----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


ISTIQLAL (17/3/99)# DOWNER: ANALOGI KALEDONIA BARU - TIMOR TIMUR

Oleh: Helen M Hill*)

        Seruan Menteri Luar Negeri Alexander Downer akan Persetujuan Matignon
antara Kanak Indepentandistes dengan pro-French Caldoches di Kaledonia Baru
sebagai model yang baik untuk penentuan nasib sendiri Timor-Leste patut
diprihatinkan.
        Dalam beberapa laporan ia dikutip mengatakan "Pendekatan kita untuk Timor
Timur, menurut saya, agak karib dengan cara pendekatan Matignon yang
dilakukan di Kaledonia Baru," katanya, menunjuk pakta yang dilakukan di
wilayah Pasifik Selatan itu dalam usahanya untuk memerdekakan diri dari
Perancis tapi hanya sesudah 15 tahun pemerintahan sendiri.
        "Pertama-tama haruslah memberikan suatu paket otonomi," kata Tuan Downer
dalam suatu konferensi pers.
        "Rakyat Timor Timur mempunyai kesempatan untuk melihat sejauh mana
keikhlasan otonomi sebenarnya...dan pada akhirnya berikanlah mereka,
beberapa tahun sesudahnya, kesempatan untuk menilai apakah mereka ingin
melanjutkan perjanjian itu."
        Beberapa butir-butir perlu dicatat disini:
        Pertama-tama Persetujuan Matignon tidak pernah "berjalan" sebagaimana ia
kutip, atau menempatkan Kaledonia Baru di "jalan menuju kemerdekaan".
Sebaliknya persetujuan itu secara langsung bergantung pada meninggalnya Jean
Marie Tjibaou ("Xanana Gusm�o-nya Kanaky), yang juga memberi kontribusi bagi
munculnya faksionalisme yang besar antara Independantistes, dengan adanya
banyak pemimpin dari partai pro-kemerdekaan.
        Suatu kesepakatan besar dari kekuatan dan dinamisme telah keluar dari
gerakan kemerdekaan yang telah dicapai Perancis, a) Menghamburkan duit dalam
jumlah yang besar untuk "membeli" para pemimpin tertentu dan membuat mereka
kuatir bahwa mereka tidak akan mampu mempertahankan gaya hidup mereka
sesudah kemerdekaan. b) Memberikan tanggung jawab yang besar kepada
partai-partai pro-kemerdekaan atas propinsi-propinsi yang mereka kuasai
dengan suatu sistim yang sangat kompleks dibawah status otonomi, tapi
membagi kekuasaan antara level-level pemerintahan yang berbeda. Dengan
demikian, mereka dapat dipermainkan satu sama lain yang akhirnya semua yang
signifikan diputuskan di Paris (termasuk pendidikan, penyiaran dan kebijakan
mengenai bahasa, dan lain-lain)Kanak disubsidi secara besar-besaran, tapi
termaginalisasi dan, dalam perbandingan dengan negara-negara Kepulauan
Pasifik lain "folklorized" (dihikayatkan) dan Kebuadayaan Perancislah yang
medapat tempat.
        Meski ada dukungan simbolik yang besar bagi "L'Independence Kanak" di
seluruh region, dan FLNKS (partai-partai utama pro-kemerdekaan) dapat
mewakili Kaledonia Baru dalam festival-festival dan pertemuan-pertemuan
internasional, akhirnya semua kelihatan tergantung  pada kepututsan yang
dibuat di Paris.
        Tampak jelas mengapa Alexander Downer begitu tertarik pada model untuk
Timor Timur karena ia ingin sekali melihat orang Timor-Timur selama periode
Otonomi bisa dibujuk oleh hal-hal ini demi mengundurkan referendum
sebagaimana dilakukan orang-orang Kanak tahun lalu.
        Sebenarnya mereka mengundurkan referendum karena mereka kuatir
kehilangannya karena tugas-tugas yang perlu belum dilakukan antara Caldoches
dengan masyarakat imigran lainnya untuk memperkuat suara. Adalah Jean Marie
Tjibaou sendiri, pemimpin FLNKS, yang mengusulkan 10 tahun periode transisi
untuk menyiapkan orang-orang Kanan dengan pendidikan dll. dan untuk
mempertahankan tanggungjawab Perancis dalam membangun infrastruktur. Dalam
periode itu ia justru dibunuh, bukan untuk mengilhami rakyat untuk bersatu
dalam perjuangan mereka. Bagi saya periode transisi ini tidak pernah
menguntungkan orang-orang Kanak tapi memberi peluang bagi Pemerintah
Perancis untuk menyebarkan lebih banyak benih-benih kebingungan dalam
wilayah itu tentang kemerdekaan penuh (mereka juga memperkenalkan konsep
"kemerdekaan dalam kebersamaan/independence in association").
        Kaum perlawanan Timor Timur perlu mempelajari kasus ini secara rinci dan
menghindar dari perangkap-perangkapnya. Media juga perlu mempelajarinya dan
yakin bahwa mereka  tidak begitu saja setuju dengan ketelitian Downer bahwa
hal itu merupakan sebuah kesuksesan.***

*Penulis adalah lulusan Monash University, Australia. Tesis untuk mengambil
Master of Art-nya berjudul: FRETILIN: The Origins, Ideologies and Strategies
of a Nationalist Movement in East Timor. Kini tinggal di Melbourne.


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 17 Mar 1999 jam 22:33:49 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke