---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk SEBUAH PERPISAHAN YANG MEMBAHAGIAKAN Oleh: Talitakum (Majalah terbitan mahasiswa dan pemuda Timor Leste) William Shakespeare memberi difinisi yang romantis mengenai perpisahan. Menurutnya, perpisahan selalu merupakan kesedihan yang teramat manis. Dalam menjalani hidup, setiap orang punya konsep dan difinisi mengenai kehidupan, mengenai cinta, mengenai masa depan dan tentu mengenai perpisahan. Tergatung situasi dan kondisi obyektif yang dialaminya berdasarkan cara ia memahami dan menghayati kehidupan, sekalipun secara subyektif. Ketika pemerintah Indonesia mengeluarkan pernyataan resmi yang memberi peluang bagi Timor Timur lepas dari Indonesia, banyak aktivis pro-kemerdekaan Timor Timur di berbagai kota di Jawa dan Bali, menyambut dengan sorak-sorai, bahkan merayakannya minum-minum. Mereka merasa seolah-olah, apa yang diperjuangkan selama ini, kemerdekaan, sudah berada ditangan. Dari Dili, diberitakan, para pemuda turun ke jalan-jalan mencari teman-teman seperjuangan dan untuk saling berpelukan, meluapkan kegembiraan sambil mengenang dan menangisi sahabat-sahabatnya yang tak dapat menikmati suasana bahagia bersama mereka. Sahabat-sahabat yang telah meninggalkan mereka di Pekuburan Santa Cruz, orang tua mereka yang meninggalkan mereka demi sebuah cita-cita. Cita-cita yang kini sudah akan mereka gapai, meski masih berkutat dengan soal waktu. Bahagia dan sedih. Dalam kondisi demikian, perpisahan bukan lagi merupakan kesedihan yang teramat manis, tapi mungkin kebahagiaan yang sangat menyedihkan. Bahagia karena mereka bisa menikmati hasil kontribusi yang mereka sumbangkan untuk perjuangan ini. Sedih karena mereka tak bisa merayakan bersama sahabat-sahabat yang lain, orang tuanya, sanak familinya yang telah menjadi korban. Sementara itu, bagi kelompok yang pro-integrasi, tentu lain lagi suasana yang mereka hadapi. Rasa kecewa berbaur dengan amarah. Kecewa karena tak sedikit pula rasa kehilangan yang telah mereka korbankan untuk membela integrasi. Marah karena, dengan pernyataan yang memberi angin bagi kemrdekaan Timor Timur, pengorbanan dan pembelaan yang mereka lakukan selama ini, sepertinya tak dihargai. Rasa kecewa dan marah yang kemudian menjelma menjadi sebuah sikap. Sikap untuk tetap membela status quo, yang menurut mereka merupakan warisan perjuangan dari orang tua mereka. Barangkali, jargon yang dinyatakan oleh Cancio Carvalho, ketua kelompok Mahidi dalam dialog di TVRI tanggal 13 Februari, mengekspresikan sikap itu: "Biar darahku akan mengalir merah dan tulangku menjadi putih, akan kupertahankan Merah Putih untuk terus berkibar di bumi Timor Loro Sa'e." Menjamurnya, kelompok para militer (Ratih, Mahidi, FPTT, Gadapaksi, Makikit), dengan senjata laras panjang yang disuplai ABRI dan kelompok pro-kemerdekaan, Aktivis Penegak Kemerdekaan (APK), Partai Republik Demokrat (PRD) Timor Leste, Unidade Nacional da Independencia de Timor Leste (UNIAMORTE), membuktikan bagaimana sebuah bangsa telah berhasil dikotak-kotakkan oleh rejim kolonialis. Bukti keampuhan konsep politik klasik kaum penjajah: Devide et Impera. Lebih buruk lagi, sesudah membagi, dikasih senjata untuk saling membunuh. Hal yang Xanana Gusmao, hingga kini belum ada format baku untuk mengatasinya. Memang benar apa yang pernah dinyatakan oleh para mahasiswa Indonesia di Belanda yang ikut merintis perjuangan kemerdekaan Indonesia bahwa, darah sesama saudara harus ikut ditumpahkan demi perjaungan kemerdekaan, sudah merupakan tragedi klasik bangsa-bangsa tertindas. Perlu diingat bahwa, kisah klasik Romeo dan Juliet pun berakhir dengan tragedi.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 9 Mar 1999 jam 13:50:59 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
