----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 09/II/11-17 Maret 99
------------------------------

BUNG KARNO, MEGAWATI DAN XANANA

Oleh: Tri Agus Siswowiharjo

(OPINI): Perjuangan kemerdekaan di Timor Portugis adalah bentuk perjuangan
kemerdekaan yang bagi Indonesia harus terus menerus secara aktif didukung
(Pidato Soekarno dalam peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus
1965) Dua opsi yang ditawarkan pemerintah Indonesia untuk menyelesaikan
masalah Timor Timur tidak saja mengejutkan dunia internasional, juga
politisi dalam negeri. Tawaran yang disampaikan pada 27 Januari tersebut
adalah, otonomi seluas-luasnya sebagai solusi akhir, dan (jika ditolak) maka
pemerintah akan menyarankan ke parlemen hasil pemilu 1999 untuk melepas
Timor Timur dari negara kesatuan RI. Salahsatu politisi domestik yang cukup
terkejut, dan kemudian menentang kebijakan Presiden Habibie tersebut adalah
Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Tulisan pendek ini mencoba
menelaah tentang konsistensi perjuangan Megawati yang selalu membanggakan
Presiden pertama RI yang juga ayahnya sendiri, Ir. Soekarno, terutama
menganai masalah Timor Timur.

Dalam pernyataan tertulisnya sehubungan dengan dua opsi di atas, Megawati
sangat menyayangkan kebijakan Habibie tersebut karena beberapa hal. Pertama,
Habibie (sebagai pemerintahan transisi) tidak  mempunyai kewenangan
melakukan keputusan yang bersifat penting dan berdampak bagi persatuan dan
kesatuan wilayah RI. Kedua, alasan yang dipakai oleh Habibie adalah ekonomis
pragmatis, menganggap Timor Timur sebagai sebuah beban. Kemudian, ketika
menerima delegasi dari Forum Persatuan Demokrasi dan Keadilan (FPDK)
Megawati menegaskan kembali tekadnya untuk tetap mempertahankan Timor Timur
sebagai bagian dari wilayah RI.

Pandangan Megawati yang merupakan salah satu calon kuat Presiden RI tersebut
kemudian memancing komentar Presiden Dewan Nasional Perlawanan Rakyat Timor
Timur (CNRT) Xanana Gusmao.  Tidak dapat saya bayangkan seorang pemimpin
partai yang gigih berjuang di era orba tidak bisa menghormati hak-hak
fundamental rakyat dunia yakni, prinsip-prinsip demokrasi demikian Xanana
dalam wawancara khusus Tinjauan Asia Pasifik Radio Australia.

Mengapa Megawati mempunyai pendirian sangat kaku, seperti sikap orde baru
era Soeharto yang telah dicoba ditinggalkan Presiden Habibie? Ada beberapa
alasan. Pertama, Megawati dan orang-orang dekatnya tidak paham betul tentang
sejarah dan situasi terakhir masalah Timor Timur. Misalnya salah satu Ketua
PDI Perjuangan Kwiek Kian Gie, berpendapat yang menuntut merdeka merupakan
minoritas. Yang menghendaki Timtim merdeka, yang kita baca adalah Ramos
Horta yang tidak pernah di Timtim, Xanana Gusmao yang sudah enam tahun tidak
menginjak Timtim. Tetapi kalau kita mendengar dari 12 cabang PDI Perjuangan
yang hidup di Timtim, 12 cabang kami menghendaki tidak mau merdeka. Jadi
siapa yang harus dituruti saat ini, lanjut Kwiek. Kedua, Megawati, dan
beberapa politisi lainnya, cenderung reaktif terhadap apapun kebijakan
Presiden Habibie, tanpa mencermati terlebih dahulu kebijakan itu sendiri.
Ketiga, Megawati sudah tak lagi membanggakan Bung Karno sebagai pendiri RI
sekaligus tokoh Gerakan Non Blok.

Bung Karno adalah proklamator kemerdekaan RI yang secara gigih menentang
kolonialisme dan imperialisme sepanjang hayatnya. Sebagian masa mudanya
dihabiskan keluar masuk penjara untuk membela prinsip-prinsip politiknya.
Ketika bersama Hatta, Soepomo, Moh Yamin dan anggota BPUPKI lainnya dalam
sidang kedua (10 Juli 17 Juli 1945), Soekarno sepakat bahwa apa yang disebut
sebagai wilayah Indonesia adalah wilayah bekas jajahan Belanda. Jadi bukan
termasuk Semenanjung Malaya, Kalimantan Utara, Papua Timur, maupun Timor
Portugis, seperti diusulkan Yamin, yang mendasarkan klaimnya berdasar
wilayah Majapahit dalam kitab Negarakertagama. Bagi Bung Karno yang sering
mengutip Renan, bangsa adalah entitas yang terbentuk karena persamaan
nasib,yaitu karena penjajahan. Para pendiri republik itu juga telah
meletakkan dasar yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang dasar 1945,
Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab
itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai
dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Pada bagian lain disebutkan bahwa
salah satu tujuan didirikan Republik Indonesia adalah untuk turut serta
menjaga ketertiban dunia.

Setelah Indonesia merdeka, Bung Karno bersama beberapa pemimpin bangsa Asia
dan Afrika memprakarsai Konperensi Asia Afrika 1955 di Bandung. Konperensi
yang bersejarah itu melahirkan deklarasi Dasa Sila Bandung yang kemudian
ditindaklanjuti dengan pembentukan organisasi antar negara merdeka di Asia
Afrika untuk melawan segala jenis kolonialisme dan imperialisme. Melalui
Gerakan Non Blok, kepemimpinan Bung Karno diakui dunia. Beberapa negara di
Asia dan Afrika lahir, antara lain karena dukungan gerakan ini. Dalam soal
wilayah RI pemerintahan Bung Karno secara tegas berhasil meyakinkan dunia
dalam soal Irian Barat. Perdana Menteri Djuanda pada tahun 1959 menyatakan
bahwa Indonesia tidak mempunyai ambisi teritorial. Perjuangan merebut Irian
Barat bukanlah ambisi teritorial, melainkan mewakili klaim Indonesia atas
bagian wilayahnya (bekas jajahan Belanda) yang masih dikuasai bangsa lain.
Mengenai soal Timor Portugis, pemerintahan Bung Karno melalui Menteri Luar
Negeri Soebandrio pada 1961 mengatakan, "Kami tidak menuntut bagian dari
Pulau Timor yang berada di bawah kekuasaan Portugis, meskipun rakyat
tersebut mempunyai ras yang sama dengan kami.

Pandangan pemerintah Indonesia tentang penjajahan, kemerdekaan dan demokrasi
berubah setelah Soeharto tampil di puncak kekuasaan menggantikan Bung Karno.
Pada tahun 1975 dimana Perang Dingin antara blok Timur dan Barat masih
berkecamuk, Indonesia masuk dalam kisaran itu. Saat konflik muncul di negeri
tetangga Timor Portugis, sekonyong-konyong komunis phobi yang masih
menghangat di Indonesia tiba-tiba berwujud pada penyerangan dan kemudian
pendudukan wilayah bekas jajahan Portugis yang sedang melakukan dekolonisasi
itu. Operasi militer besar-besaran yang menelan banyak korban dari dua belah
pihak itu kemudian dikemas seolah-olah ada integrasi secara sukarela,
selanjutnya diputuskan Undang Undang No. 7 Tahun 1976 Tentang Integrasi dan
ditetapkan Tap MPR No. VI Tahun 1978 Tentang Integrasi. Di bawah Soeharto
masalah Timor Timur dianggap selesai, tetapi tidak bagi dunia internasional.
Termasuk PBB tidak mengakui secara 'de jure' kedaulatan Indonesia di Timor
Timur.

Kini sebuah ironi justru ditampilkan oleh seorang Megawati putri sulung Bung
Karno, yang selama ini gigih menentang ketidakadilan orde baru di bawah
Soeharto. Alasan-alasan yang dikemukan Megawati seperti integrasi telah
final,nasionalisme serta  persatuan dan kesatuan, adalah justru yang sering
dipakai orde baru, dan yang ditentang oleh gerakan pro demokrasi di
Indonesia. Mengganggap masalah Timor Timur telah selesai dan merupakan
wilayah sah RI sama dengan mengisolasidiri dalam pergaulan internasional.
Dan itu memperburuk citra Indonesia di mata dunia. Sedangkan alasan
nasionalisme dan persatuan dan kesatuan, sama sekali tak relevan.
Nasionalisme yang dibangun para pendiri republik kita didasarkan karena
persamaan nasib di bawah kolonialisme Belanda, bukan persamaan ras, agama
atau suku bangsa. Mempercayai mitos apabila Timor Timur merdeka maka akan
mempengaruhi daerah lain di Indonesia, sama dengan tetap mempercayai
paradigma orde baru yang telah dikoreksi oleh rakyat dan pemerintah Habibie.
Menganggap bahwa masalah Timor Timur adalah separatisme adalah keliru, sebab
yang ada adalah masalah hak penentuan nasib sendiri sebuah bangsa.

Jika pada tahun 1974/75 yang terjebak dalam pusaran Perang Dingin adalah
Soeharto, di mana kemudian ia memerintahkan penyerangan pada 7 Desember
1975, kini Megawati justru mendukungnya, dan mencoba membangun pembenaran
masa lalu, hanya karena kurang atau tidak respek dengan pemerintahan Habibie
saat ini. Jika sikap Megawati ini terus dipertahankan, maka dirinya bakal
terjebak seperti Soeharto. Megawati seperti kita ketahui berpandangan sama
dengan Soeharto, artinya menolak referendum dan menganggap masalah Timor
Timur telah usai. Bagi masyarakat internasional posisi seperti ini kurang
menguntungkan, karena bisa dipandang kurang menjamin kestabilan kawasan
dengan  menyimpan masalah Timor Timur sebagai urusan dalam negeri. Dari
sinilah kita bisa menilai kapasitas kepemimpinan Megawati yang selalu
dikaitkan dengan sang proklamtor Bung Karno.

Megawati memang banyak diramalkan akan memperoleh banyak kursi dalam pemilu
tahun ini. Jika jalan menuju istana sukses diraih, maka masalah Timor Timur
akan menjadi masalah pertama dan utama yang harus dihadapinya nanti. Selama
dua dasa warsa Soeharto telah gagal menghadapi masalah Timor Timur. Tentu
dapat kita ramalkan Megawati akan menghadapi permasalahan sama jika
paradigma Soeharto tetap dipakai.

(*) Penulis adalah media relation Solidamor (Solidaritas untuk Penyelesaian
Damai Timor Leste)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 13 Mar 1999 jam 20:03:43 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke