----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


ISTIQLAL (11/3/99)# PARTAI KONDUSIF BAGI MASA DEPAN

Oleh: Sulangkang Suwalu

        Ichlasul Amal, Rektor UGM menyatakan untuk mengembangkan kehidupan partai
yang lebih kondusif, sebaiknya kehidupan partai di masa depan bersifat
sekuler. Dengan dasar pemikiran semacam ini, maka kehidupan partai akan
lebih mendasarkan pada rasionalitas, bukan emosionalitas, sebagaimana jika
suatu partai mendasarkan diri pada agama.
        Hal itu diungkapkan Ichlasul Amal menjawab pertanyaan pers selepas menjadi
pembicara dalam Forum dialog Mahasiswa Universitas Sarjana Wiyata, Taman
Siswa Yogyakarta tentang Pemilu 1999 (Senin, 22/2). Kalau tidak memilih
partai ini tidak masuk surga. Kalau partai yang mendasarkan agama yang
diutamakan emosinya, sedang yang sekuler adalah rasionya, tegas Ichlasul Amal.
        Bagaimanakah tanggapan partai yang berasaskan Islam dan partai yang disebut
sebagai sekuler? Marilah kita denga suara Wakil Sekjen PKB, Amin Said Husni.
PKB sering disebut sebagai partai sekuler, karena berazaskan Pancasila. Dan
juga kita dengar suara Partai Keadilan, yang katanya berazaskan lslam,
seperti yang dimuat Merdeka (26/2).

PARTAI HARUS RASIONAL
        Amin Said Husni menjawab pertanyaan Merdeka mengenai anjuran Ichlasul Amal
di atas, mengatakan bahwa partai harus rasional, saya setuju. Anjuran untuk
menjadi sekuler, ketika maksudnya pada rasionalitas sebagai titik-tekannya,
itu benar. Karena untuk memasuki era Indonesia Baru yang modern, harus
ditandai dengan salah satu rasionalitas dari iplementasi program.
Bagaimanapun ini merupakan tuntutan modernis.
        Sehingga parpol yang akan berperan dalam pembentukan pemerintahan hendaknya
memfokuskan diri pada aspek rasionalitas, terutama dalam langkah dan
tawaram-tawaran program kerjanya.
        Partai apapun namanya, kata Amin said Husni, tetap harus memperioritaskan
rasionalitasnya dalam berpartai. Dengan demikian gagasan partai sekuler
lebih mengacu kepada rasionalitas dalam keberpihakannya atau programnya.
        Menjawab pertanyaan: "Anda termasuk yang melihat bahwa partai yang
berlandaskan agama cenderung emosional. Dan sebaliknya, yang sekuler lebih
rasional? Amin Said Husni menjawab: betul. Karena partai yang bernuansa
sektarian akan terlihat lebih kental nuansanya. Sehingga ini akan
mengalahkan aspek rasionalitas yang sebenarnya juga dimiliki. Jadi partai
aliran bukannya tidak mempunyai rasionalitas tetapi itu akan tertutup oleh
emosionalitas yang cenderung kuat. Wajar saja memang orang akan bangga
dengan organisasi dan program kerjanya. Tapi karena ia emosional, maka
sikapnya sangat promordial serta cenderung benar sendiri.
        Menurut Amin Said Husni selanjutnya partai yang dianggap sekuler bukan
berarti tidak memiliki nilai-nilai religiusitas. Perbedaannya barangkali
hanya pada penempatan posisi agama dalam konstruksi partai tsb. PKB,
misalnya, banyak yang menyebutnya partai sekuler. Karena berlandaskan
Pancasila. Tapi inspirasinya yang muncul di tengah-tengah kami, selalu
didasarkan pada nilai-nilai keagamaan. Dalam hal ini Islam.
        Sejak awal, kami memang tidak melihat perbedaan yang prinsip dan harus
dipertentangkan antara nilai-nilai agama dengan nilai kehidupan berbangsa
dan bernegara. Seperti nilai kesetaraan dan keadilan. Ini kan baik dalam
Pancasila maupun ajaran Islam sama dianjurkannya maka yang sering tampak
pada wajah suatu partai adalah semangat nasionalisme. Tetapi sumber
inspirasinya justru berasal dari nilai-nilai agama.
        Kami menilai, inilah yang akan menjadi kebutuhan masa depan. Sebab,
bagaimanapun juga partai yang sekuler akan mengalami kekeringan dalam nilai
religi. Sementara, partai aliran bakal bersifat ekstrim, fundamentalis.
Sehingga tidak mendukung iklim yang kondusif dalam suasana pluralisme.
        Demikian Wakil Sekjen PKB. Dan bagaimana tanggapan Partai Keadilan?

MASALAHNYA BUKAN SEKULER ATAU BUKAN
        Berbeda dengan Amin Said Husni mengenai anjuran sebaiknya partai bersifat
sekuler, maka Nur Mahmudi Ismail, Presiden PK (Partai Keadilan) mengatakan:
Itu hanya anjuran. Boleh-boleh saja menyatakan itu. Tapi saya kurang
mengerti hubungan antara partai sekuler dengan kehidupan partai-partai yang
kondusif.
        Menjawab pertanyaan: bahwa partai sekuler lebih bertumpu pada rasionalitas,
sementara partai agama cenderung emosional, Nur Mahmudi Ismail mengatakan:
Itu penilaian yang terlalu simplistis. Kesimpulan semacam itu saya pikir
tidak berdasar. Yang benar itu, bahwa manusia hidup tidak bisa melepaskan
diri dari norma dan juga rasionalitas. Bagaimanapun juga harus ada
keseimbangan antara keduanya. Orang yang paling rasional sekalipun, tetap
harus berjuang dalam kerangka yang etis.
        Nur Mahmudi Ismail juga mengemukakan bahwa masalahnya bukan sekuler atau
bukan, tetapi apakah partai itu berpikir tentang bangsa ini secara positif.
ldealnya kan semua SDM partai membawa kendaraan politik ini untuk
kepentingan yang luas, menjunjung tinggi nilai-nilai akhlak dan moral.
        Jika semua partai tidak menunjukkan komitmen kepada keadilan, HAM,
demokrasi dan semacamnya, tidak bisa diajak kerjasama. Terlepas dari apakah
itu berdasarkan agama atau bukan.
        Berbedanya tanggapan Nur Mahmudi Ismail dengan Amin Said Husni terhadap
anjuran Ichlasul Amal, karena berbedanya azas dari partai mereka, yang satu
dari Partai Keadilan yang berasaskan Islam dan yang satunya PK yang
berasaskan Pancasila, yang disebut sekuler.

PARTAI HARUS MENEGAKKAN KEADILAN
        Bertolak dari kesimpulan Nur Mahmudi Ismail bahwa bila suatu partai tidak
menunjukkan komitmen kepada keadilan, HAM, demokrasi, maka partai itu tidak
bisa diajak kerjasama. Terlepas dari apakah itu berdasarkan agama atau
bukan. Dengan kata lain partai yang demikian tidak berhak untuk hidup.
        Mengapa komitmen partai kepada keadilan, HAM dan demokrasi? Sebagai seorang
yang beragama Islam dia berkewajiban menegakkan keadilan, HAM dan demokrasi.
Hal itu dengan tegas dikatakan dalam surat Al Maidah ayat 8 sbb: "Hai
orang-orang yang beriman, hendaklah kamu berdiri karena Allah, menjadi saksi
dengan keadilan. Janganlah kamu tertarik karena kebencianmu kepada satu kaum
sehingga kamu tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena keadilan itu lebih
dekat kepada taqwa dan takutlah kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha
mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan".
        Keadilan yang harus ditegakkan ini meliputi seluruh lapangan kehidupan:
ekonomi, sosial, politik, budaya dan seterusnya.
        Keadilan di lapangan ekonomi, misalnya, yaitu agar setiap orang hidup dari
hasil tenaga kerjanya, bukan hasil dari mencuri atau merampas hasil kerja
orang lain. Hal itu dengan tegas dikatakan dalam surat Al Baqarah ayat 188:
"Janganlah sebagian kamu memakan harta orang lain dengan yang batil (tiada
hak) dan (jangan) kamu bawa kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian
dari harta orang dengan berdosa, sedang kamu mengetahuinya". Untuk keadilan
di lapangan ekonomi, maka partai-partai programnya harus menentang adanya
penghisapan manusia atas manusia.
        Juga harus ada keadilan di lapangan sosial politik. Karena manusia itu sama
di depan Tuhan (lihat surat Al Hujurat, Ayat 10). Maka karena itu tidak
boleh ada diskriminasi perlakuan atas sebagia manusia, atas sebagian warga
negara. Misalnya bagi sebagian warga negara dijamin haknya untuk
berorganisasis bersidang dan berkumpul, mengeluarkan pendapat dengan lisan
dan tulisan, sedang terhadap sebagian warga negara ditiadakan jaminan itu
Tindakan diskriminatif itu adalah tidak adil, zalim dan itu juga
bertentangan dengan Pasal 27 UUD 1945, yang menyatakan semua warga negara
bersamaan kedudukannya di depan hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung
hukum dan pemerintahan itu tanpa kecuali.
        Adalah suatu keputusan politik yang zalim atau tidak adil dari DPR (warisan
Suharto) yang memberi 38 kursi gratis bagi ABRI di DPR, melalui
pengangkatan, bukan pemilu. Sedang untuk merebut satu kursi saja bagi partai
peserta pemilu harus memobilisasi semua kekuatan yang ada pada mereka.
Benar-benar diskriminatif, benar-benar menentang Pasal 27 UUD 1945.
Keputusan itu dibikin oleh Golkar, PDI yang sekuler serta PPP yang katanya
berazaskan Islam dan fraksi ABRI yang katanya beragama.
        Dengan demikian, pengalaman menunjukkan tidak ada jaminan bahwa partai yang
sekuler atau beragama akan menegakkan keadilan, bila komitmennya pada
keadilan, HAM, demokrasi memang tidak ada atau kecil sekali. Mereka lebih
mementingkan kepentingan yang lain. Jadi masalah pokoknya bukan apakah
partai itu harus bersifat sekuler atau bukan, melainkan masalahnya apakah
partai itu menegakkan keadilan, HAM dan demokrasi atau tidak.

KESIMPULAN
        Secara rasional dapat disimpulkan bahwa partai yang kondusif bagi masa
depan, ialah partai yang berjuang dengan sungguh-sungguh untuk menegakkan
keadilan, HAM dan demokrasi. Partai itu bisa bersifat sekuler, bisa juga bukan.
        Partai yang tidak menegakkan keadilan, HAM dan demokrasi, apakah secara
formal ia bersifat sekuler atau bukan, sejarah nanti akan membuktikan bahwa
partai itu tidak kondusif bagi kehidupan bangsa di masa depan dan akan
ditinggalkan bangsa.***


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 11 Mar 1999 jam 18:50:43 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke