---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk ISTIQLAL (17/3/99)# DAMPAK REFORMASI POLITIK DI INDONESIA ATAS PERJUANGAN TIMOR TIMUR Oleh: Lance Castle (dosen tamu di Jurusan Hubungan Internasional, Fisipol UGM, Yogyakarta) Sebagai bangsa kecil yang hidup berdampingan dengan bangsa raksasa (sekarang Indonesia adalah ke empat terbesar di dunia dari segi demografis), nasib rakyat Timor Timur ternyata banyak tergantung perkembangan politik di negara tetangga tersebut. Selama hampir lima belas tahun sesudah penyerahan kedaulatan dari Belanda pada 1950, Indonesia tidak mencampuri urusan Timor Portugis, ini mungkin agak mengherankan, mengingat selama periode itu nasionalisme anti-kolonial sangat bergelora di Indonesia. Di dalam panitia persiapan kemerdekaan yang berkumpul di Jakarta sebelum proklamasi Agustus 1945, gagasan memasukkan seluruh pulau Timor di republik yang direncanakan memang diajukan, bersama dengan seluruh pulau Papua, Kalimantan dan semenanjung Malaka. Ambisius benar gagasan Indonesia Raya atau Greater Indonesia ini! Tetapi untung pertimbangan yang lebih matang diterima waktu itu, mengingat perang Pasifik sebentar lagi akan dimenangkan oleh sekutu, yang termasuk di antaranya adalah Inggris dan Australia (penjajah Malaka, Kalimantan Utara dan Papua Nugini). Portugis termasuk netral, tetapi merupakan sekutu tradisional Inggris juga, jadi lebih baik haknya tidak diganggu-gugat. Keputusan ini sangat tepat, karena kesadaran rakyat Indonesia memang sudah mulai berkembang menjadi bangsa, tetapi hanya di dalam batas-batas geografis, institusional dan linguistik Hindia Belanda. "Imagined Community" (Ben Anderson) yang sedang berkembang itu meliputi Malaka dan Kalimantan Utara, apalagi Papua-Niugini dan Timor Timur. Gelombang nasionalisme Indonesia yang dipimpin oleh Soekarno memfokuskan diri pada "pengembalian" Irian Barat ke pangkuan Republik Indonesia, sesuatu yang dipetieskan dalam perjanjian Belanda-Indonesia tahun 1950. Karena itu Timor Timur secara eksplisit tidak menjadi program revolusi anti-kolonial Indonesia. Juga sesudah Irian Barat diserahkan kepada Indonesia di tahun 1963 akibat siasat Kennedy untuk merangkul Soekarno, yang langsung menjadi sasaran "konfirmasi" dari Jakarta adalah rencana Inggris untuk memerdekakan jajahan-jajahanya di Asia Tenggara melalui suatu sistem federal yang disebut Malaysia. Pemerintah Soekarno menggangap Inggris tidak boleh mengatur masa depan warisan kolonialnya seperti ini. Karena "perjuangan" ini lalu menjadi prioritas utama, maka sekali lagi Timor Portugis lolos dari perhatian. Seperti diketahui, tidak lama kemudian, rejim Soekarno jatuh, dan sikap jenderal Soeharto menjadi penentu utama nasib rakyat Timor Timur. Tidak seperti Soekarno, presiden baru ini sangat mengutamakan hubungan baik dengan negara-negara Barat, dan cepat menjalin kembali hubungan diplomatik dan ekonomi dengan PBB, Amerika, Inggris dan lain-lain. Pada hakekatnya, Orde Baru tidak mau mencaplok wilayah tetangga-tetangganya karena alasan "revolusioner". Tetapi lalu menjadi sesuatu yang ironis dan tragis. Timor justru menjadi terlibat dalam kemelut internasional yang disebut perang dingin atau permusuhan global antara komunisme dan lawan-lawanya. Tidak kebetulan bahwa justru berakhirnya perang dingin tersebut yang ditandai dengan runtuhnya Tembok Berlin yang kemudian memungkinkan mimpi buruk rakyat Timor-Leste tidak lama lagi berakhir. Keruntuhan rejim fasis Caetano di Portugal, yang terjadi untuk sebagian karena beratnya konflik di Afrika, melibatkan seluruh imperium Portugis dalam perang dingin. Karena Caetano termasuk kelompok anti-komunis NATO maka banyak lawanya termasuk pro-komunis, atau paling sedikit diduga begitu. Sayang sekali justru pada saat itu gerakan komunis di Asia kelihatan sangat mengancam, dengan perebutan Saigon oleh komunis Vietnam pada bulan April 1975. Negara lain seperti Kamboja, Thailand dan Birma dianggap bakal jatuh dan berjatuhan ibarat domino. Adapun ketika Fretilin yang beretorika kiri mulai berkuasa di Dili, ditakuti Timor Timur bisa menjadi "Kuba baru" di Asia tenggara, yang mengancam tetanggnya sama seperti Kubanya Fidel Castro menjadi masalah untuk Amerika, sebagai basis musuh ideologis yang sangat dekat dengan wilayahnya. Berbeda dengan Angola dan Mozambique, sebelum "revolusi bunga" di Portugal, belum ada gerakan anti-kolonial yang berarti di Timor. Tetapi sayang sekali paham Marxis yang sangat ditakuti di Jakarta, Amerika dan Australia mengalahkan UDT yang bisa saja mencapai suatu akomodasi yang baik dengan Indonesia atas dasar kemerdekaan atau ikatan rela dengan Portugal (bandingkan Puerto Rico dan AS). Bahwa suatu penyelesaian rasional yang menjamin kepentinagan Indonesia, dalam hal Timor Timur tidak menjadi basis militer untuk adikuasa yang bisa mengancam negara tetangga tidak dicapai, adalah akibat kesalahan dan kelalaian banyak pihak, di Indonesia, Amerika, Portugal dan di Timor-Leste sendiri. Alhasil, tentara Indonesia masuk secara sangat kejam dengan "izin" Amerika dan Australia, walaupun sangat bertentangan dengan hukum internasional. Masalah hakekat nasionalisme sebagai kemauan hidup bernegara bersama, tidak dianggap soal oleh kebanyakan pengamat di Indonesia, Amerika dan Australia. Bukankah orang Timor Timur hampir sama ras dan etnografisnya dengan orang Timor Barat, sehingga akan cepat terjadi assimilasi? Ini suatu kesalahan besar, ternyata sebagian terbesar generasi yang sekolah sesudah "integrasi" dengan Indonesia justru tidak merasakan dirinya sebagai bangsa Indonesia daripada orang tua mereka. Namun sekali lagi nasib bangsa kecil ini ditentukan oleh Deus ex Machina di luar kekuasaanya. Ini karena berakhirnya perang dingin, kemudian lengsernya Soeharto di Indonesia. Pertama Habibie menjanjikan otonomi khusus untuk Timor Timur, sesuatu yang selalu ditolak oleh Soeharto. Lalu, dengan agak membingungkan, ia menjanjikan kemerdekaan penuh tahun ini juga. Menurut penilaian saya mengenai prospek politik di Indonesia, Amien Rais akan keluar dari pemilu dalam posisi yang paling kuat, sesuatu yang bisa sangat melegakan untuk orang Timor Timur, karena dia sudah lama menyatakan dengan tegas, keyakinannya bahwa hanya penyerahan hak menetukan nasib sendiri kepada Timor Timur bisa memulihkan reputasi internasional Indonesia yang cacat selama ini. Yang menjadi tanda tanya sekarang adalah sikap Megawati dengan PDI-nya yang tidak mau melepaskan sebagian wilayah yang dianggap bagian dari Indonesia. Karena dalam polling Mega tampak lebih populer daripada Amien, hal ini membuat banyak orang Timor gelisah. Tetapi menurut saya prospeknya masih cerah sekali, karena polling-polling tersebut menanyakan orang kota yang memiliki telepon. Empat puluh satu persen responden di satu polling beragama selain Islam. Karena ini, dan alasan lain, saya tetap yakin pemerintah baru di bawah pimpinan Amien Rais akan memerdekakan Timor-Leste tahun ini juga. Jadi sesudah banyak trauma dan penderitaan, bangsa kecil ini bisa mencapai aspirasinya. Mudah-mudahan ia bisa menyelesaikan masalah internnya dengan baik.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 17 Mar 1999 jam 22:47:19 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
