----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


SJAMSU DJALAL JUGA TAK DISUKAI WIRANTO

        JAKARTA (SiaR, 19/2/99), Panglima ABRI Jendral TNI Wiranto ikut
menyetujui pencopotan Mayjen (Purn) Syamsu Djalal sebagai Jaksa Agung Muda
Bidang Intelijen. Menurut Wiranto, Sjamsu Djalal gagal melaksanakan tugasnya
untuk mendampingi Letjen (Purn) Andi Mohammad Ghalib "menyelamatkan" mantan
Presiden Soeharto dari jeratan hukum.

        Demikian penjelasan seorang mantan Kepala Staf Umum (Kasum) ABRI
yang enggan disebutkan namanya. Menurut mantan Kasum yang baru saja pensiun
ini Sjamsu dulu ditugasi untuk menghambat jalannya penyelidikan terhadap
Soeharto.
"Namun belakangan, ia malah meminta Soeharto dijadikan tersangka," ujar
sumber SiaR yang dulu satu angkatan dengan Sjamsu di Akmil itu.

        Penggantian Jaksa Agung yang lalu, Soedjono C. Atmonegoro oleh unsur dari
ABRI, yakni Ghalib, menurut jendral tadi memang dimaksudkan untuk
menghindarkan Soeharto dari pengadilan. Ini karena Atmonegoro sangat
bersemangat mengajukan Soeharto ke pengadilan.

        Wiranto sendiri, ujar sumber itu setuju Sjamsu diganti. Ia sendiri
yang menunjuk Letjen Yusuf Kartanegara menggantikan Sjamsu. Dari bocornya
pembicaraan telepon antara Andi Ghalib dan Presiden Habibie jadi nampak
jelas bahwa pemecatan Sjamsu berkaitan dengan niat Habibie dan Ghalib untuk
melindungi Soeharto. Wiranto sendiri juga tak suka dengan Sjamsu. Menurut
jendral tersebut Sjamsu terlalu banyak omong. Sejak penyelidikannya soal
kasus penculikan aktivis oleh Kopassus, ia berhasil menyeret sejumlah
anggota baret merah ke pengadilan.

        Belakangan, Sjamsu juga dituduh menyebarkan kaset rekaman hasil
penyadapan percakapan telepon Habibie-Ghalib itu, hingga ia dipecat. Namun,
menurut jendral tadi, intrik di antara para pejabat tinggi Kejaksaan Agung
pun ikut berperan dalam penyingkiran Sjamsu. Menurut jendral tadi, Sjamsu
disikat karena dianggap membahayakan posisi para pejabat tinggi itu. Sudah
jadi rahasia umum bahwa para pejabat tinggi Kejaksaan Agung itu korup dan
menerima upeti dari banyak pengusaha. Sjamsu juga tahu betul darimana dana
untuk pembelian mobil dinas BMW untuk para pejabat tinggi Kejaksaan Agung.

        "Sjamsu sendiri sebenarnya bukan orang yang bersih betul. Tommy
Winata, seorang pengusaha, membiayai anaknya yang kuliah di Amerika," ujar
jendral tadi.
Ghalib pun, lanjut jendral tadi juga, bukan pejabat yang bersih. Ia juga
menerima upeti. Baru-baru ini, istri Ghalib dibiayai pengusaha Robby
Tjahjadi ketika menjalani perawatan di Singapura. Hubungan ini menurut
jendral tadi juga ikut mendorong pemecatan Sjamsu.

        Beberapa waktu lalu, Habibie meminta Ghalib agar Tommy Winata
diperkarakan. Alasan Habibie sangat pribadi. Tommy Winata katanya menyerobot
tanah HPH milik keluarga Habibie. Ghalib kemudian memerintahkan Sjamsu agar
mencari jalan untuk memeriksa Tommy Winata. Terang saja, Sjamsu menolak
karena Tommy membiayai sekolah anaknya di Amerika Serikat.

        Pada saat yang sama, kata jendral tadi, Robby Tjahjadi meminta
Ghalib agar memperkarakan Johannes Kotjo alian Kim Johannes. Lagi-lagi
Sjamsu menolak karena perintah mengusut Kotjo semata-mata kerena kepentingan
pribadi Ghalib saja.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 19 Feb 1999 jam 12:03:46 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke