----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

From: iwans

    Bagaimanapun cukup banyak yang mengenal sosok Gus Dur, Ketua Umum
PBNU sebagai orang yang demokratis, toleran dan berpandangan luas. Meski
juga begitu banyak yang meragukannya, apalagi dengan langkah politiknya
baru-baru ini yang mendekati Pak Harto. Bagaimana sikap Gus Dur
sebenarnya ? Siapakah dia sebenarnya ? Berikut kesaksian adik kandung
Gus Dur, Ir Shalahuddin Wahid :
    Selamat Membaca.

=======================

Ir Salahuddin Wahid tentang
KH Abdurrahman Wahid

     Konflik yang sejuk, begitulah gambaran polemik antara H Abdurrahman

Wahid dan Ir Salahuddin Wahid. Sebagai kakak beradik keturunan syeikh
besar KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama, keduanya memberi
pelajaran kepada jamaahnya, bahwa berbeda pendapat setajam apa pun tak
harus membuat hubungan keluarga jadi gersang.
     Cukup pedas juga kritik sang Adik, "Mereka membohongi ummat dengan
menyatakan seakan-akan PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) itu partainya
NU." Sebab menurut arsitek lulusan ITB ini, tujuan PKB sama sekali
berbeda dengan tujuan NU yang ingin menegakkan syariat Islam dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara.
     Berdasar pernyataan ketuanya sendiri, Mas Sholah --demikian ia
biasa
dipanggil di kalangannya-- menegaskan, PKB bukan partai Islam, ia
partai sekuler. Debat pemikiran antar keduanya juga terjadi di media
massa. Mulai dari
hubungan Islam dan negara, tentang dukungan Gus Dur pada Megawati,
tentang pandangan ayah mereka KHA Wahid Hasyim soal negara, sampai
soal kepartaian.
     Di dalam tubuh NU, Shalahuddin telah tumbuh menjadi simbol baru
bagi
keberanian berbeda jalan dengan H Abdurrahman Wahid, tokoh yang selalu
menarik perhatian banyak kalangan dalam dan luar negeri karena
langkah-langkah kontroversialnya.
     "Saya mengagumi Gus Dur sebagai pemikir besar. Tapi saya tidak
setuju
pada pemujaan yang berlebihan kepadanya. Kalau dia salah, tetap harus
diingatkan," kata anak ketiga KHA Wahid Hasyim ini tentang kakak
sulungnya itu.
     Perbedaan jalan itu dipahatkan dengan berdirinya Partai Kebangkitan

Ummat (Partai-KU), yang beraqidah Islam, dan bertujuan sama persis
dengan tujuan gerakan Nahdlatul Ulama. Shalahuddin bersama tokoh NU
lainnya, bergerilya ke seluruh Indonesia menjelaskan duduk perkara
ijtihad politik mereka. Mereka berniat meluruskan jalan politik kaum
nahdliyin. "Kalau PKB sejalan dengan hakikat NU, kami tak akan bikin
partai, kami akan dukung," tegas pengagum Bung Hatta, Jenderal
Sudirman, dan Sri-Sultan Hamengkubuwono IX ini.

     Baginya, menentang ide negara sekuler versi Gus Dur harus dimulai
dari
sekarang. Jika tidak, bukan tak mungkin dalam waktu 30 tahun Indonesia
mengalami nasib seperti Turki, di mana Islam menjadi sesuatu yang
asing, bahkan dianggap penyakit. "Gus Dur tidak memperjuangkan Islam,"
simpulnya.

     Ck..ck..ck.. Alhamdulillah, sudah begitu keras pun
kritik-kritiknya,
kedua abang-adik ini syukurnya masih bergaul dengan baik. Sang Adik
yang memiliki dua putera dan seorang puteri masih rajin mengunjungi
abangnya di Ciganjur. Irfan Asy'ari Sudirman, Iqbal Dorojatun, dan
Arina Saraswati, anak-anak Salahuddin, serta ibu mereka, Farida, tetap
bersenda-gurau dengan isteri dan puteri-puteri Gus Dur. Begitu juga
ayah-ayah mereka.

     Kepada Haryono dan Wisnu Pramudya dari TEMPO, lelaki 55 tahun yang
pandai
menyanyi ini menjelaskan pikiran dan tindakannya. Ia sempat
mengingatkan agar kata-kata yang terlalu keras diperhalus, supaya tidak
mengganggu hubungannya dengan si Abang. Berikut petikan obrolan kami di
kantor partainya, dan di rumahnya.

(+) TEMPO : Bagaimana rasanya jadi cucu Hadratusy Syeikh pendiri
organisasi Islam
terbesar sedunia?

(-) Shalahuddin Wahid : Hem, biasa saja. Soalnya, di dalam keluarga,
saya tumbuh jadi orang
yang paling berjarak dengan NU. Saya dulu sekuler sekali. Saya nggak
peduli sama gerakan keagamaan. Nanti saya ceritakan bagaimana saya
berubah. Tapi memang, kalau ke daerah-daerah, orang-orang menyambut
saya  sebagai cucunya KH Hasyim Asy'ari dengan cara yang sangat luar
biasa, dan sama sekali di luar dugaan saya. Masya Allah itu. Kedudukan
saya jadi semacam jaminan, sehingga mereka menerima kami dengan mudah
sekali.

(+) Bagaimana lapisan bawah di NU menanggapi perbedaan pendapat yang
keras
antara Anda dan Gus Dur?

(-) Alhamdulillah, sampai saat ini tidak sampai ada bentrokan antara
Partai-KU dan PKB. Walaupun, surat protes yang kami ajukan ke PBNU
tanggal 7 Nopember tahun lalu belum juga dijawab sampai sekarang. Soal
satu-satunya partai yang diakui PBNU adalah PKB.

(+) Bagaimana profil pendukung Partai-KU ini?

(-) Ya, warga nahdliyin. Kalau dapat delapan persen suara saja sudah
bagus. Dari seluruh warga NU, rasanya sepertiganya akan mendukung kami.
Para kiai yang tadinya di PKB tidak sedikit yang pindah ke sini. Dan ini
fakta. Mendekati Pemilu, eksodus ini bahkan semakin deras saja.
Alhamdulillah.

(+) Apa yang membuat mereka sampai pindah?

(-) Ya kami berusaha menjelaskan, PKB itu bukan partai Islam, jangan
sampai terkecoh. Mana buktinya? Ini AD/ART-nya sama sekali tidak memuat
aqidah Islam. Gus Dur-nya juga tidak memperjuangkan Islam, karena dia
tidak setuju Islam jadi sumber perundang-undangan di
Indonesia. Saya tidak memfitnah, di mana-mana Gus Dur memang bilang
begitu. Pak Mathori sendiri bilang PKB bukan partai Islam, partai Islam
ketinggalan zaman. Ya, monggo silakan. Bagi saya kalau tidak ada partai
Islam, tidak ada kemerdekaan Indonesia. Negara Republik Indonesia tidak
ada, kalau tak ada partai Islam.

(+) Kenapa begitu?

(-) Faktanya memang begitu. Yang faktual saja, coba Anda lihat Pembukaan
UUD 45, itu kan Islami
bener. Apa mungkin sesuatu yang sangat Islami ditafsirkan secara
sekuler? Apa kita tidak akan mengakui bahwa kemerdekaan Indonesia
merupakan rahmat dari Allah yang Mahakuasa?
     Kita punya empat buah undang-undang dasar sejak merdeka. Semua
tetap
memakai pembukaan yang sama, yang sama sekali tidak sekuler. Artinya
apa, yang paling berhak menafsirkan rumusan negara ini kan para bapak
pendirinya. Tafsiran mereka ada dalam pembukaan itu.
     Sila Ketuhanan tadinya diletakkan di urutan kelima oleh Bung Karno.

Tapi oleh tokoh-tokoh Islam, lewat sebuah perdebatan, sila itu jadi
sila pertama yang menurut tafsiran mereka sama dengan surat al-Ikhlas.
     Telaah inilah yang membuat saya sadar, nggak bener kalau Indonesia
dijadikan negara sekuler, seperti kehendak Gus Dur. Saya tadinya
sangat sekuler, baik dari segi pandangan politik maupun kehidupan
keagamaan sehari-hari.
     Dulu kawan-kawan saya banyak Cina dan Kristen, makan saya seenaknya

saja, tapi tetap shalat. Setelah saya baca-baca, saya menyadari saya
keliru. Sampai akhirnya saya akhirnya bergabung di beberapa kelompok
pengajian. Terakhir saya masuk ICMI.

(+) Anda melihat proses ini sebagai taubat?

(-)  Iya, baik secara pribadi maupun secara pandangan politik, ini
taubat.
(tertawa)

(+) Jadi latar belakang berdirinya Partai-KU karena kekuatan politik
utama
di NU mendukung Megawati dan beraliran sekuler?

(-) Itu alasan ketiga. Yang pertama, karena AD/ART-nya tidak sejalan
dengan NU, tujuannya tidak sama, tapi mereka meng-klaim sebagai
partainya orang NU, kan itu artinya membohongi ummat.

(+) Kalau tujuannya sama dengan NU Anda bergabung dengan PKB?

(-) Saya akan mendukung, tapi tidak akan jadi pengurus, karena Gus Dur
tahu bahwa saya selalu berhadapan secara frontal dengan dia selama
ajakannya masih menuju sekularisme. Jangankan saya, orang yang
dekat-dekat saya saja tidak dibolehkan. Dia bilang dalam rapat PKB,
kawan-kawan Sholah jangan ada yang masuk sebagai pengurus.

(+) Kalau begitu Gus Dur tidak demokratis dong.

(-) Memang tidak, dalam banyak hal Gus Dur memang tidak demokratis. Saya

diberitahu, sebenarnya PBNU tidak menginginkan Mathori sebagai ketua
partai. Pilihan mereka pada KH Mustofa Bisri, tapi lalu diveto Gus Dur,

maka jadilah Mathori Ketua PKB. Menurut Gus Dur dia yang berani
melawan Ismail Hasan Metareum dan punya pengalaman jadi sekjen sebuah
partai politik. Alasan yang paling penting karena Mathori juga
berpikiran sekuler. Itu yang terpenting.

(+) Menurut Anda, Indonesia yang diimpikan Gus Dur itu yang bagaimana
sih?
Seperti Turki begitu?

(-) Ya, kayak Turki. Dia pernah menulis di Jawa Pos, pas waktu kami
deklarasi di Jombang, dia bilang pilih Turki atau pilih Iran. Lalu
saya menanggapi dengan tulisan juga, kita nggak perlu memilih, wong
kita sudah punya Indonesia, dan kita sudah tahu jawabannya.
     Sejak UU Perkawinan itu disahkan tahun 1973, kita sudah memantapkan

diri sebagai negara yang religius yang landasan kesatuannya Pancasila.
Islam sudah jadi sumber hukum lewat berbagai perundang-undangan.
     Jadi negara itu sudah tidak perlu dipermasalahkan lagi, karena kita

sudah menjalaninya paling tidak selama 25 tahun. Itu kan kerjaan yang
nggak produktif.
     Pertanyaan saya, kenapa Gus Dur melakukan itu? Saya mencoba mencari

jawaban lewat polemik saya di Media Indonesia. Sudah dibukukan, nanti
saya kasih.

(+) Sebenarnya, menurut wawasan Anda, seberapa besar bibit-bibit
sekularisme yang sudah tumbuh dalam penyelenggaraan negara kita,
sehingga partai Anda menjadikan itu sebagai salah satu alasan
berdirinya?

(-) Kita pernah mengalami di tahun 1970-an, berjilbab tidak boleh, orang

yang berwarna Islam dalam politik didiskriminasi, di tentara, di
pemerintahan,
di perguruan tinggi dihambat karirnya. Kalau seperti di Turki, dakwah
benar-
benar dihambat dengan aturan formal. Jangan Anda  bilang nggak mungkin
sampai begitu, wah, itu kan proses yang panjang,  tahu-tahu kita
sudah berada di dalamnya.
     Anak-anak PMII yang berdialog dengan saya saja bilang, kenapa kita
harus melakukan formalisasi agama? Formalisasi agama itu seperti apa,
tanya saya? Itu perundang-undangan. Lho, sekarang saya tanya, apa Anda
mau menikah dianggap sah oleh undang-undang tapi tidak sah menurut
Islam? Mereka nggak mau. Lho, kalau aturan agama tidak diformalkan ya
akan begitu.
    Dulu RUU Perkawinan diajukan oleh Golkar yang dikuasai kaum sekuler.

Isinya, pasal pertama mengenai definisi perkawinan yang sah, yaitu yang
tidak
bertentangan dengan RUU perkawinan itu. Artinya biarpun bertentangan
dengan
ajaran Islam tidak masalah. Kalau menurut UU yang sekarang, perkawinan
dianggap sah bila dianggap sah menurut ajaran agama masing-masing.
    Lalu di RUU Perkawinan itu juga diadakan lembaga pertunangan, kan
tidak ada itu dalam Islam. Malah disebut, jika hamil di masa pertunangan

itu langsung dinikahkan. Itu kan sama saja menyuruh orang berzina.
Apa ada tafsiran lain?
    Apa itu yang kita kehendaki? Kan nggak. Sebenarnya dalam hal
hubungan
Islam dan negara kita sudah mengalami kemajuan banyak sekali. Kalau
Pak Harto belakangan mendekat ke Islam tapi kelakuannya makin tidak
karuan dalam kekuasaan, kan bukan salah undang-undangnya.

(+) Selain dalam hukum dan perundang-undangan, hal-hal lain apalagi yang

menurut visi Anda bisa mencerminkan Islam dalam hubungannya dengan
penyelenggaraan negara?

(-) Semua hal-hal yang baik dalam negara kan dirangkum oleh Islam,
terutama asas keadilan. Hukum juga mesti ditegakkan dengan konsekuen
tanpa pandang bulu, seperti Nabi yang siap memotong tangan puterinya
sendiri kalau memang dia mencuri.
     Akhlak juga begitu, jangan seperti sekarang, para pemimpin muslim
saling memaki, menuduh, dan memfitnah. Kan Islam tidak mengajarkan
begitu. Dalam Islam kan ada balaghah, bertutur, berkomunikasi yang
baik tetapi lugas ditangkap orang, tidak bermakna ganda. Jangan
ngomong begini terus bersayap, tidak jelas maksudnya apa.

(+) Bagaimana visi partai ini dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat,
yang selama Orde Baru tercipta jurang kaya miskin yang dalam?

(-) Semua perundang-undangan atau ketentuan pemerintah dan segala
kebijakannya yang bertentangan dengan usaha itu, harus dihilangkan.
Pengusaha kecil, petani, dan nelayan harus dibimbing secara serius
untuk memperbaiki hidup mereka.

(+) Jadi bagi Anda pemerintah yang sekarang cukup baik?

(-) Dalam retorika ya, tapi kan masih harus kita ikuti terus
perkembangannya. Sebab di samping aturan mainnya baik, orang-orangnya
juga harus berakhlak.
     Jangan seperti di zaman Orde Baru, manipulasi sudah jadi bagian
dari
aturan main dari atas sampai bawah. Itu hasil audit perusahaan
dibedakin, didandani sesuai keinginan. Akhirnya ekonomi kita tidak
pernah nyata, bohongan semua.
     Pak Harto tahun 1986 dapat penghargaan FAO karena swasembada beras.

Beberapa tahun kemudian kita jadi pengimpor beras terbesar.

(+) Gambaran tentang Islam politik sering dimanipulasi jadi sesuatu yang

mengkhawatirkan, bahkan oleh kalangan muslim awan sendiri. Bagaimana
partai Anda menghindari citra seperti ini?

(-) Kita juga harus menyadari kenapa penampilan Islam seperti itu. Pegas

itu kalau ditekan, dia akan berbalik melenting. Pendulum juga begitu,
kalau ditarik jauh-jauh ke kanan, begitu dilepas akan bergerak ekstrem
sekali ke kiri. Tapi pada akhirnya akan sampai ke titik setimbang
juga.
     Kalau Theo Syafei itu saya nggak tahu juga kenapa dia sampai
ketakutan
begitu. Jangan-jangan karena Gus Dur ngomong ada yang mau mendirikan
negara Islam, padahal Gus Dur ngarang itu. Siapa yang mau mendirikan
negara Islam? Ada sih pasti ada, tapi berapa banyak sih?
     Tapi setelah saya pelajari, sebenarnya ngarang-nya Gus Dur itu
karena
ketidakmautahuan dia saja, atau karena ketidaktahuan. Bagi dia
pilihannya hanya dua, negara nasional sekuler, atau negara Islam.
Padahal dua-duanya kita tolak sejak berdirinya negara ini. Yang
dipilih berupa konsensus nasional berbentuk negara kesatuan yang
religius, yang ditengahi oleh Pancasila. Gus Dur bilang negara
Pancasila itu bohong, ya boleh saja. Kata kuncinya kan bagaimana kita
menafsirkan Pancasila.

(+) Menurut Anda kenapa tidak ditegaskan saja negara agama?

(-) Ya orang Kristen pada nggak mau dong. Negara Islam kan menjadikan
Qur'an dan Sunnah sebagai sumber segala hukum, mereka tidak mau.

(+) Tapi mendiang IJ Kasimo (tokoh Partai Katolik) pernah menyatakan,
setuju 200 persen pada negara Islam seperti yang diinginkan Masyumi di
masa demokrasi liberal dulu?

(-) Ah masak? saya baru dengar itu.

(+) Pernah diungkapkan Yusril (Ihza Mahendra) dalam sebuah wawancara.

(-) O begitu. Tapi Pak Kasimo tidak mewakili seluruh golongan Kristen.
Terlepas dari itu saya melihat perubahan pada diri orang-orang seperti
Franz Magnis Suseno SJ. Dulu dia sangat menentang berbagai
undang-undang yang bersumberkan syariat Islam, sekarang dia lebih bisa
menerima. Dia sudah bisa melihat realitas yang sudah tidak bisa diubah
lagi.
     Kalau Gus Dur, saya benar-benar nggak ngerti apakah dia bersikap
begitu taktik atau apa. Tapi kalau taktik, masak dia bermain dengan
hal yang prinsip begitu.
     Dengan ucapan-ucapannya Gus Dur justeru menimbulkan ketakutan di
kalangan orang Cina dan Kristen. Misalnya menteri-menteri yang
anti-Cina, tudingan-tudingan pada dalang kerusuhan, dan lain-lain.

(+) Menurut Anda, kenapa seorang pemimpin dengan kepribadian yang kuat
dan
kharismatik di mata pengikutnya bisa bersikap seperti itu?

(-) (Suaranya datar, nadanya rendah sekali waktu menjawab ini) Ya ndak
tahu saya. Buat ummat Islam itu sebuah tragedi. Seorang yang begitu
hebat, tapi sikap politiknya begitu. Kata dan perbuatannya juga sering
tidak sama. Bagi sebagian orang NU, Gus Dur adalah lambang ketidak
demokratisan.

(+) Itu kan bagi orang yang tidak terakomodasi dalam kepengurusan NU?

(-) Iya, bukan cuma tidak diakomodasi tapi dimusuhi. Lho, Anda apa tidak

merasa bahwa sambil merangkul orang-orang Kristen Gus Dur malah
memusuhi muslim yang lain? Kenapa Gus Dur begitu? Saya juga tidak
paham.
     Pernah saya lontarkan waktu ada seminar NU yang bersama Uskup Belo,

berbicara tentang kebhinekaan. Saya bilang pada panitianya, bagaimana
Anda bicara kebinekaan kalau kalangan yang jumlahnya besar sengaja
tidak Anda undang di sini? Siapa, kata mereka. Muhammadiyah Anda tidak
undang, eks-Masyumi Anda tidak undang. Ini kebhinekaan yang nonsense,
saya bilang. Mereka langsung diam dan tertunduk. Gus Dur melengos.

(+) Bukankah kedekatan NU dengan kalangan nonmuslim justeru menunjukkan
unggulnya ketokohan Gus Dur karena diterima oleh semua pihak?

(-) Saya bilang, saya bukannya tidak setuju dengan sikap itu. Tapi
sambil
dekat dengan pihak lain, dia memusuhi muslim sendiri, itu yang saya
tidak setuju.
     Seperti waktu kasus Monitor. Bahwa pemrednya harus di bawa ke
pengadilan, tidak dibredel, saya setuju dengan Gus Dur. Tapi saat Gus
Dur memaki-maki orang-orang yang marah di kantor tabloid itu, saya
tidak setuju. Mestinya sebagai pemimpin dia datangi dong orang-orang
itu, ditenangkan, tidak dimaki-maki.

(+) Apa yang paling berperan melahirkan banyaknya partai di tubuh NU
sendiri? Apa bukan karena konflik yang memang sudah lama terjadi,
misalnya sisa-sisa Cipasung?

(-) Itu juga berpengaruh, tetapi bukan yang paling dominan. Seperti Pak
Fahmi (Saifuddin), dia mendukung Partai-KU tapi tidak aktif karena
kesehatannya. Dia orang bagus dan hubungannya baik dengan Gus Dur,
karena Fahmi abang ipar saya. Kalau waktu di Cipasung pemerintah tidak
ngawur, Fahmi menang. Soalnya Gus Dur sebenarnya sudah tidak mau maju.
Tapi kalau waktu itu Fahmi tidak mundur, Abu Hasan yang bakal menang.

(+) Kenapa Anda waktu di Cipasung lebih mendukung Fahmi?

(-) Pertama, Gus Dur itu sudah terlalu lama duduk di kursi ketua. Kalau
kita memilih dia lagi kita akan jadi tergantung padanya. Kedua,
Anggaran
Dasar NU mengatakan kekuasaan sesungguhnya ada di
tangan Syuriah. Karenanya, orang dengan otoritas seperti Gus Dur
seharusnya diletakkan pada tempatnya, karena Tanfidziyah itu pelaksana
kebijakan.
     Ketiga, Gus Dur itu tipe pemikir yang luar biasa hebat, tapi tidak
bisa mengelola organisasi dengan baik. Tanfidziyah biarkan dipegang
orang yang tekun berorganisasi. Kalau dipegang oleh organisator yang
tekun, apa yang akan dikerjakan?
     Wo, banyak sekali, membangun sekolah, rumah sakit, universitas.
Yang
sekarang ini ada, lembaga-lembaga seperti itu didirikan sendiri di
luar
inisiatif PBNU.

(+) Sebagian orang masih ragu, pemilu yang akan datang bisa berjalan
adil
dan jujur. Bagaimana perkiraan Anda?

(-) Kalau bisa nggak usah ada kampanye pengerahan massa lah, riskan
sekali. Kalau bisa kampanye dialog-dialog saja.

(+) Kalau untuk kampanye saja tak boleh ada pengerahan massa, berarti
pemerintahan yang dihasilkan juga nampaknya tidak akan terlalu kuat
kan?

(-) Nampaknya begitu. Tapi memang seharusnya tidak usah ada kekuatan
yang
dominan seperti Golkar dan ABRI dahulu. Saya melihatnya begini, di
satu sisi ada PDI-Megawati, PKB, PNI, dan PKP dan partai-partai
nasionalis
kecil lainnya akan saling mendekat. Di lain sisi ada PPP, PBB, PK, PKU,
PUI, PNU
dan partai-partai Islam lainnya. Nah di tengah-tengah ada PAN dan
Golkar.
Siapa pun yang menang akan balance. Karena kekuatan dominan untuk
memilih
presiden hanya bisa tercapai oleh koalisi minimal tiga partai. Dan
nampaknya
hasil koalisi  itu paling bisa 65 persen, ini bagus, karena tidak akan
jadi mayoritas
tunggal.
     PAN Amien Rais nampaknya tidak akan bergabung dengan PKB. Saya
tidak
tahu kenapa selama ini Gus Dur bersikap antipati sama Amien. Saya
menduga itu
karena Amien tidak bisa dia kendalikan, sedangkan Mega  sangat bisa dia
kendalikan, maka keduanya dekat.

(+) Anda mengalami taubat dari masa-masa sekuler dulu. Bagaimana supaya
anak-anak tidak mengalami masa-masa seperti Anda dulu?

(-) Yang paling penting saya tanamkan tauhid. Fiqhnya bisa mereka cari
sendiri. Juga yang lebih banyak saya tanamkan akhlak Islam seperti
kejujuran, tanggung jawab, berani karena benar, takut karena salah.
Tidak anti-Kristen, tidak anti-Cina, tapi berani karena benar.

(+) Bagaimana mereka melihat pakde-pakde dan eyang-eyangnya berpolitik?

(-) Nggak ada masalah. Kalau harus berkunjung ke Pak Dur, ya datang. Ini

pelajaran demokrasi yang baik sekali bagi keluarga kami.

(+) Dalam Forum Nahdliyin untuk Kajian Strategis, apa saja yang
dipandang
sebagai persoalan-persoalan strategis?

(-) Saya mulai mendalami politik di sini, belajar, membaca, berdiskusi,
menulis di sini. Kami sedang mulai membangun jaringan intelektual NU.
Dalam hal ini kita harus berlapang hati mengakui, kita kalah dari
Muhammadiyah.

(+) Intelektual NU kan lingkarannya ada di sekitar Gus Dur.

(-) Sebagian memang iya. Tapi jumlahnya berapa sih? Kan tidak banyak.
Din
Syamsudin itu keluarga NU, masuk IPNU, lalu melanjutkan ke IMM dan
Pemuda Muhammadiyah. Orang-orang seperti ini banyak.

(+) Pernyataan Cak Nur bahwa di tahun 2020 NU akan kebanjiran
intelektual
itu saya rasa benar. Masalahnya nanti kalau sudah terjadi kita bisa
mendayagunakan dengan baik atau tidak.

(-) Intelektual NU itu sekarang banyak, hanya saja sikap-sikap pemujaan
terhadap Gus Dur itu yang ditolak oleh orang-orang seperti saya.
Saya melihat NU ini ada yang keliru. NU ini organisasi ngomong,
organisasi verbal, bukan organisasi berbuat. Yang membangun
sekolah-sekolah NU itu kan para kiai secara independen. Kalau kegiatan
sosial Muslimat lebih maju. Kalau NU ya kegiatan politik dan pengajian
seperti istighatsah. Tapi apa itu juga bukan politisasi peribadahan?

(+) Dengan lahirnya berbagai organisasi politik, terutama pernyataan
tegas
dukungan NU terhadap PKB, nampaknya gerakan kembali ke khittah buyar
sudah ya?

(-) Gerakan itu kan sesungguhnya dimaksudkan agar NU lebih berjarak
dengan
politik praktis, lalu meningkatkan amaliyah di bidang sosial,
pendidikan,
dan dakwah. Secara politis, inginnya membuka diri untuk semua kelompok,
dan
menarik diri secara formal dari PPP.
     Untuk PKB, kami sudah mengirimkan surat protes, nggak bener itu
PBNU
menyatakan dukungan kepada partai NU tertentu. Tapi surat yang begitu
penting karena mempertanyakan kelangsungan khittah organisasi kok
tidak di jawab sama sekali.

(+) Bagaimana Anda memandang tokoh-tokoh yang selama ini dijagokan orang

sebagai presiden?

(-) Melihat kesehatan Gus Dur, rasanya berat sekali untuk melihat dia
jadi
presiden. Kalau seorang presiden tidak bisa membaca kan berbahaya
sekali, kalau dia harus menandatangani naskah-naskah penting. Selain
itu penyakitnya yang lain juga tidak ringan.
     Megawati, kita tidak tahu kemampuannya, saking jarangnya dia
berbicara
hal-hal yang substansial. Selain itu, orang banyak mendukungnya karena
dia anak Bung Karno. Buat saya, justru karena Mega anak Bung Karno dia
harus kita tolak. Coba bayangkan rekor presiden kita, Bung Karno, Pak
Harto, lalu anaknya Bung Karno lagi? Lalu habis itu anaknya Pak Harto
lagi? Kapan dong rakyat kebagian?

(+) Maksudnya, kapan anaknya KH Wahid Hasyim kebagian?

(-) Hehehe, ya anaknya siapa saja lah, yang penting anaknya rakyat,
tidak
dari seputar keluarga itu saja.

(+) Amien Rais bagaimana?

(-) Kata orang, Amien sekarang cepat sekali berubah-ubah. Selain itu,
buat
saya pribadi ungkapan-ungkapan politiknya agak kelewatan.

(+) Bukankah kalimat-kalimat yang lugas memang diperlukan untuk
mencairkan
kebekuan budaya komunikasi politik selama ini?

(-) Iya, tapi buat kuping kita orang Timur kok ya sering agak kelewat
kasar gitu. Tapi sejak ketemu Gus Dur di Hotel Indonesia, sepertinya
dia sedang di atas angin. Saya melihat dia memiliki prospek yang baik.

(+) Partai-KU calon presidennya siapa?

(-) Belum, masih jauh.

(+) Ngomong-ngomong, Anda begitu pedas mengkritik Gus Dur. Apa punya
persoalan pribadi waktu kecilnya?

(-) Hehehe. Nggak, saya nggak ada masalah sama dia. Kami berpisah lama
sekali. Waktu ayah meninggal (usia 39 tahun), saya umur 10 tahun, Gus
Dur 14 tahun. Kami dibesarkan oleh Ibu dengan sangat baik. Ibu saya
orang yang sangat kuat kepribadiannya. Sudah sejak kecil kami
membiasakan diri berbeda pendapat.
     Tak lama kemudian, Gus Dur ke Kairo, ke Baghdad, dia lama tidak di
tanah air. Saya lama di Bandung. Kami tidak ada masalah, kami saling
menghormati.
     Ramadhan ini dia termasuk orang yang paling banyak saya doakan,
supaya
kesehatannya kembali, supaya diberi hidayah Allah untuk memimpin NU
dengan benar.7

BEGITULAH. BAGAIMANA PENDAPAT ANDA ?

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 23 Feb 1999 jam 09:47:04 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke