----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


BISNIS GUS DUR DIJEGAL

        JAKARTA (SiaR, 23/2/99), Ambisi Gus Dur membangun kerajaan bisnisnya
terganjal. Pemerintah Habibie sampai sekarang belum menyetujui pembelian
saham Bank Papan Sejahtera (BPS) oleh kyai NU itu.

        Alasan resmi pemerintah untuk mengganjal pengambil-alihan saham BPS
tersebut karena masuknya nama Edward Soerjadjaja melalui PT Hawari Sekawan,
perusahaan yang akan mengambil alih BPS dan melalui PT Adhikarya Sejati
Abadi (ASA) yang mengambil-alih Bank Ficorinvest. Padahal Edward sudah
termasuk Daftar Orang Tercela (DOT) Bank Indonesia hingga tak diperbolehkan
mengelola bank lagi.
Tapi isu itu dibantah Preskom BPS yang juga Dirut PT Harawi, Mustofa Zuhad.
Menurutnya, Edward sudah keluar dari ASA awal Februari yang lalu. Justru
sebaliknya, isu yang santer beredar menyebutkan bahwa ada konspirasi politik
dalam usaha mengganjal usaha Gus Dur itu.

        "Ada ketakutan dari kekuasaan terhadap kekuatan Gus Dur," kata
sumber SiaR.

        Seperti diketahui bersama, beberapa waktu lalu, Gus Dur membuat
sejumlah kejutan. Di bidang politik, ia tiba-tiba mendatangi kediaman
Soeharto di Cendana, dengan alasan meredam gejolak kerusuhan akhir-akhir
ini. Sedangkan kejutan di bidang ekonomi, dalam waktu dua bulan ia mengambil
alih saham dua  bank yang bangkrut.

        Melalui PT Harawi Sekawan dan  PT Adhikarya  Sejati Abadi (ASA),
ketua PB NU  itu   memborong saham milik Hasjim Djojohadikusumo di Bank
Papan Sejahtera (BPS) dan sejumlah saham di Bank Ficorinvest.

        Langkah Gus Dur ini dinilai terlalu berani sehingga menimbulkan
kecurigaan, terutama mengenai  asal dana Gus Dur yang dipakau untuk membeli
bank-bank tersebut. Sebab menurut sejumlah sumber, dalam kondisi ekonomi
yang sangat sulit ini, semua orang akan merasa kesulitan dalam mencari dana
segar puluhan milyar rupiah.

        "Bayangkan saja untuk membeli 19,98% saham BPS, atau 52,395 juta
lembar dengan harga Rp 50, diperlukan dana Rp 2,5 milyar. Siapa yang punya
fresh money sebanyak itu dalam kondisi seperti sekarang ini?" kata sumber
SiaR bertanya-tanya.

        Walau Gus Dur berulang kali menyatakan grup bisnisnya Harawi
memiliki dana cukup, namun kecurigaan orang mengarah ke money politic
Cendana. "Orang curiga duitnya dari Cendana," kata sebuah sumber.

        Kecurigaan tersebut semakin menjadi jelas ketika  diteliti lebih lanjut
ternyata Komisaris Harian Bank Papan Sejahtera adalah Syarifudin Harahap,
yang juga ketua Partai Republik. Syarifudin merupakan salah satu orang yang
disebut-sebut sebagai kaki tangan Cendana yang kini bermain di partai.

        "Orang bisnis tidak akan mau berspekulasi seperti itu, apalagi di bank yang
sedang sakit. Tapi mungkin saja itu saham kosong," kata sumber SiaR. Bahkan
keuangan  BPS per 30 September 1998  menunjukkan  kerugian operasi  sebesar
Rp 267.026 milyar. Sehingga BPS merupakan salah satu bank yang diawasi
pemerintah lewt Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

        Secara logika, kata sumber, dugaan itu masuk akal. Sebab Gus Dur
menganjurkan kepada umatnya untuk menerima bantuan dari mana saja datangnya,
asal tidak memaksa untuk memilih parpol tertentu. "Di kalangan NU, beredar
prinsip: sumbangan sembako yes, duit yes, tapi soal pilihan tetap PKB", kata
sumber ini.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 23 Feb 1999 jam 10:35:56 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke