----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


ISTIQLAL (11/3/99)# LOGIKA KOLONIAL AISAH AMINY SOAL TIMOR TIMUR

Oleh: Sulangkang Suwalu

        Setiap pejuang kemerdekaan tentu merasa terhina atau direndahkan bila ada
yang menilainya telah menggunakan logika kolonial dalam suatu masalah. Lain
halnya bagi kaum kolonialis. Malah mungkin merasa bangga dibila dikatakan ia
telah menggunakan logika kolonial dalam mempertahankan sesuatu pendiriannya.
        Perbedaan penafsiran tentang sesuatu masalah antara kaum kolonialis dengan
pejuang kemerdekaan adalah suatu vang wajar. Perbedaan tafsiran itu bisa
meliputi seluruh cabang kehidupan ekonomi, sosial, politik, budaya dsb.
        Sebagai ilustrasi berbedanya penilian kaum kolonialis, dengan penuang
kemerdekaan, dapat kila ketahui dalam menentukan berapa yaag cukup untuk
hidup bagi seorang Indonesia di zaman kolonial tempo dulu. Untuk itu marilah
kita baca tulisan Bung Karno "Orang Indonesia Cukup Nafkahnya Sebenggol
Sehari?" (DBR, 1963, hal: 177-178).

CUKUP ATAU TERPAKSA SEBENGGOL SEHARI?
        Menurut Bung Karno melalui tulisan itu, pada Oktober (1932) Direktur BB di
depan Raad Van Indie mengatakan: "Gebleken is dat het dhans voor volwaasenen
mogelijk is, zich voor 21/2 cent per dag te voeder" (Ternyata lah, bahwa
kini satu orang yang dewasa bisa cukup makan dengan sebenggol sehari).
        Menurut Bung Karno beliau telah berulang-ulang mengatakan sebelumnya bahwa
berdasarkan perhitungan Dr Huender sendiri sebelum zaman malaese, orang
Indonesia hidup sehari antara 71/2 sampai 8 sen sehari. Kemudian di masa
zaman malaese, menurut Economisch Weekblad merosot menjadi 4 sen. Kemudian
merosot lagi menjadi 21/2 sen (sebenggol).
        Bung Karno mengemukakan bila pada saat-saat terakhir orang Indonesia bisa
hidup sebenggol sehari, itu karena terpaksa, bukan karena cukup. Tapi
dicukup-cukupi karena tak berdaya meningkatkannya.
        Bung Karno sampai pada kesimpulan bahwa ada perbedaan besar antara apa yang
dikatakan Direktur BB dengan apa yang saya katakan: adalah perbedaan besar
antara perkataan cukup dengan perkataan terpaksa. Terpaksa hidup dengan
sebenggol dan cukup hidup dengan sebenggol, diantara dua ini adalah
perbedaan yang sama lebarnya dengan perbedaan antara sana dan sini, antara
kaum penjajah dan kaum terjajah antara kaum kolonisator dengan gekeloniseerde.
        Menurut logika kolonial hidup orang Indonesia sudah cukup dengan sebenggol,
sedang menurut logika pejuang kemerdekaan hidup sebenggol itu terpaksa
dilakukan, karena tak ada pilihan lain.
        Kini menjadi pertanyaan: apakah logika kolonial "cukup sebenggol sehari",
kini bisa juga terdapat di kalangan orang Indonesia sendiri dalam menyikapi
berbagai masalah yang muncul dalam masyarakat?
        Untuk menjawabnya, baik lah kita dengar apa yang dikatakan Moeljadi Hd,
terhadap perdebatan Aisah Aminy (dari FPP) dengan Luhut Pangaribuan di SCTV
tanggal 30 Januari 1999, tentang rencana pemerintah memindahkan Xanana
Gusmao dari LP Cipinang ke LP Cabang Khusus, seperti yang disampaikan Menkeh
Muladi. Tanggapan Moeljadi HD ini dimuat dalam DETAK No 30 thn ke-I.

LOGIKA KOLONIAL, SOAL TIMOR TIMUR
        Menurut Moeljadi Hd perdebatan itu menarik baginya, karena di era
reformasi, Ketua Komisi I DPR, yang juga anggota Komnas HAM, justru masih
menggunakan logika kolonialis ketika menyikapi maksud pemerintah tsb. Saya
menyebut masih menggunakan logika kolonialis, karena argumentasinya
mengingatkan kita pada argumentasi Belanda menghadapi pejuang kemerdekaan
Indonesia.
        Pertama; ketika menyebut Xanana sebagai narapidana kriminal, karena antara
lain telah membunuh tentara Indonesia serta melakukan perusakan. Anggota MPR
kita yang terhormat ini lupa (atau ketika perang kemerdekaan belum mampu
menghayati peristiwa ketika itu.?) bahwa pejuang kita juga melakukan hal
yang serupa. Membunuh tentara Belanda dan mata-matanya serta
membumihanguskan bangunan-bangunan strategis. Dan kita menolak dikatakan
kriminal.
        Kedua; Aisah Aminy juga menolak pernyataan bahwa kemerdekaan Timor Timur
hanya pengakuan sepihak, belum mewadahi aspirasi seluruh masyarakat.
Alasannya pernyataan kemerdekaan tidak harus dilakukan oleh seluruh
masyarakat Timor Timur. Analogi yang digunakan adalah pernyataan kemerdekaan
Indonesia yang hanya dilakukan oleh dua orang saja.
        Tampaknya anggota MPR yang terhormat ini lupa bahwa sebelum Sukarno-Hatta
memproklamasikan kemerdekaan telah ada proses panjang dari para pemimpin
ketika itu, yang akhirnya dihimpun BPUPKI. Setidaknya diawali tahun 1908,
yang kemudian menemukan bentuk konkretnya tahun 1928 dengan Sumpah Pemuda
dan seterusnya. Pemimpin-pemimpin itu sangat dipercaya rakyat: sebagai
penyambung lidahnya dan mendapat dukungan penuh dari masyarakat.
        Tentu kondisinya sangat berbeda dengan Timor Timur saat ini. Kita pun belum
tahu persis bagaimana kemauan masyarakat sana sebenarnya. Memaksakan
kehendak kita sama saja dengan sikap Belanda ketika memaksakan mendirikan
Republik Indonesia Serikat (RIS) yang tak bertahan lama itu.
        Moeljadi Hd benar bahwa seperti juga Bung Karno dan Bung Hatta adalah
pejuang kemerdekaan untuk Indonesia, maka Xanana itu pun pejuang kemerdekaan
untuk Timor Timur. Tentang perjuangan kemerdekaan untuk Timor juga bukanlah
baru dimulai sejak 1975, itu dapat diketahui dari wawancara yang dilakukan
Kompas dengan Xanana Gusmao.

PERJUANGAN UNTUK BEBAS DARI PENJAJAHAN
        Menanggapi pertanyaan bahwa pemerintah Indonesia telah mengeluarkan
kebijaksanaan menawarkan otonomi luas kepada rakyat Timor Timur, Xanana
mengatakan keputusannya secepat ini, saya jelas terkejut. Dengan mundurnya
Suharto, sebenarnya kami sudah siap ikut membantu penyelesaian Timor Timur.
Kami ingin membantu pemerintah membebaskan diri dari beban-beban yang harus
dihadapi permintaan Habibie di Timtim. Kami percaya saat ini akan tiba,
tetapi tidak secepat ini, kendati sejak awal perjuangan, kami percaya saat
ini akan tiba. Selama apapun kami siap menunggu.
        Terus terang kami gembira. Kami menunggu saat-saat seperti ini selama 23
tahun berjuang untuk merdeka, bebas dari penjajahan, media massa perlu
diluruskan mengenai perjuangan rakyat Maubere atau Timor Leste. Kami tidak
berjuang hanya dari tahun 1975 sampai sekarang. Kami berjuang sejak 450
tahun lalu. Dari generasi ke generasi. Satu generasi mati diganti generasi
baru. Ini terus berkembang. Sejarah perjuangan kami lebih panjang dari
sejarah Indonesia.
        Jika Tuhan memberi kami kemerdekaan saya akan berteriak sekeras-kerasnya,
lalu kembali ke Dili. Tapi saya hanya ingin menjadi orang biasa. Biar orang
lain saja yang memimpin Timtim. Perjuangan saya hanya supaya Timtim merdeka.
        Saya sendiri tidak kawatir, kata Xanana, kalau Indonesia melepaskan Timtim,
karena Timtim harus dikembalikan ke posisi awal 1960, dibawah PBB sebagai
wilayah tak berpemerintahan sendiri.
        Saya optimis. Kami harus mulai dari awal, kalau RI melepaskan. Kami tidak
akan minta bantuan RI, karena RI sedang dalam kesulitan ekonomi. Lebih baik
Indonesia memikirkan soal PHK. Ada IMF dan Bank Dunia. Timtim punya sumber
alam untuk dieksplorasi seperti minyak, fosfat, marmer, misalnya. Yang jelas
kami tidak kaya, tetapi punya sesuatu untuk dapat menghidupi rakyat kami.
Pembangunan kami harus dari bawah.

KESIMPULAN
        Logika kolonial Aisah Aminy mengenai soal Timor Timur adalah wajar, karena
sejak awal posisinya memang mendukung petualangan Suharto untuk mengusai
Timor Leste. Aisah Aminy tak bertolak dalam memandang soal Timor Timur dari
hak menentukan nasib sendiri bagi setiap bangsa, termasuk bagi bangsa
Maubere, seperti yang digariskan oleh Mukaddimah UUD 1945. Dan dukungannya
pada pemerintahan Suharto yang fasis itu sudah ditunjukkannya selama Suharto
berkuasa.
        Bila Aisah Aminy berpikir sebagai peiuang kemerdekaan, tentu dia tidak akan
mengatakan Xanana itu sebagai narapidana kriminal, tidak akan mengatakan
suara yang ingin merdeka dari Timtim itu hanya suara beberapa orang saja.
Suara ingin merdeka itu adalah suara hati nurani rakyat Maubere.
        Ya, Aisah Aminy adalah Aisah Aminy. Dia ada sebagaimana adanya.***


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 11 Mar 1999 jam 18:31:33 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke