----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Media Indonesia, Jumat, 19 Februari 1999

Kepada Presiden RI

SEJAK sidang kabinet bidang Polkam memutuskan menyelesaikan
masalah Timor Timur (Timtim) dengan menawarkan dua opsi
(1) daerah khusus dengan otonomi yang luas (seluas-luasnya?)
dan (2) lepas dari Indonesia bila otonomi yang luas tidak diterima
melalui SU MPR hasil Pemilu 7 Juni 1999.

Banyak tanggapan baik dari dalam negeri maupun luar negeri mengenai
opsi ini. Ada yang pro, ada yang kontra dan banyak jenis tanggapan
lainnya. Sebagai warga negara, saya ingin memberikan pendapat dan
tanggapan melalui surat terbuka ini.

Walaupun secara sosiologi dan antropologi antara rakyat Timtim dan
NTT/NTB lain (khususnya Timor Barat) terdapat hubungan kekerabatan,
namun fakta sejarah penjajahan Barat telah membuat banyak perbedaan
sikap dan pandangan antara rakyat Timtim dan rakyat Indonesia.

Masuknya Indonesia ke Timtim adalah panggilan sejarah perang
dingin dan kemanusiaan yang langsung atau tidak langsung (nyata
atau tersirat) didukung dunia Barat (yang sekarang berubah).

Karena faktor-faktor di atas dan juga kekurangcekatan Indonesia
menangani di forum internasional serta kekeliruan dan kegagalan di
lapangan, membuat masalah Timtim sebagai bisul yang tidak pernah
sembuh dan menjadi beban yang membuat keadaan tubuh bangsa selalu
meriang.

Silakan rakyat Timtim memilih opsi mana, yang menurut mereka
terbaik. Apa pun pilihannya, pilihan tersebut harus tidak berakibat
jelek terhadap negara dan bangsa (rakyat) Indonesia lainnya. Antara
lain, karena:

Pilihan tersebut membuat rakyat Timtim menjadi sangat diistimewa-
kan, padahal kontribusi mereka terhadap perjuangan dan persatuan
republik ini belum banyak dan teruji. Bandingkan dengan rakyat Aceh
dan Irian Jaya serta daerah lainnya, yang telah jatuh bangun
bersama republik ini. Kenyataan, sampai sekarang masih tertinggal
bila dibandingkan dengan Jawa.

Secara fisik Timtim mengalami akselerasi pembangunan selama 22-23
tahun bergabung dengan Indonesia (ini tidak adil). Padahal rakyat
wilayah lain telah lama dan banyak memberikan darah, harta dan
jiwanya untuk tegaknya bangsa dan negara ini. Jangan penyelesaian
Timtim menciptakan ketidakadilan kepada rakyat dan bangsa ini, yang
hanya baik/menguntungkan untuk Timtim saja.

Bila daerah khusus dan otonomi luas (seluasluasnya?):

(a) Menyebabkan di Timtim tidak berlaku UUD 1945/Pancasila sedang
hukum yang berlaku adalah untuk seluruh warga dan wilayah negara
Indonesia. Kalau ini terjadi, kita telah mengkhianati perjuangan
kemerdekaan dan jiwa serta harta yang telah dikorbankan rakyat
Indonesia demi persatuan negara dan bangsa. Bila rakyat Timtim dan
masyarakat internasional (PBB/Barat) tidak bisa menerima UUD 1945/
Pancasila dan hukum Indonesia diterapkan di Timtim, itu berarti
mereka tidak mau dan menyetuji menjadi satu dengan/bagian
Indonesia. Silakan Timtim menjadi negara sendiri yang mereka atur
sesuai maunya mereka. Soal mereka makmur/tidak makmur, ribut atau
rusuh adalah risiko dari suatu pilihan. Toh Indonesia pernah bahkan
kini sedang mengalami pasang-surutnya kehidupan berbangsa dan
bernegara.

(b) Hanya orang Timtim yang bisa bebas hidup dan bekerja serta
beragama di wilayah mana pun di Repulik Indonesia lainnya.
Sebaliknya orang Indonesia lainnya tertekan dan tidak bebas hidup,
bekerja serta beragama di Timtim. Ini berarti menjadikan kita negara
dan bangsa rasialis/diskriminasi dan tidak menghargai UUD 1945 dan
dasar negara Pancasila.

(c) Timtim dijadikan warga dan wilayah yang paling hebat dan
disayang seakan sangat berjasa (atau dibutuhkan) dibandingkan
wilayah lainnya. Ini berarti menganaktirikan dan tidak menghargai
rakyat di wilayah lain. Apakah pengorbanan harta, tenaga, nyawa
mereka sia-sia dan tidak ada harganya dibandingkan dengan rakyat
Timtim?

(d) Timtim berhak dan diberi kebebasan luas mengatur diri sendiri
dan mendapat dukungan internasional (PBB/Barat). Sementara wilayah
lainnya diatur pusat dan tidak mendapat perhatian internasional
(PBB/Barat). Pokoknya jangan jadikan Timtim negara dalam negara,
yang dianakemaskan. Bila ini yang diinginkan dan diwujudkan,
lepaskan saja Timtim. Tidak logis Indonesia memberi terlalu banyak,
sehingga mengorbankan kesatuan dan persatuan bangsa, padahal kita
tidak berniat mencaplok wilayah tersebut.

Apakah wilayah lain tidak cukup kaya serta mampu (alam/SDM-nya)
untuk berbuat dan diberlakukan sama?

Kalau itu yang dimaksud oleh daerah khusus dan otonomi luas
(seluas-luasnya?) saya sebagai warga negara dan rakyat Indonesia
tidak rela dan tidak ikhlas. Ataukah pemerintah Indonesia, rakyat
Timtim atau masyarakat internasional (PBB/Barat) memilih daerah
khusus dan otonomi luas (seluas-luasnya?) dan tetap bergabung
dengan Indonesia. Bila itu maksudnya, sebaiknya Timtim
''dilepaskan'' dan ''berdiri sendiri'' saja. Karena penggabungan
sebagai daerah khusus dan otonomi luas (seluas-luasnya) itu, akan
bersifat bohong-bohongan dan tidak ada guna serta manfaatnya bagi
bangsa dan, negara Indonesia. Itu berarti rakyat Timtim tidak
pernah tulus menjadi keluarga sekandung. Rakyat Timtim tetap asing
terhadap Indonesia dan Timtim pun tetap asing bagi rakyat Indonesia
lainnya sampai kapan pun. Akhirnya, melahirkan kecemburuan serta
menjadi masalah bagi persatuan dan semangat kebangsaan Indonesia.
Jangan karena niat baik mempertahankan Timtim, kita merusak
persatuan dan kesatuan serta rasa keadilan dan kebersamaan rakyat
Indonesia lainnya. Padahal wilayah dan rakyat Indonesia lainnya
luas dan banyak serta punya kekhususan dan budaya lokal yang tinggi,
kukuh, dan beradab.

Sebaiknya rakyat Timtim memilih dan diberi kesempatan menjadi
bangsa/ rakyat Indonesia 100% utuh tanpa embel-embel atau bangsa/
negara asing 100%. Penggabungan tersebut jangan sebagian-sebagian,
enaknya untuk rakyat Timtim dan dunia internasional (khususnya PBB/
Barat). Penyakit dan bebannya bagi rakyat Indonesia di wilayah lain.
Kita bukan negara dan bangsa yang ekspansionis (penjajah) dan butuh
wilayah atau kekayaan alam. Sebab 26 provinsi lainnya masih luas,
kaya dengan alam/SDM yang harus diurus sebaik-baiknya bagi
kemakmuran bangsa dan negara Indonesia.

Bila rakyat Timtim dan masyarakat internasional (PBB/Barat) tulus
menjadikan Timtim bagian bangsa dan negara Indonesia, harus kita
terima dengan tulus apa pun risikonya. Bila Timtim memilih tetap
bergabung dengan Indonesia, maka logisnya secara geografis,
demografis, politis, hukum, dan kebangsaan Timtimlah yang mengadopsi
keindonesiaan.

Bukan sebaliknya. Kalau tidak mau dan tidak bisa, ya, jangan
bergabung dengan Indonesia.

Mohon pemerintah Indonesia, MPR, rakyat Timtim dan masyarakat
Internasional (PBB/Barat) menetapkan pilihan yang arif dan
bijaksana, dengan memperhatikan secara adil dan berkeseimbangan
antara kepentingan/sikap rakyat Timtim dan rakyat Indonesia
keseluruhan.

M AZWIN DAZ
Jakarta Timur

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 27 Feb 1999 jam 03:59:53 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke