---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk MASYARAKAT KEDUNG OMBO KURANG PANGAN BOYOLALI (SiaR, 9/3/99), Kedung Ombo sudah jadi waduk betulan. Air sudah menenggelamkan 30-an desa itu sejak sebelas tahun lalu. Tapi, salah satu tujuan pembangunan bendungan tersebut justru gagal total, lantaran banjir masih terus menimpa masyarakat Purwodadi dan sekitarnya. Dan yang lebih parah lagi, ternyata masyarakat Kedung Ombo sendiri tak pernah ikut menikmati pembangunan proyek berskala besar yang dibiayai bank dunia itu. Dari hasil pengamatan yang diperoleh SiaR di lokasi beberapa hari lalu, kondisi masyarakat Kedung Ombo --baik yang berada di lokasi baru (Kedungmulyo dan Kedungrejo), dan masyarakat yang masih bertahan di sabuk hijau-- saat ini cukup memprihatinkan. Tanaman padi maupun palawija yang ditanam di lokasi sawah pasang surut saat ini tenggelam seiring dengan makin buruknya musim penghujan belakangan ini. Satu-satunya harapan yaitu lahan bercocok-tanam di lahan kering (di bekas hutan Perhutani atau lahan Perhutani) saat ini tidak lagi bisa ditanami dengan baik. Sebab kondisi tanahnya yang liat dan kesuburannya berkurang lantaran tererosi derasnya air hujan yang mengguyur setiap hari. Menurut pengakuan beberapa petani, tanaman jagung, singkong maupun tanaman pangan lain yang biasa mereka tanam, saat ini tidak bisa tumbuh dengan baik. Masyarakat mulai cemas, jika kondisi cuaca seperti saat ini tidak segera membaik, maka bencana kelaparan akan segera tiba. "Stok makanan hasil panenan lalu sudah mulai menipis. Dan itu tidak hanya dialami oleh masyarakat yang di pemukiman maupun di sabuk hijau," kata salah seorang warga Kedung Pring. Sebagian masyarakat, sekarang justru sudah mengandalkan kiriman dari anak atau saudaranya yang ada di luar kota. Ada pun kegiatan pencarian ikan di waduk yang selama ini dilakukan dengan jaring mulai dihentikan, lantaran selain ombaknya besar sehingga sulit untuk berperahu dan merusak jaring, juga jarang ikan. Usaha sampingan dengan memelihara ternak yang dilakukan masyarakat Kedung Ombo belakangan ini pun menjadi tidak berkembang. Sebab himpitan kebutuhan ekonomi makin hari semakin berat mendorong mereka untuk menjual ternaknya. Jumlah ternak sapi atau kambing yang mereka punya sebelumnya 2-3 ekor, sekarang tinggal 1 ekor atau bahkan habis sama sekali. Tak ada satu pun masyarakat Kedung Ombo yang mencoba usaha karamba ikan, walaupun usaha ini merupakan usaha yang paling mungkin bisa dijalankan oleh masyarakat Kedung Ombo. Selain modalnya besar --1 karamba bisa mencapai Rp 800 ribu (belum ikan dan pakan), juga ternyata masyarakat tidak dipersiapkan lebih dulu oleh pemerintah untuk ikutserta mengolah waduk. Kalaupun ada di Wonoharjo dan cukup berhasil, itu pun milik asing, PT AquaFarm. Masyarakat Kedung Ombo tidak dilibatkan dalam usaha ini. Tak heran jika akhirnya sebagian masyarakat mencoba "menikmati" hasil karamba itu dengan cara mencurinya. "Suatu ketika kami, pernah dimintai tolong menjaga karamba dan hasilnya jumlah ikan yang dicuri tidak sebanyak sebelumnya. Mereka memberi kami upah tapi kami tolak. Karena kami ini dianggap buruh. Kami tidak ingin jadi buruh di tempat kami sendiri," kata Darsono, Ketua Paguyuban Masyarakat Kedung Ombo. Yang masyarakat inginkan, menurut Darsono adalah bagaimana jika setiap usaha yang melibatkan investor dari luar dan yang dilakukan di Kedung Ombo itu harus melibatkan pula masyarakat setempat. "Bukan jadi buruh, tapi mitra dalam usaha. Bagi-bagi untunglah," katanya. Memang, semula ada LSM yang pernah mencoba untuk membangun karamba untuk masyarakat setempat. Tapi usaha itu gagal dikarenakan tidak terurus dengan baik. "Masyarakat waktu itu tidak punya waktu mengurusinya. Kami sibuk berjuang memperoleh hak kami," kata Darsono yang didampingi sejumlah warganya. Namun sekarang, kesadaran untuk mengembangkan usaha karamba ataupun kegiatan ekonomi lainnya mulai muncul. Sebab menurut Darsono, perjuangannya membutuhkan waktu panjang, kalau tidak diikuti kegiatan ekonomi maka bisa kelaparan. "Tapi ya itu, masyarakat tidak punya modal," kata warga Kedung Pring ini. Darsono sendiri menyatakan keheranannya, ketika mendengar bahwa Bank Dunia yang semula ikut membiayai penenggelaman masyarakat Kedung Ombo, kini kembali mengeluarkan dana tapi tidak pernah mampir ke wilayahnya. Ia juga merasa heran, LSM yang dulu hingar bingar bersama-sama membantu Kedung Ombo, sekarang tidak pernah terdengar lagi. Kondisi sarana umum, seperti sekolah, pasar, puskesmas, jalan di Kedung Ombo rusak berat. Jalan aspal sepanjang Kacangan-Kedungrejo rusak parah. Di beberapa tempat, ada aspal-aspal yang menutupi jalan hilang mengelupas dan tinggal batu-batu pengerasan jalan. Atau bahkan, sebagian jalan yang rusak tersebut diisi dengan tanah sehingga justru sering membuat selip roda-roda kendaraan. Kondisi serupa juga terjadi di jalan dari Karanggede-Kedungmulyo (pemukiman baru) dan juga jalan yang menuju kecamatan Kemusu. Memang, khusus untuk beberapa tempat di kecamatan Andong (Kacangan- Kedungrejo), jalan-jalan yang rusak tersebut sudah mulai diperbaiki karena kebetulan desa itu mendapatkan program JPS. Tapi untuk daerah yang lain belum ada tanda-tanda perbaikan. Sementara itu beberapa sarana umum di pemukiman Baru Kedungrejo mengalami rusak para. Pasar umum yang dibangun sebagai fasilitas untuk pemukiman baru tidak digunakan semestinya. Di beberapa bagian bangunan itu justru dipakai untuk mengonggok kayu bakar, atau tempat menumpuk rumput untuk pakan ternak. Begitu pula kondisi balai desa dan sekolahan juga tak terawat dengan baik. Selain dindingnya sudah mengalami kerusakan, beberapa bagian atapnya sudah ambrol. Hal yang sama juga dialami oleh Puskesmas, dimana jendela kacanya pecah berantakan. Bangunan bak air minum bertenaga diesel, sekarang kering kerontang lantaran tidak difungsikan lagi. Sarana transportasi jalan darat yang bisa dipakai untuk mencapai lokasi pemukiman Kedungrejo dan Kedungmulyo hanya lah ojeg. Kalau pun ada mobil angkutan umum, itu pun mobil jenis colt wagon tua yang sudah tidak normal lagi. Dan sehari trayeknya hanya satu kali (khusus dari Kacangan-Kedungrejo). Satu-satunya transportasi untuk ke Kedungmulyo, Mlangi, Kedungrejo dan Kedung Pring yang relatif lancar adalah melalui air yaitu dengan menggunakan perahu dengan mesin berkekuatan 500PK dari dermaga Klewor. Adapun untuk mencapai Klewor, harus melewati jalan darat kurang lebih 6 km dari jalan raya Karanggede-Sragen. Yang paling tidak diuntungkan dalam situasi seperti ini (air meluap dan berombak besar) adalah anak-anak sekolah menengah pertama di Kedungrejo dan Kedung Pring yang lokasinya dipisahkan oleh bendungan. Satu-satunya sekolah mereka (SMP) hanya ada di Kemusu. Walau pun sebenarnya ada sekolah SMP di kecamatan Andong yang sebenarnya bisa dicapai dengan jalan darat, tapi karena alasan berasal dari kecamatan lain, mereka tidak memperkenankan anak-anak Kedungrejo dan Kedungpring bersekolah di sana. "Kalau hujan deras dan angain kencang, kami paksa anak-anak meliburkan diri. Daripada keselematan mereka tidak terjamin. Pernah, suatu ketika mereka sudah terlanjur berangkat tapi ketika pulang hujan deras sekali dan ombaknya besar, maka akhirnya mereka mondok di rumah saudara," kata salah warga Kedung Pring.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 9 Mar 1999 jam 14:14:48 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
