bagaimana jika pemilu gagal? Sebetulnya, ada ancaman nyata dalam masa
kampanye partai politik. Selain itu, pada saat pengumuman hasil-hasil pemilu
antara akhir Juni dan awal Juli, pertikaian bisa saja muncul antara partai
yang kalah dengan yang menang. Bila ini terjadi, keadaan akan makin memburuk
menjelang pemilihan presiden. Saat itu, praktek politik uang seperti
jual-beli suara sangat mungkin terjadi. Ini berarti ketidakpastian berlanjut
dan pertanda bagi investor asing untuk mematikan lampu bagi Indonesia.

Masyarakat bisnis internasional sebenarnya sudah bersiap menghadapi yang
terburuk. Banyak ekspatriat yang merencanakan evakuasi keluarganya sebelum
pemilu. Ini cukup beralasan. Sebab, dalam sejarahnya, setiap kali kampanye
sering berarti kerusuhan. Bayangkan apa yang akan terjadi dalam pemilu
multipartai?

Kendati pemerintah telah mengumumkan larangan bagi kampanye jalanan, aparat
keamanan tampaknya tak cukup mampu melarang. Dan akan sangat naif untuk
berpikir bahwa parpol akan menerima begitu saja larangan itu. Cara paling
efektif berkampanye di Indonesia -di mana simbol lebih berarti daripada
substansi- adalah dengan membawa massa turun ke jalan. Ketika pemerintah
sudah menjanjikan pemilu yang bebas, jujur dan terbuka, siapa yang berani
menjamin massa parpol akan berdiam di rumah?

Lebih buruk lagi, ABRI telah menyatakan niatnya melatih ribuan orang sipil
untuk mengamankan pemilu. Ini merupakan malapetaka. Mungkinkah mereka yang
tak disiplin dan tak terdidik ini menjaga perdamaian? Seandainya, kekerasan
benar-benar terjadi -dan itu sangat mungkin- pastilah akan muncul tuduhan
yang sudah tidak asing bagi aktifis pro-demokrasi di Indonesia, yaitu "ada
yang mendalangi."

Pada tahun lalu, kekerasan, penculikan dan peristiwa penembakan mahasiswa
hanya beberapa contoh saja tentang bagaimana kesalahan begitu saja dapat
ditimpakan pada orang lain. Tak pernah ada orang di jajaran tinggi militer
yang pernah dinyatakan bersalah. Bahkan, dalam kasus Jenderal Prabowo yang
sudah cukup memadai bukti-buktinya, belum ada tindak lanjut secara hukum.

Tugas paling berat, tentu saja untuk memastikan pemilu berlangsung dengan
jujur. Berbeda dengan cara penanganan tegas untuk mencegah kekerasan dalam
kampanye, pemerintah dapat melakukan persiapan yang konstruktif dan efektif.
Ada cukup alasan agar bisa menjaga optimisme. Pemerintah misalnya, telah
membolehkan kehadiran pemantau pemilu dari dalam dan luar negeri. Para
rektor dari berbagai kampus di Indonesia telah menawarkan penggunaan 450.000
tenaga relawan mahasiswa di berbagai TPS (tempat pemungutan suara). Jumlah
ini diharapkan bisa mencapai 600.000 relawan untuk mendampingi 100 juta
pemilih pada tanggal 7 Juni nanti.

Namun begitu, perencanaan yang baik tidak akan cukup. Sekalipun pemerintah
mungkin saja bisa meminimalisir kecurangan di berbagai TPS, masih ada
kemungkinan besar bahwa parpol-parpol yang lain bisa saling menuduh curang
satu sama lain. Berbagai partai oposisi -khususnya yang dipimpin oleh
Megawati Soekarnoputri, Abdurrahman Wahid dan Amien Rais- sungguh berharap
bisa memenangkan hati rakyat. Dan banyak memang, orang Indonesia yang
berharap Golkar yang selama ini berkuasa akan kalah.

Tapi, bagaimana jika mereka salah? Melihat mesin-mesin politiknya yang
canggih serta dana besar yang dimilikinya, Golkar bisa saja kembali meraih
suara dalam jumlah besar. Bukan rahasia lagi, bupati-bupati yang sekarang
berkuasa di berbagai kabupaten di Indonesia adalah orang-orang Golkar.

Dan apabila terjadi pertikaian, Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan menghadapi
tugas berat untuk menyelesaikannya. Para anggotanya mesti berlaku imparsial
dan dapat dipercaya. Bila terdapat kesan sikap yang berat sebelah atau
terlihat tak berwibawa dalam menyelesaikan persoalan, legitimasinya akan
mudah hilang. Dan hal itu justru akan mempersulit usaha selanjutnya untuk
memilih presiden yang dikehendaki rakyat dan memiliki legitimasi.

Seandainya para anggota parlemen yang dipilih untuk bertugas, diyakini -tak
soal benar atau salah anggapan tersebut- berada di sana karena permainan
politik kotor, lalu bagaimana presiden pilihan mereka dapat dipercaya?

Untuk menjalankan stabilitas di negeri ini, mau tak mau para elit harus
bekerja bersama untuk memastikan bahwa, siapapun yang meraih kemenangan,
masyarakat akan menganggap hasil tersebut adalah sesuatu yang nyata. Ini
yang sangat sulit. Sebab, kepercayaan rakyat akan kemampuan pemerintah
membenahi negara ini, sudah sangat tipis. Jangan coba-coba lagi membiarkan
pemilu berlangsung dengan kotor. Cuma ini satu-satunya peluang menyelamatkan
negara besar ini. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 18 Feb 1999 jam 10:23:55 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke