---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 09/II/11-17 Maret 99 ------------------------------ REPOSISI PDI PERJUANGAN Oleh: Togi Simanjuntak (OPINI): Hampir sepuluh bulan sejak kejatuhan Soeharto, gerakan reformasi berada di persimpangan jalan dan memasuki masa-masa yang krusial. Bukan hanya euforia politik selama kurun waktu sepuluh bulan itu semakin membosankan khalayak, juga dikarenakan -disadari atau tidak- kekuatan-kekuatan pro-status quo secara pelan tapi pasti membangun kembali karakter kekuasaannya. Meskipun tingkat militansi dan kesetiaan ideologis ratusan ribu massa yang hadir mesti diuji kembali, tapi revitalisasi pro-status quo tampak secara demonstratif dalam deklarasi Partai Golkar di Stadion Utama Senayan, 7 Maret 1999 lalu. Peringatan dini yang mesti dicermati kekuatan-kekuatan pro-reformasi adalah kekuatan politik uang serta jaringan infrastruktur pro-status quo yang mesti diakui masih solid, hingga pelosok tanah air. Prediksi Amien Rais tentang hasil Pemilu Juni 1999, dimana terjadi perimbangan jumlah kursi di Parlemen antara partai-partai pro-status quo dengan partai-partai pro-reformasi, menyebabkan jumlah 38 kursi "gratis" ABRI signifikan menentukan apakah agenda reformasi seperti harapan rakyat atau tidak. Bak gayung bersambut, Megawati Soekarnoputri menyambar prediksi Amien Rais itu dengan menyerukan perlunya dibangun kekuatan bersama -untuk tak menyebut koalisi- semua komponen pro-reformasi. Disini persoalannya, semua komponen pro-reformasi hingga kini masih terfragmentasi dalam mendiagnosis sebab-musabab porak porandanya negeri ini, dan bagaimana solusi terbaik untuk keluar dari krisis itu. Lebih jauh lagi kenyataan adanya sikap saling curiga antar komponen atau elemen pro-reformasi menyebabkan praksis gerakan politik dari kekuatan oposisi demokratik dari waktu ke waktu makin melemah. Padahal saling curiga itu -jika semua komponen pro-reformasi merenung kembali- merupakan sisa-sisa sampah dari setumpuk sampah masalah yang ditinggalkan kediktatoran Orde Soeharto melalui politik devide et impera dan politik penjinakan ala negara korporatis. Untuk menuju Indonesia baru yang demokratis kerakyatan, maka sikap arif dari partai-partai politik yang berada di aras pro-reformasi -parsial maupun total- untuk membangun koalisi, aliansi atau apapun istilahnya, tak mungkin ditunda-tunda, jika kita tak ingin melihat negeri ini jatuh kembali ke lobang yang sama, lobang yang pernah digali rezim sebelumnya. Meskipun Pemilu mendatang diikuti 48 partai, tapi -dari karakter dan platform- ada tiga partai politik berbasis massa riil yang tampaknya memiliki kans sebagai penantang partai-partai politik pro-status quo, yaitu Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Amanat Nasional (PAN), dan PDI Perjuangan. Pemilu mendatang dan kecenderungan partai-partai politik yang ada tampaknya tetap tak lepas dari politik aliran, dan satu diantaranya yang memiliki daya tarik bagi pemilih Islam -baik kultural, modernis, abangan atau santri-, non-muslim, nasio-nalis, buruh, petani, dan sosial-demokrat adalah pada PDI Perjuangan. Suka tak suka secara riil politik harus diakui militansi dan dukungan massa rakyat -terutama dari strata sosial menengah ke bawah- terhadap PDI Perjuangan. Oleh sebab itu, untuk mencapai harapan Megawati Soekarnoputri, agar seluruh komponen pro-reformasi membangun suatu koalisi ber-sama, maka ke dalam tubuh PDI Perjuangan mesti dilakukan retropeksi atas perjalanan mereka sebagai partai politik, terutama sejak dua tahun belakangan. Langkah perenungan untuk menganalisis kekuatan dan kelemahan PDI Perjuangan sebagai suatu partai dimaksudkan agar dalam jangka waktu singkat kurang dari tiga bulan ini, mereka menemukan formulasi yang tepat untuk mengonsep serta mendefinisikan platform bagi koalisi tersebut. Langkah pertama, mungkin perlu dibangun kesamaan platform antar partai-partai pro-reformasi tentang apa dan bagaimana corak koalisi atau paling tidak pra-Pemilu ini, aliansi strategis tersebut. Maka beberapa perbedaan substansial -yang tidak direduksi menjadi persoalan prinsip dengan label "harga mati" itu- menyangkut visi dan persepsi tentang berbagai isu-isu nasional mesti dikompromikan terlebih dahulu. Soal isu Timor Timur dan isu negara federal misalnya, mungkin membutuhkan kearifan dari tokoh-tokoh partai-partai politik pro-reformasi untuk menemukan kompromi yang terbaik. Masalahnya isu-isu yang mengundang polemik antar-partai itu menjadi terbiaskan oleh memori kolektif tentang stereotip tokoh-tokoh tersebut di masa lalu. Bukankah di Ciganjur, para tokoh itu bisa duduk bersama berdampingan? Jika memerangi kekuatan pro-status quo sudah menjadi kesepakatan utama, maka PDI Perjuangan pun dapat belajar seiring perjalanan waktu, tentang latar-belakang sebenarnya dari persoalan Timor Timur. Berendah hati untuk belajar itu bukanlah hal yang menghinakan diri sendiri, terutama menyangkut perjuangan kemanusiaan bagi hak-hak fundamental rakyat Timor Timur untuk memerdekakan diri. Berendah hati untuk belajar itu adalah mau memahami bahwa mengapa Bung Karno tidak menganeksasi Timor Timur -berbeda dari Irian Barat-, karena berdasarkan ketentuan Pax Neederlandica (1908), bahwa wilayah hukum RI pasca kekuasaan Hindia Belanda tak termasuk Timor Timur, Sarawak (Kalimantan Utara), Brunei dan Malaya. Bahwa Timor Timur pernah memerdekakan diri dari kolonialisme Portugal pada Oktober 1975, sebelum tentara Indonesia masuk ke wilayah tak berpemerintahan -menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa- pada Desember 1975, atas -konon- "persetujuan" Deklarasi Balibo. Bahwa faham Maubereisme para pejuang kemerdekaan Timor Timur itu diinspirasikan dari ajaran Marhaenisme Bung Karno yang terkenal itu. Berdasarkan fakta-fakta historis tersebut, kompromi yang terbaik: membiarkan rakyat Timor Timur menentukan nasibnya sendiri melalui referendum. Dengan argumentasi demikian bukan dimaksudkan menempatkan PDI Perjuangan diantara dua pilihan yang bak makan buah simalakama. Tapi, jika mesti memilih membiarkan kekuatan Soehartois kembali berkuasa ataukah bertahan dengan prinsip-prinsip yang sebenarnya dapat dikompromikan itu, maka mengorbankan yang kedua adalah pilihan logis bagi PDI Perjuangan agar rakyat dan bangsa ini tak jatuh ke jurang kehancuran. Langkah kedua, pasca kompromi adalah dalam jangka pendek membangun aliansi strategis untuk memonitor penyelenggaraan Pemilu atau hal-hal lain tersangkut dengan kepentingan Pemilu dalam kaitan memenangkannya bagi seluruh kekuatan demokrasi kerakyatan. Untuk itu, PDI Perjuangan sebagai salah satu partai besar yang memiliki jaringan infrastruktur hingga ke tingkat akar rumput di tingkat ranting atau desa harus berani mengambil prakarsa membangun suatu aliansi strategis, apakah dengan PKB, PAN dan partai lainnya. Agar aliansi strategis itu berdaya-guna tak mungkin tanpa adanya kesepakatan bersama antar pimpinan pusat partai-partai bersangkutan, yang kemudian diturunkan dalam bentuk surat keputusan, instruksi, seruan dan sejenisnya dari tiap-tiap DPP partai -termasuk tentunya PDI Perjuangan-, hingga memiliki kekuatan mengikat bagi tiap kadernya hingga ke tingkat ranting untuk melaksanakan instruksi tersebut. Sebagai konseptor dan operator lapangan perwujudan garis-garis besar haluan aliansi strategis yang dikeluarkan DPP PDI Perjuangan tentunya diserahkan sepenuhnya kepada para intelektual muda dan aktivis-aktivis muda yang memiliki basis hingga ke tingkat akar rumput, bekerjasama dengan para intelektual muda dan aktivis-aktivis muda partai lainnya yang juga telah diinstruksikan untuk membangun aliansi strategis dengan PDI Perjuangan. Langkah ketiga, adalah lebih bersifat ke dalam internal PDI Perjuangan. Bagaimanapun, dua langkah dimuka itu keberhasilannya sangat tergantung dari kualitas sumber daya manusia yang dimiliki oleh PDI Perjuangan sendiri. Bahwa militansi massa rakyat pendukung PDI Perjuangan mesti diisi dengan pemahaman ideologi yang tepat, agar gerakan kaum militan itu memiliki bobot dan tak terjebak kepada bentuk fasisme dari penerapan Nasionalisme Lama ala "right or wrong is my country". Sementara itu, harus diakui ada semacam jarak atau kesenjangan antara kader-kader PDI Perjuangan di luar klik elite partai -yang seperti partai-partai lainnya juga terfragmentasi atas faksi-faksi- dengan mereka yang berada di inner circle elite partai. Dinamika dan percepatan dari penyebaran gagasan-gagasan politik progresif yang diserap kader-kader muda PDI Perjuangan di luar elite partai menyebabkan terinternalisasinya paradigma baru ke dalam sistem pengetahuan mereka tentang gerakan menuju demokrasi kerakyatan, yang sudah tentu meninggalkan di belakang paradigma lama para elite partai dalam langkah menuju Indonesia baru. Hal ini tak perlu dipertentangkan, karena seperti kategori Ben Anderson dalam disertasinya Java in A Time of Revolution, bahwa di masa revolusi kemerdekaan, kekuatan republikan terbagi atas dua golongan, yakni kaum tua yang direpresentasikan Soekarno-Hatta dan kawan-kawan, serta kaum muda yang direpresentasikan Wikana-Chairul Saleh dan kawan-kawan. Kedua golongan itu memiliki tujuan yang sama. Bedanya yang satu terkesan lamban dan penuh kompromi, yang satu lagi militan, revolusioner dan tak ada kompromi sama sekali. Mudah-mudahan komparasi itu tepat. (*) Penulis adalah sejarawan dan anggota PDI Perjuangan --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 13 Mar 1999 jam 19:26:31 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
