----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


ISTIQLAL (22/2/99)# UMAT ISLAM INDONESIA DEMONSTRASIKAN PERPECAHAN

Oleh: Sulangkang Suwalu


        Tabloid Tekad No 12/thn I memberitakan bahwa Umat Islam punya 30 partai,
yang semuanya memajang bendera agama sebagai dagangan politik. Mereka
bingung memilih.
        Di era reformasi ini, umat mayoritas ini punya setidaknya 30 partai
diantara 120 partai yang mungkin akan bertarung dalam pemilu mendatang.
Mungkinkah ini bentuk kecintaan umat Islam terhadap demokrasi dan kebebasan?
Bisa Jadi. Tapi menurut rektor IAIN Syarief Hidayatullah, Dr Azyumardi Azra,
pendirian banyak partai membuat friksi dan konflik antar umat semakin
meluas. Jumlah partai Islam yang kemunculannya sebagai efek euphoria, telah
out of control.
        Diantaranya partai-partai yang memajang bendera agama Islam tsb ialah: PBB,
PKB, PPP, PAN, Partai Keadilan, Partai SUNI, PKU, PNU, PUI, Masyumi Baru
(Ridwan Saidi) dan Masyumi (era reformasi-Mawardi Nur).
        Banyaknya partai Islam ini, dalam pandangan Azyumardi mengancam ukhuwah
Islamiah. Sebab mereka akan lebih mengkedepankan kepentingan politik partainya.
        Bukan kah banyaknya partai Islam itu hanya untuk mendemonstrasikan
perpecahan umat saja? Atau kah itu untuk membenarkan apa yang dikatakan Arif
Rahman dalam Pelita (8/12/95) banwa "Islam tunggal hanya ada dalam ide".

UMAT ISLAM BELUM PERNAH BERSATU
        Menurut Arif Rahman dalam karyanya diatas, banwa secara de facto historis
umat Islam memang belum pernah bersatu (dalam arti tidak saling mendepak),
terkecuali pada marhalah (masa) Rasulullah. Namun ketika sepeninggal beliau,
apalagi sepeninggal Khulafah Al-Rasyidin, beberapa wajah umat Islam tidak
lagi menampakkan kedamaian. Mereka cenderung menjadikan agama (Islam)
sebagai tameng atau topeng untuk melegitimasi kekuasaan, kedudukan dan
kepentingan parsial. Mereka tak sungkan-sungkan memberi label gerakan dan
tindakannya dengan "mengatasnamakan Islam", padahal dibelakangnya
bersembunyi niat-niat hipokrit dan heteronom. Mereka ini lah orang yang
memiliki sentimen bahamiyah (hewani).
        Untuk memperkuat kesimpulannya, Arif Rahman mengutip Noercholish Madjid
yang mengatakan "Islam barangkali memang tunggal secara utuh, namun ketung
galan secara utuh itu hanya ada dalam ide, sedang kenyataan historis selama
15 abad kehadirannya, Islam menunjukkan keragaman dari satu masa dan dari
satu tempat keragaman itu, tidak kurang kompleks dan ruwetnya dibanding
dengan apa yang terjadi pada agama atau sistem ideologi manapun (Noercholish
Madjid dalam Taher, 1994: 30).
        Tentang tidak tunggalnya Islam di Indonesia ditunjukkan pula oleh Gus Dur
dalam ceramahnya di Australia, dengan mengemukakan ada tiga (3) macam
gerakan Islam: gerakan "Islam kultural" yang menginginkan pembudayaan Islam;
dan gerakan "sosio kultural" yang menginginkan masyarakat Indonesia yang
adil dan makmur; gerakan" Islam ideologis" yang menginginkan Indonesia
menjadi negara Islam. (Merdeka, 27/11/95).
        Dan apa yang terjadi dengan banyaknya partai yang memajang bendera Islam
tersebut?

KYAI DIPEREBUTKAN
        Masing-masing partai yang memajang bendera Islam itu berusaha untuk menarik
kyai-kyai supaya bergabung pada partainya. Menurut Choirul Anam, Ketua DPW
PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) Jatim bahwa banyak Kiayi-kiayi NU yang
didatangi para aktivis partai selain PKB, baik partai lama maupun partai
baru. Bahkan kata dia, ada Kiayi yang mengaku sempat diiming-iming uang
sebesar Rp 5O juta untuk bergabung ke suatu partai.
        Ulama dari Ormas Islam lainnya, seperti Muhammaddiyah tak luput dari
fenomena semacam itu. Ketua DPW Muhammaddiyah Jatim (Kiayi H. Abdurrahim
Nur), misalnya, sempat diperebutkan antara PBB dan PAN. Menurut Kiayi Haji
Abdurrahim Nur bukan diperebutkan, tetapi ditawari. Akhirnya setelah PAN
berdiri, ia menjadi Ketua DPW PAN Jatim. Tetapi PBB juga berhasil menggaet
KH Mukhodas sebagai Ketua DPC PBB Malang dan Hasyim Manan sebagai sekretaris
DPW PBB Jatim.

SALING SIKUT DI KOTA BATIK
        Lain lagi yang terjadi di kota Batik. Perebutan massa antara partai Islam,
terutama di basis PPP, tampaknya tidak hanya terjadi di Kabupaten
Pekalongan, juga terjadi di Kabupaten Tegal, Kodya Magelang, Demak, Kudus,
Rembang dan Pemalang. Di Kabupaten Brebes, bahkan melibatkan Partai
Keadilan. Lantaran menentang berdirinya partai Keadilan di Kecamatan
Bumiayu, Brebes, massa tega merusak Toko Kelontong milik pengurus partai tsb.
        Tak pelak persaingan ini melahirkan gesekan-gesekan diantara massa
pendukung, yang jika tidak mampu tokoh-tokohnya mengendalikan bulan tidak
mungkin akan memperburuk peta politik lokal. Ini karena mereka sudah berebut
simbol-simbol agama untuk kepentingan politik tertentu.
        Situasi puluhan berdirinya partai yang memajang bendera Islam tersebut,
telah mengeluarkan pendapat bahwa kyai jangan jadi bajing loncat.

TAK PUNYA PROGRAM YANG JELAS
        Azyumardi Azra, pengarang buku "Jaringan Ulama" dalam keterangannya pada
tabloid Tekad (No 12/thn I) mengemukakan adalah negatif jika kyai terjun ke
kancah politik. Kiayi ini harus diatas politik, karena mereka seharusnya
memainkan peran sebagai penjaga dari moral politik itu sendiri.
        Pimpinan Puskami (Pusat Kajian Masyarakat Islam) ini bahkan memandang sinis
kiayi yang cuma bukan aktif di parpol, tapi juga berpindah-pindah dari satu
parpol ke parpol lain. Sikap seperti itu hanya akan mengakibatkan terjadinya
kemerosotan muru'ah atau integritas pribadi kiayi itu sendiri. Kiayi bajing
loncat seperti itu lebih tepat menjadi politisi ketimbang seorang kiayi.
        Menurut Azyumardi dia melihat partai-partai baru yang ada belum siap dengan
supra struktur yang baik. Sejauh ini, mereka baru adu mulut antara satu
partai dengan partai lainnya.
        Saya belum melihat, ujar Azyumardi selanjutnya, ada partai yang serius
memberikan program yang jelas, yang bisa dilaksanakan untuk masa depan atau
mengatasi krisis. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk bertengkar
satu sama lain dan menggalang massa dengan figur-figur yang dipandang
kharismatik. Baru sampai batas itu.
        Bila Azyumardi mengatakan belum ada diantara partai-partai yang memajang
bendera Islam itu mempunyai program untuk masa depan, itu benar sekali.
Malah dipertanyakan: apa kah partai-partai Islam yang 30-an itu sudah ada
yang hendak membumikan, misalnya Surat Al Qashash Ayat 5 dan 6, yang
berbunyi: "Dan kami hendak memberi karunia kepada orang-orang tertindas
(mustadhafhin atau dhuafa) di bumi dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan
menjadikan mepeka orang-orang yang mewarisi bumi. Dan kami tegakkan
kedudukan mereka di bumi."
        Tampaknya belum ada sebuah Partai yang memakai bendera Islam itu yang
programnya untuk menjadikan kaum mustadhafhin menjadi pemimpin di bumi dan
menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi bumi. Malah yang banyak
membiarkan kaum mustakbirin (para tiran, angkuh dan kaya) meneruskan
kekuasaannya, sehingga kaum mustadhafhin tetap tertindas dan miskin.

MENGAPA UMAT ISLAM PECAH DALAM BANYAK PARPOL?
        Menjadi pertanyaan: mengapa umat Islam Indonesia pecah dalam banyak partai?
Mengapa tidak hanya satu saja? Dan apakah mungkin bisa semuanya menjadi
satu, sedang kedudukan sosial ekonomi umat Islam masih berbeda-beda,
terutama antara kaum mustadhafhin dengan kaum mustakbirin?
        Terdapatnya perbedaan kedudukan sosial ekonomi umat Islam Indonesia antara
yang mustadhafhin dengan yang mustakbirin diperparah pula dengan terdapatnya
beberapa mazhab yang dianut. Ada yang Syafei, ada yang Maliki, Hambali,
Hanafi dan malah Syiah.
        Perpecahan di kalangan umat Islam ini memang sudah dibayangkan oleh Nabi
Muhammad sendiri, melalui hadisnya yang mengatakan: "Umatku akan pecah 73
firqoh. Semuanya ke neraka. Kecuali satu...". Dan mana yang satu itu"
Masing-masing dari yang 73 itu mengaku dirinyalah yang satu itu. Yang lain
menurutnya, adalah jalan ke neraka.
        Pengakuan yang demikian jugalah yang terbayang dari partai-partai yang
memajang bendera Islam tersebut. Masing-masing mengaku: partainyalah yang
benar. Yang lain... tentu tidak benar. Mana yang sungguh-sungguh benar,
masih harus dibuktikan lebih dulu.

KESIMPULAN
        Jelas kiranya bahwa selagi permeluk umat Islam di Indonesia kedudukan
sosial ekonominya berbeda-beda, ada yang mustakbirin dan ada pula yang
mustadhafhin, selama itu pulalah tak akan ada persatuan dalam umat Islam
dalam arti yang sesungguhnya. Dengan berbedanya kepentingan sosial ekonomi
umat, akan berbeda pula komitmen kemanusiaannya masing-masing.
        Situasinya tentu akan menjadi lain, bila masyarakat Tauhidi telah membumi,
dimana kelas-kelas telah lenyap? seperti yang dikemukakan Mansour Fakih
"Mencari teologi kaum tertindas" (Dalam buku "Refleksi pembaruan pemikiran
Islam, 70 tahun Harun Nasution", 1989, hal. 171-172);  tak ada lagi kaum
yang menindas, Al Qashash 56 telan menjadi kenyataan (kaum tertindas dan
miskin telah menjadi pemimpin di bumi). Ketika itulah baru Islam tunggal
tidak hanya dalam ide, tetapi juga dalam kenyataan.***


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 22 Feb 1999 jam 11:19:35 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke