----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

From: harera harera
Lanjutkan Budaya "The Wrong Man In The Right Place" (1)

Semasa orde baru bahkan hingga sekarang sering terdengar ungkapan dari
pejabat Indonesia baik yang berkerah necis maupun berkerah dekil, bahwa
Indonesia adalah bangsa yang berbudaya (katanya), ungkapan ini kerap
kali terdengar disaat badut-badut tadi tidak mampu lagi untuk beradu
argumen seperti, jika dunia luar (LSM) menyerang Indonesia menjalankan
wrong Humain Right atawa misdemokrasi.

Oleh karena itu pulalah ungkapan "berbudaya" telah menjadi semacam
"trendy" dalam rangka mengkemas kerakusan masing-masing "insan" dekil
tersebut. Sementara arti tersirat dari ungkapan itu, walaupun diantara
mereka memiliki kesempatan "berontak" atawa tidak setuju dengan hal
tersebut, tapi para badut-badut itu diam untuk setuju asal dapur tidak
terganggu.

Alasan lainnya karena "budaya koreksi" belum banyak dikonsumsi dan masih
menjadi barang tabu di Indonesia, sehingga timbulah campur aduk, kyai
ngurusin negara, tentara jadi dubes bupati atau sekjen, profesor jadi
juru ketik, maka mengkristalah budaya "The wrong man in the right
place".

Budaya inilah yang kini masih diteruskan oleh Pemreformasi, salah
seorang dubes yang baru saja dilantik sebut saja  "awak" . Pada hal
orang tersebut dimasa Pak Harto saja sudah diapkir, tapi kelihatannya
Presiden  ke-3 RI rada terganggu oleh para penasehat afonturirnya,
wallah hualam ..

Bahkan yang paling seram lagi dilantik jadi dubes, tapi pernyataannya
kepada pers si "awak" tadi ingin dakwah di negara akreditasinya,
weleh..... weleh......., diplomasi resiprok yang musti ditingkatkan pak
Dubes !!!!.  bukankah telah mencampur adukan habil dengan nabil ???.
Kalau gula dicampur kopi, susu dan air sih eenakkk.

Jadi sungguh ironis Republik ini. Dan Untuk sekedar diketahui si "awak"
itu bukan hanya orang apkiran pak Harto tapi juga kesukuannya itu
lho.... dan itu terbukti ketika mengirim mahasiswa-mahasiswa Depag (yg
qualitas rendah) ke beberapa negara di TimTeng seluruhnya dari kampung
republik udelnya, KKN plus sukuisme ... ya khan pak Dubes ??

Untuk itu sebagai rakyat pemegang kedaulatan republik ini, semestinya
para penasehat Presiden memberi tahu kualitas orang-orang top deplu yang
dianggap mampu jadi dubes, bukankah deplu sebagai salah satu departemen
yang makan dan tidurnya dengan urusan diplomasi telah banyak memiliki
diplomat karier ??? dan banyak yang qualified ?? (ada sih/banyak juga
yang memble ) sehingga jangan sampai rakyat yang sedang marah besar ini
memberi cap jempol kepada Para pejabat/Birokrat  yang menindak lanjuti
budaya "The Wrong Man In The Right Place".

Sampai jumpa, salam reformasi
Dunia, 18 Februari 1999
Marlboro Man

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 19 Feb 1999 jam 03:08:31 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke