----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

Stockholm, 6 Maret 1999

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

APAKAH BENAR SUDAH ADA PERJANJIAN DAMAI DI AMBON ANTARA TOKOH-TOKOH ISLAM,
KRISTEN, ADAT DAN ABRI KEMUDIAN PERJANJIAN DAMAI ITU
DILANGGARNYA?.
Ahmad Sudirman
Modular Ink Technology Stockholm - SWEDIA.

Menanggapi masukan dari Akhi Haris A.Falah dengan subject "Peristiwa
Ambon berdarah" yang disampaikan kepada saya pada tanggal 6 Maret 1999
(masukan lengkapnya saya lampirkan di bawah).

Setelah saya membaca masukan akhi Haris A.Falah dan memikirkannya secara
mendalam, maka timbul pertanyaan, apakah benar sudah ada perjanjian
damai di Ambon antara tokoh-tokoh Islam, Kristen dan Adat serta dihadiri
oleh pihak ABRI (Pangab Jenderal TNI Wiranto) kemudian perjanjian damai
itu dilanggarnya, sehingga mengakibatkan pertumpahan darah?.

Kalau memang benar seperti yang dikatakan oleh akhi Haris A.Falah
diatas, maka saya berpendapat bahwa siapa yang melanggar perjanjian
damai itu harus menerima resiko hukuman sesuai dengan hukum yang berlaku
di Negara Pancasila dengan UUD'45.

Walaupun memang benar kita mempunyai hukum Islam, tetapi hukum Islam ini
tidak berlaku di Negara Pancasila dengan UUD'45-nya. Karena itu, saya
meminta kepada seluruh kaum Muslimin untuk tidak bertindak
sendiri-sendiri, melainkan harus berdasarkan keputusan bersama dari
seluruh ummat Islam Indonsia dalam mengambil tindakan berdasarkan apa
yang telah diperintahkan Allah yang ada dalam Al Qur'an.

Saya memang sebagai seorang muslim merasa tersinggung, tersayat dan
merasa dihinakan atas kejadian pertumpahan darah di Ambon sekarang ini,
tetapi saya menyadari bahwa seperti apa yang telah dicontohkan
Rasulullah bahwa mengadakan jihad kuffur (mendeklarasikan perang agama
dengan berdasarkan perintah Allah yang tertuang dalam surat Al Baqarah:
190) adalah setelah Rasulullah membangun Daulah Islam dengan Undang
Undang Madinahnya.

Penyelesaian yang terbaik menurut saya pada saat sekarang ini adalah
berusaha menahan emosi dan tidak mudah terpancing oleh adanya provokasi
dan kembali mengadakan perjanjian damai antara tokoh-tokoh Islam,
Kristen, Adat dan dari  pihak ABRI (Pangab Jenderal TNI Wiranto) dengan
persyaratan siapa yang melanggar perjanjian damai ini akan mendapatkan
atau menerima hukuman yang setimpal dengan tindakannya dan mengganti
kerugian yang diakibatkan oleh tindakan pelanggarannya itu.

Kemudian mendesak kepada Penguasa Indonesia di bawah Presiden BJ Habibie
dengan Menhankam/Pangab Jenderal TNI Wiranto untuk menindak tegas kepada
oknum-oknum penimbul kerusuhan dan pertumpahan darah ini.

Dan kita kaum muslimin jangan membuat hukuman sendiri, karena kalau
berbuat demikian, akibatnya akan menimbulkan kerugian kepada kaum
muslimin seluruhnya.

Insya Allah dengan tetap kita memohon pertolongan dan petunjuk serta
bimbingan Allah SWT, semoga kita semua diselamatkan dari kemelut
kehancuran negara Indonesia.

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

-----
6 Maret 1999
Haris A.Falah menulis:

Peristiwa Ambon berdarah

Batavia, 6 Maret 1999

Bismillahirrahmanir Rahiim

Kepada Akhi Ahmad Sudirman

Kasus Ambon tidak bisa kita melihat hanya dari sisi politik, dimana
selalu masalah provokator yang kita himbau dan dicari. Masalah yang satu
ini dari beberapa kasus tidak pernah ditemukan siapa provokator itu.
Namun dibalik itu semua pada kenyataan Kaum non Muslim dengan membabi
buta membantai ummat Islam.

Ketika saya bertemu dengan Imam Masjid AL Fatah Ambon, yaitu ustadz
Abdul Aziz, beliau menjelaskan jauh sebelum terjadi bentrokan fisik,
memang pihak nasara sudah mengadakan persiapan senjata tajam berupa
parang, yang pada akhirnya digunakan untuk membantai ummat Islam. Dan
menurut cerita beliau keadaannya persis seperti Bosnia.

Lepas dari masalah provokator sebagai pemicu, sudah merupakan karakter
kaum Nasrani dan Yahudi yang tidak pernah senang dengan ummat Islam
sampai ummat Islam masuk ke dalam millah mereka. Qs. Al Baqarah (2) ayat
120. Dan apabila ummat islam diserang maka sudah menjadi kewajiban kita
untuk membalasnya dengan yang setimpal.

Di Negara Pancasila memang segala seuatu itu semuanya semu. Kalau ada
toleransi ummat beragama maka toleransi itu adalah toleransi semu.

Cobalah mari kita sama-sama memperhatikan Al Qur'an surat At Taubah (9)
ayat 13 " Kenapa kamu tidak memerangi kaum yang sudah melanggar
perjanjian dengan kamu, dan mereka berkemauan keras untuk mengusir Rasul
dan mereka yang
memulai pertama kali perang dengan kamu, Apakah kamu takut kepada mereka
? Padahal Allah-lah yang berhak kamu takuti, jika kamu benar-benar
beriman"

Di Ambon, sudah diusahakan perjanjian damai antara tokoh-tokoh Islam,
tokoh-tokoh Nashara dan tokoh adat serta dari aparat yakni Wiranto.
Namun belum sampai satu hari perjanjian itu dilanggar oleh mereka dengan
kembali menyerang perkampungan orang-orang Islam (berarti mereka kaum
yang melanggar perjanjian / melanggar batas-batas toleransi).

Kalau dahulu Rasul yang diusir, hari ini ummat Islam banyak yang eksodus
dari Ambon. Dan Mereka yang mengobarkan perang terlebih dahulu. Dengan
alasan tersebut maka sangat tidak bijak kalau kita masih hanya sekedar
menghimbau tapi tidak memberikan pembelaan terhadap ummat Islam Ambon.

Ini pendapat saya, mungkin ada kekeliruan mohon tanggapannya

Wassalam
Abu Rijal
------

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 16 Mar 1999 jam 05:36:47 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke