---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk WARGA PUSONG HADANG TIM MENTERI KESRA LHOKSEUMAWE (MeunaSAH, 24/2/99), Tim Menteri Kesejahteraan Rakyat pimpinan Menko Kesra Haryono Suyono dalam perjalanan dari Lhokseumawe ke Kecamatan Kuta Makmur, Senin (22/2) siang dihadang kaum wanita dan anak-anak di depan Masjid Al-Azhar Desa Pusong Kecamatan Banda Sakti, Aceh Utara. Mereka mengusung poster berisi tuntutan terhadap referendum yang bertuliskan "Kamoe Rakyat Aceh Lakee Referandum". Tim menteri Kesra sendiri bersama sejumlah petinggi ABRI --termasuk Sekjen Dephankam Letjen TNI Fachrul Razi-- merupakan utusan Presiden Habibie untuk berdialog dengan masyarakat Aceh. Tim pejabat tinggi negara yang dipimpin Menko Kesra Harsono Suyono itu, kemarin, tiba di Lhokseumawe pukul 10.00 WIB. Setelah berdialog dengan wakil-wakil masyarakat Aceh di Pendopo Bupati Aceh Utara, melanjutkan kunjungan ke lokasi rencana pembangunan tempat pelelangan ikan di Desa Pusong. Usai berdialog langsung dengan warga setempat, rombongan menteri dengan mengendarai sejumlah bus dari Provit, melintasi jalan di Desa Pusong menuju Desa Pulo Iboh Kecamatan Kuta Makmur. Baru sekitar 100 meter bertolak dari lokasi TPI dekat pasar ikan Lhokseumawe, rombongan pejabat tinggi negara itu dihadang kaum wanita dan anak-anak Desa Pusong di tikungan depan masjid desa setempat. Tak ada pilihan lain, kecuali rombongan itu berhenti dan turun dari kendaraan melayani dialog tak teragendakan itu langsung dengan warga setempat. Sekitar 10 menit warga Pusong "menyandera" tim menteri itu. Wanita- wanita warga desa termiskin di bibir kota Lhokseumawe itu secara blak-blakan menuntut janji-janji pembangunan desa mereka yang telah berpuluh-puluh tahun hanya dijanjikan belaka. "Kalau pemerintah masih menyampaikan janji-janji saja, maka kami menuntut agar referendum disegerakan," ujar seorang wanita setengah baya. Dalam dialog di Pendopo Bupati, Menko Kesra Haryono Suyono, mengaku penderitaan masyarakat Aceh demikian berat, yaitu dengan mengorbankan harta benda, kehormatan, harkat martabat bahwa nyawa. "Meski berada dalam cobaan yang demikian berat, Bapak-bapak tetap mempunyai tekad yang besar dalam membangun negara. Marilah tekad yang besar ini kita kita syukuri agar pemerintah pusat-daerah diberi kemampuan untuk melihat masalah dengan hati yang jernih," kata Menko Kesra. Salah seorang keluarga korban, Hasnidar, mengaku suaminya diambil aparat ketika sedang bertugas di Mobil Oil Indonesia, 1997 lalu. Setahun kemudian, ia menerima santunan dari MOI sebanyak Rp 4 juta. "Ketika saya menuntut untuk diberi tunjangan, pihak MOI meminta bukti suami saya sudah meninggal. Sekarang saya tanya pada Bapak-Bapak, bagaimana saya bisa memberi bukti bahwa suami saya sudah meninggal?" tatap Hasnidar. Sebelumnya, Tengku Al Mansur di hadapan Tim Kesra, dengan nada emosional bertanya apa dosa Aceh hingga pemerintah pusat membenci rakyat Aceh. Padahal, katanya, rakyat Aceh telah menunjukkan kesetiaannya terhadap Republik Indonesia. Ia juga menyinggung tentang isu Negara Federal yang dikatakan bertentangan dengan UUD. "Apa kah membunuh rakyat itu tidak bertentangan dengan undang- undang?" tanyanya. Korban lainnya, Agam, mengaku uangnya diambil oleh aparat dan juga mendapat penyiksaan yang berat. "Akibat disiksa, pandangan mata saya menjadi kabur," ujarnya dengan nada emosi. Sedangkan Ketua SMPT Unsyiah, Fuadri, mengajak pemerintah pusat melihat masalah Aceh secara universal, tidak hanya dalam lingkup korban DOM saja. Ia berpendapat, kesenjangan sosial yang demikian tinggi dan ketidakadilan ekonomi merupakan penyebab terjadi gejolak di Aceh. Fuadri juga menuntut perimbangan keuangan pusat-daerah segera direalisasikan dengan rasio 80-20. Menhutbun Muslimin Nasution mengakui adanya kesenjangan dan ketidakadilan ekonomi dalam masyarakat. Ia berpendapat strategi utama dalam membangun Aceh adalah dengan meningkatkan SDM. Menurut Menko Kesra, Tim Operasi Kesejahteraan dan Pengentasan Kemiskinan, diutus Presiden Habibie untuk mendengarkan agenda masyarakat Aceh. Para menteri, katanya, sudah diberi kewenangan untuk membuat keputusan di tempat dalam memberi bantuan. Untuk itu, ia berharap tak ada rasa curiga terhadap kedatangan tim. "Kami datang bukan hanya untuk tawar-tawar senyum atau bikin janji. Mohon agar maksud baik Presiden mendapat sambutan yang ihklas," ujarnya.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 25 Feb 1999 jam 06:56:09 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
