----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


HASAN TIRO: CATATAN HARIAN YANG TAK SELESAI (2)

        BANDA ACEH (MeunaSAH, 17/3/99), Nukilan buku harian Hasan Tiro yang
berjudul "The Price of Freedom: The Unfinished Diary" kali ini berkisah
tentang perjalanan Tiro menyusuri hutan-hutan di Aceh.

        MALAM semakin gelap. Udara dingin menusuk setiap orang di bibir pantai Pasi
Lhok, Kembang Tanjong, Pidie. Hari itu, Sabtu (30 Oktober 1976), Hasan Tiro
mendarat di bumi Aceh setelah 25 tahun mengasingkan diri di Amerika Serikat
(AS).
        Dari pantai, malam itu juga, Hasan Tiro dan sejumlah pengikutnya menuju
hutan. Tak ada istirahat! Enam jam kemudian atau pukul 07.00 WIB (Minggu 31
Oktober 1976) rombongan tiba di gunung Panton Weng. Tenda didirikan sebagai
markas. Panton Weng tempat cocok bergerilya.
        Satu bulan sudah Hasan Tiro berada di Panton Weng. Lalu, diputuskan untuk
pindah ke kawasan Tiro. Ada kesedihan menerpa jiwa Hasan Tiro. Panton Weng
adalah tempat yang sangat bersejarah. Itu markas gerilyawan sejak 100 tahun
silam. Banyak pahlawan meninggal di tempat itu mempertahankan harkat dan
martabat rakyat Aceh saat melawan Belanda. Orang-orang percaya di tempat itu
"ada penjaganya" yaitu dua harimau.
        Pergi ke kawasan Tiro dilakukan atas berbagai pertimbangan. Pertama, Hasan
Tiro mendapat laporan bahwa dengan banyaknya orang yang datang ke Panton
Weng, semakin mencurigakan musuh. Kedua, kalau musuh menyerang, sangat sulit
memasuki Tiro. Dan ketiga, paman Hasan Tiro, Tengku Tjhik Umar di Tiro
mengirim komandan kepercayaannya, Geutjik Uma, untuk menjemput Hasan Tiro
dan membawanya pulang ke Tiro.
        Perjalanan dari Panton Weng ke kawasan Tiro dipandu Pawang Baka. Di bagian
depan berjalan pawang, diikuti pengawal dan rombongan Hasan Tiro. Sedangkan
di bagian belakang pengawal lagi. Sangat sulit menembus hutan yang penuh
belukar. Perjalanan itu jangan sampai meninggalkan jejak bila suatu saat
musuh datang. Butuh waktu empat hari untuk dapat sampai di kawasan Tiro. Itu
merupakan ujian pertama kali bagi Hasan Tiro untuk membuktikan kekuatan
fisiknya.
        Pukul 17.00, perjalanan dihentikan untuk istirahat. Demi keamanan, tidak
boleh ada yang menyalakan api. Untuk tempat tidur cukup dibentangkan
plastik. Yang paling sulit dilakukan ketika melakukan perjalanan ke kawasan
Tiro adalah harus mendaki gunung. Ada yang tak bisa dilupakan Hasan Tiro
saat melintasi pegunungan. Kakinya tergelincir dan ia terjatuh. Untung
Geuthjik Uma sangat tangkas. Ia berhasil menangkap Hasan Tiro sehingga tidak
jatuh ke jurang. Saat itu terlintas dalam pikirannya masa-masa indah ia
berjalan di Fifth Avenue, New York.
        "Apa yang saya lakukan di sini?" tanya Hasan Tiro pada dirinya sendiri.
Waktu itu pukul 02.00 dinihari dan hujan. Semua basah. Ketika tiba di
kawasan Tiro, Hasan Tiro dan pengikutnya terus mensosialisasi missinya. Di
sini, ia masih berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Banyak tokoh
masyarakat terutama dari Pidie, Aceh Utara, dan Aceh Timur menemuinya.
Setiap orang yang bertemu, Hasan Tiro selalu mendapat penghormatan.
Tangannya dicium ketika berjabat.
        Terakhir, Hasan Tiro bertahan di Gunung Tjokkan. Di sini, ia memutuskan
memproklamirkan Aceh Merdeka, tepatnya 4 Desember 1976. Itu moment historis
menandai sehari setelah mangkatnya Tengku Tjhik Maat di Tiro --pemimpin
terakhir Aceh-- yang ditembak Belanda dalam pertempuran sengit di Alue Bhot,
Tangse, pada 3 Desember 1911. Proklamasi sudah diumumkan kepada dunia. Hasan
Tiro dan pengikutnya terus bergerilya di hutan.

        PROKLAMASI kemerdekaan Aceh telah dikumandangkan kepada dunia di Bukit
Tjokkan. Susunan kabinet yang terputus sejak tahun 1911, juga diumumkan pada
hari proklamasi yang bersejarah itu. Namun, pelantikan para menteri tertunda
sampai semuanya datang ke Tiro untuk disumpah Wali Neugara Tengku Hasan
Muhammad di Tiro.
        Setelah diumumkannya proklamasi, utusan berbagai daerah datang siang dan
malam ke markas Hasan Tiro untuk menyatakan dukungan. Bahkan, ada wakil
datang dari luar Aceh.
        Di pihak lain, operasi intelijen semakin gencar dilancarkan pemerintah
terhadap kelompok Hasan Tiro. Tapi, setiap militer ingin melancarkan
serangan, Hasan Tiro selalu menghindari dengan berpindah ke kamp yang banyak
tersebar di hutan.
        Pada 10 April 1977, Geutjhik Uma, komandan pasukan pengawal pribadi Hasan
Tiro, yang meminta izin untuk menjenguk anak dan istrinya di Desa Blang
Kedah, tak jauh dari markas, kembali ke kamp dengan wajah sedih. Hasan Tiro
memintanya untuk menceritakan apa yang terjadi. Sesaat lengang. Geutjhik Uma
hanya terdiam sambil menutup mukanya dengan dua telapak tangan. Sesuatu
telah terjadi. Rumahnya, tadi malam, dikepung tentara.
        "Geutjhik Uma, kami tahu Anda di dalam. Cepat keluar dan menyerah!"
perintah dari kegelapan malam. Tak ada sahutan. Geutjhik Uma sangat terkejut
karena dia tak menyangka tentara telah mengepung rumahnya.
        "Geutjhik Uma, cepat keluar atau kami tembak semua yang ada dalam rumah!"
terdengar lagi perintah.  "Saya akan keluar dengan anak dan istri saya.
Jangan tembak," jawab Geutjhik Uma dari dalam rumah.
        Lalu, ia meminta anak-anak (keduanya wanita) dan istrinya agar keluar lebih
dulu. Setelah keluarganya berada dalam posisi aman dan memastikan tidak
diapa-apakan militer, Geutjhik Uma segera menerobos lewat pintu belakang
sambil melepaskan tembakan ke arah lawan. Dia sangat yakin seorang musuh
berhasil dilumpuhkan. Itu terbukti dari suara, "Ia menembak tangan saya! Dia
menembak tangan saya! Toloong...!!"
        Geutjhik Uma berhasil menerobos kegelapan malam. Butuh waktu lima jam untuk
mencapai markas Hasan Tiro. Geutjhik Uma berhasil mengelabui dengan
menghilangkan jejak dari para pengejarnya.
        Usai bercerita insiden itu, Geutjhik Uma menangis. Hasan Tiro hanya bisa
menghibur sambil memuji dengan kata-kata bahwa yang dilakukan pengawalnya
sebagai tindakan yang benar. "Kalau tak ada anggota keluargamu yang cidera,
tak perlu dikhawatirkan lagi. Semua beres. Yang kamu lakukan adalah tindakan
benar. Ayo sana, makan dan istirahat," ujar Hasan Tiro kepada anak buah yang
selalu setia mengawalnya.
        Insiden di Blang Kedah itu berkembang cepat di tengah masyarakat. Bahkan,
ada rumor yang menyebutkan telah terjadi pertempuran hebat antara tentara
dengan gerilyawan Aceh Merdeka Pertempuran yang melibatkan tank. "Rumor
menjadi bagian dari realita di tengah masyarakat," sebut Hasan Tiro dalam
catatan hariannya. Demi alasan keamanan, pusat pergerakan Hasan Tiro
dipindahkan ke tempat lain lagi.
        Setelah mendapat laporan bahwa pemerintah Indonesia mulai mengampanyekan
kepada masyarakat internasional kelompok Aceh Merdeka sebagai "teroris,
bandit, fanatik", Hasan Tiro berusaha menerbitkan teks proklamasi dalam
bahasa Inggris. Sebanyak mungkin terjemahan itu disebarkan ke seluruh Aceh
dan bahkan ke luar negeri.
        Setiap orang yang ditugasi menyebar informasi ke tengah masyarakat Aceh
selalu mendapat pertanyaan dari rakyat, "Et na ka geutanyoe?" (Sampai di
mana sudah perjuangan kita, red). Setiap hari bersejarah tentang kejayaan
Aceh di masa silam tetap diperingati di hutan lewat upacara khusus dan
khidmat. Misalnya, 23 April diperingati sebagai Hari Pahlawan. Hari itu
diambil dari kemenangan rakyat Aceh dalam Perang Bandar Aceh ketika melawan
Belanda. "Banyak generasi muda Aceh yang melupakan pertempuran hebat pada
1873 itu padahal pers dunia menurunkan kekalahan Belanda sebagai berita
utama," tulis Hasan Tiro. Tahun 1977, Hari Pahlawan diperingati di kamp
Krueng Agam. Perayaan dimulai dengan mengibar bendera Aceh yang diiringi
suara azan.

MENDIRIKAN UNIVERSITAS ACEH
        AWAL Juni 1977, pemerintah semakin meningkatkan perang psikologis untuk
melawan Front Pembebasan Nasional Aceh Sumatera (NLFAS) dan pemimpinnya di
tengah masyarakat. Sejumlah penangkapan terhadap para pengikut NLFAS
dilancarkan. Menurut Hasan Tiro, ribuan orang, termasuk kaum wanita dan
anak-anak, ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara tanpa lewat proses
pengadilan. Banyak tahanan yang disiksa.
        NLFAS yang oleh masyarakat dikenal dengan sebutan Atjeh Meurdehka dicap
sebagai Gerakan Pengacau Liar Hasan Tiro (GPLHT) atau Gerakan Pengacau
Keamanan (GPK). Namun Hasan Tiro seperti diakui dalam catatan hariannya yang
tak selesai ini tidak merasa kecewa.
        Satu kali, seorang komandan militer Indonesia, Kolonel Anang Sjamsudin,
menantang komandan pasukan NLFAS, Daud Husin (tokoh yang lebih dikenal Daud
Paneuek) untuk duel senjata. Tantangan itu disampaikan melalui selebaran.
Daud Peneuek tak mau melayani. Bahkan ia menyarankan agar Anang kembali ke
daerahnya.
        Pemerintah terus melakukan perlawanan terhadap NLFAS. Foto-foto pemimpin
gerakan itu -- Hasan Tiro, Dr Muchtar Hasbi, Daud Paneuek, Ir Asnawi, Ilyas
Leube, Dr Zaini Abdullah, Dr Husaini Hasan, Amir Ishak, dan Dr Zubir Mahmud
-- disebarkan ke penjuru Aceh. Masyarakat diminta menangkap hidup atau mati
kesembilan tokoh itu. Tanggal 4 September 1977 merupakan hari ulang tahun
ke-47 Hasan Tiro. Ia tak pernah berpikir bakal merayakannya dalam belantara
di Kamp Alue Puasa. Hasan Tiro memikirkan tentang kejadian setahun silam
ketika ia memulai perjalanan pulang ke Aceh dengan meninggalkan anak dan
istrinya di tengah kemegahan Kota New York. "Dapatkah saya katakan bahwa ini
setahun dari kemajuan, atau frustrasi, atau kegagalan? Hanya sejarah yang
dapat menjawabnya nanti," kata Hasan Tiro pada dirinya sendiri.
        Pada 10 September 1977, diadakan sidang kabinet. Mereka memutuskan untuk
mendirikan "Universitas Aceh" di pegunungan, tepatnya Gunung Alimon (Teupin
Raya). Tujuannya melatih kader-kader masa depan. Diputuskan pula rektor
pertama "Universitas Aceh" adalah Hasan Tiro. Ada beberapa fakultas yang
dibuka. Di antaranya, Fakultas Kedokteran, Administrasi Masyarakat, Hukum,
Hubungan Internasional, dan Akademi Militer. Kuliah pertama diselenggarakan
pada 20 September 1977 yang diikuti sekitar 50 "mahasiswa". Mereka adalah 10
persen dokter, 10 persen insinyur, 15 persen ahli hukum, 40 persen guru, 20
persen lulusan SMA, dan 5 persen dari kalangan nelayan dan pendaki gunung.
Mereka inilah yang akan menjadi kader NLFAS di masa mendatang. Kampus ini
sangat terjaga. Hasan Tiro mengorganisir kuliah dalam tiga bagian: Hubungan
Internasional, Politik, Perbandingan Pemerintahan, Sistem Ekonomi, dan
Strategi Pembebasan Nasional. Hubungan internasional dibagi lagi dalam tiga
bagian: hukum internasional, organisasi internasional (yang mencakup PBB dan
bagian-bagiannya seperti Mahkamah Internasional, UNHCR, dan lain- lain), dan
sejarah diplomatik. Politik mencakup soal pemikiran barat dan Islam.
        Masalah perbandingan pemerintahan diajarkan tentang AS, Rusia, dan beberapa
negara lain termasuk juga pemerintahan Aceh yang lebih dikenal "Kode
Iskandar Muda". Hal itu untuk membuat mahasiswa mengerti akan bentuk-bentuk
pemerintahan di dunia. Sistem ekonomi yang dipelajari adalah kapitalis,
sosialis, dan Islam. Namun, untuk "negara Aceh" lebih difokuskan kepada
ekonomi Islam. Mahasiswa harus mampu membedakan satu teori ekonomi dengan
yang lain. Itulah sebabnya diajarkan berbagai bentuk sistem ekonomi.
        Sedangkan strategi pembebasan nasional adalah berusaha mencarikan analisis
untuk mendapatkan dukungan dari Hukum Internasional, Organisasi-organisasi
Internasional. Karena tak memiliki buku-buku yang cukup di "Kampus Gunung
Alimon", Hasan Tiro berusaha menguatkan memorinya tentang ilmu yang pernah
ia pelajari di AS. Kuliah berlangsung setiap hari mulai pukul 8:00 hingga
12:00. Antara pukul 13:00 hingga 17:00. Mahasiswa kemudian membuat
rangkuman. Pada malam hari, diadakan acara tanya-jawab untuk mendiskusikan
bahan kuliah yang diberikan dan membahas tentang tugas-tugas.
        Proses belajar mengajar bisa berlangsung selama tiga pekan tanpa ada
gangguan dari pihak manapun. Setelah berakhir, diadakan seminar. Saat wisuda
diadakan pesta dengan makanan nasi ketan dan durian. Lalu, setiap mahasiswa
mendapat sertifikat yang diserahkan Hasan Tiro sebab ia adalah rektor. Tentu
saja ijazah yang diberikan kepada para lulusan tidak sama seperti yang
diterima Hasan Tiro dari universitas di AS. (Bersambung)


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 17 Mar 1999 jam 21:23:57 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke