----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 07/II/25 Februari-3 Maret 99
------------------------------

JIKA ABRI JADI APRI

(POLITIK): ABRI sudah tidak populer lagi karena kelakuannya sendiri. Ada
desakan kuat untuk memposisikan ABRI menjadi pasukan angkatan perang.

Banyak kritik keras yang ditujukan terhadap ABRI. Karena lembaga ini dinilai
sudah terlalu jauh mencampuri pekerjaan-pekerjaan sipil dalam mengelola
negara. Selain itu, tentunya karena sejarah telah membuktikan sepak terjang
ABRI sudah terlalu banyak memakan korban jiwa rakyatnya sendiri.

Demonstrasi-demonstrasi mahasiswa beberapa tahun terakhir tak pernah luput
dari tuntutan penghapusan Dwifungsi dan meminta kembali ke barak. Apalagi
setelah ditemukannya sejumlah bukti tentang pelanggaran HAM oleh ABRI, maka
tuntutan itu semakin seru saja.

Ternyata, belakangan ini kebutuhan akan perubahan fungsi ABRI tersebut
tampaknya juga menjadi pemikiran kalangan ABRI sendiri. Kepala Badan
Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) Letjen TNI Pur ZA Maulani, misalnya
ketika berdialog dengan ulama, tokoh masyarakat dan mahasiswa di Aceh belum
lama ini juga melontarkan gagasan tersebut. Maulani berpendapat, keadaan
masyarakat Indonesia saat ini,  merupakan korban keadaan pemerintahan yang
tidak memiliki mekanisme kontrol baik itu mencakup institusi kehakiman,
kepolisian maupun ABRI. "Jadi, bukan hanya rakyat Aceh yang kena," katanya.

Tapi, lepas dari apakah  gagasan tersebut hanya untuk sekedar menghibur
masyarakat Aceh yang semakin hari semakin gerah dengan ABRI, yang jelas
gagasan tersebut merupakan aspirasi yang telah lama berkembang di
masyarakat. Atau bahkan menurut Maulani persoalan tersebut telah menjangkiti
pemikiran kalangan perwira tinggi ABRI, bahkan Pangab pun telah memberi
lampu hijau untuk hal ini. Sebab mereka-mereka itu ikut merasakan akibatnya
sendiri. "Ada jenderal yang hampir mati di dalam tahanan gara-gara
melontarkan kritikan," kata ZA Maulani.

"Saya sendiri pernah menjadi korban penindasan, karena melontarkan kritikan
terhadap peran sosial-politik ABRI. Saya dulu salah satu perwira yang di
blacklist karena sering bicara apa adanya, tambah mantan Pangdam
VI/Tanjungpura semasa Pangab dijabat Jenderal TNI LB Moerdani," katanya
lebih lanjut.

Namun demikian ia meminta pemahaman untuk tidak berpikir bahwa perubahan
ABRI menjadi Angkatan Perang RI (APRI), akan berlangsung secepatnya.
Dibutuhkan waktu dan diskusi yang cukup lama.

"Pengubahan nama jabatan Kepala Staf Sosial Politik (Kassospol) menjadi
Kepala Staf Teritorial (Kaster). Insya Allah, Aster tahun depan juga hilang
dan yang ada hanya Kastaf Angkatan Perang," kata Maulani seraya menambahkan
bahwa perubahan ini kelak akan berimbas juga pada perubahan nama Polri
menjadi Kepolisian Nasional (Polnas).

Sementara itu menanggapi soal usulan perubahan tersebut ditanggapi secara
positip oleh Kaster ABRI Letjen TNI Susilo Bambang Yudhoyono. "Itu salah
satu masukan dan pandangan yang patut kita pertimbangkan dan sepenuhnya akan
diolah Mabes ABRI," katanya.

Walaupun ia masih merasa masih terlalu dini untuk mengubah ABRI menjadi
APRI, namun menurutnya hal itu sudah memberikan sinyal perubahan. Katanya,
Pangab sendiri sudah mengatakan bahwa untuk mengikuti proses reformasi
internal ABRI, maka doktrin, struktur, pendidikan dan latihan perlu ditinjau
kembali.

Tidak mudah memang, mengubah ABRI menjadi APRI. Sebab menyangkut sistem yang
sudah lama berakar, menyangkut nasib ribuan orang yang sudah menggantungkan
hidup dari posisi ABRI saat ini. Tetapi gagasan ini sangatlah indah. Sebab
militer akan kembali ke barak dan mengeluarkan kepolisian dari jajaran
angkatan bersenjata. Militer tidak lagi mengurusi pembebasan tanah, operasi
DOM atau menembaki mahasiswa. Tapi tugasnya lebih pada pertahanan ke luar
sebab urusan ke dalam akan dilakukan lembaga sipil, seperti Polri.

Dan jika benar, maka fungsi ABRI sebagai instrumen perang akan berlaku
maksimal karena tentara tak lagi sibuk berpolitik. Tugas angkatan perang
hanya satu dan berada di bawah struktur negara: instrumen perang berdasarkan
atas keputusan negara. Dan untuk setiap operasi militer, perang atau keadaan
darurat lainnya, harus menunggu keputusan parlemen.

Cukup realistis, sebagai jawaban atas kemauan meredefinisi dan mereposisi
peran ABRI seperti yang dituturkan Menhankam/Pangab Wiranto. Tapi kembali
lagi ke pertanyaan semula, maukah mereka kembali ke barak? (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 26 Feb 1999 jam 16:30:38 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke