---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk WARGA AMBON TOLAK TUDINGAN RMS DIBALIK KERUSUHAN AMBON (SiaR, 11/3/99)--Kerusuhan di Ambon makin tak berujung-pangkal, pasalnya para pejabat pemerintah silih-berganti menuduh garakan separatisme Republik Maluku Selatan (RMS) berada di balik kerusuhan tersebut. Padahal para tokoh-tokoh Ambon berkali-kali menolak tuduhan itu, dan pernah mengecam mereka yang melemparkan isu tersebut justru sebagai dalang di balik kerusuhan. Sehari setelah warga masyarakat Ambon mengecam Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan Hendropriyono dan memintanya agar menarik ucapan sang menteri yang menyatakan Republik Maluku Selatan (RMS) di balik kerusuhan Ambon, seolah mengabaikan kecaman tersebut, Rabu (10/3), giliran Menko Polkam Feisal Tanjung mengulangi ucapan kolega-koleganya yang menyebut RMS sebagai dalang kerusuhan. Sejumlah organisasi kemahasiswaan seperti Senat Mahasiswa Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) dan GMKI cabang Ambon meminta para pejabat pemerintah pusat tidak memperkeruh suasana dengan pernyataan-pernyataannya yang tidak berdasarkan fakta. Mereka mensinyalir ada kekuatan elite pemerintahan yang justru berkepentingan dengan melempar disinformasi yang menyesatkan masyarakat. Menurut Korwil GMKI Malirja, John Latumeirissa, penyebutan RMS sebagai dalang hanyalah kambing-hitam pemerintah pusat. Akibat disinformasi yang ada, ia melihat ada sebagian umat muslim yang terpengaruh, sehingga mengobarkan seruan jihad dimana-mana. "Kalau mau jujur, lebih banyak warga nasrani yang menjadi korban penembakan membabi-buta aparat keamanan. Jadi saya lebih mendukung tesis adanya pihak yang sengaja mengadu-domba antar agama untuk keuntungan tujuan politik kelompoknya. Misalkan akibat kerusuhan berlarut-larut, Pemilu mendatang jadi gagal, dan status quo tetap berkuasa," ujarnya. Tentang korban-korban warga nasrani yang ditembak aparat keamanan, ia mencontohkan tewasnya 7 orang warga desa Waimintal pada pertengahuan Pebruari 1999 lalu akibat berondongan senapan mesin aparat keamanan dari kesatuan Kostrad Kodam Wirabuana Ujungpandang, serta kasus Gereja Silo, Ambon, dimana seorang warga gereja tewas dan puluhan lainnya luka parah tertembak berondongan senapan otomatis. Dari data yang dikeluarkan Crisis Center Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (CC-PGI), penembakan membabi-buta aparat keamanan yang terakhir dialami warga Ambon adalah yang terjadi di sekitar Tugu Trikora, di dekat Gereja Silo, Ambon, Sabtu (6/3) lalu. Satu orang tewas dan sebanyak 23 lainnya mengalami luka-luka, sebagian besar adalah warga Gereja Silo yang saat itu sedang melakukan siskamling di wilayahnya. Warga mencurigai dua kendaraan mobil kijang yang mondar-mandir. Ketika diberhentikan untuk diperiksa identitasnya, mereka menolak, dan sekonyong-konyong sejumlah penumpang dari salah satu mobil tersebut ke luar dan menembakkan peluru dari senapan laras panjang. Warga yang panik berlarian menyelamatkan diri, dan berlindung ke dalam Gereja Silo, tapi para penumpang itu terus menembaki hingga kaca-kaca pecah, dan tembok gereja penuh lubang peluru. Menurut Jopi Patinasarani, salah seorang warga Trikora, tak mungkin warga sipil memiliki senapan otomatis terkecuali aparat keamanan. Ia juga menduga provokator di balik peledakan bom rakitan dan penculikan warga Ambon selama ini dilakukan oleh aparat berpakaian preman, agar kerusuhan terus berlangsung. "Jadi tolong hal ini dipahami oleh pihak-pihak yang bertikai, termasuk kepada saudara-saudara kami kaum muslim di luar Maluku," ucapnya.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 11 Mar 1999 jam 19:07:28 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
