----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Publico, 27 Pebruari 1999

Joao Carrascalao Menuduh: Sampaio Bertemu Liurai Palsu

Jorge Sampaio kemarin menerima 16 liurai yang mewakili golongan
aristokrat (badut?) Timtim. Tuduhan tsb dilontarkan Joao
Carrascalao, tokoh UDT yang melarang anggotanya berpatisipasi
dalam kunjungan.

Ke-16 tokoh Timtim yang diterima Presiden di Istana Belem bukanlah
Liurai (raja atau kepala suku) yang asli. Joao Carrascalao
mengganggap bahwa tidak seorang dari liurai yang berada di Lisbon
sejar hari Minggu dan diterima di Dewan, oleh Menlu dan presiden
tersebut benar-benar liurai. Menurut beberapa sumber yang
dihubungi Publico, banyak di antara mereka meski memang merupakan
sanak saudara namun bukan keturunan langsung aristokrat Timtim.

"Saya pikir senat liurai tsb benar-benar hanya sebuah lelucon dan
saya ikut menyesal bahwa pejabat Portugis berperan serta dalam
lelucon tersebut dan Presiden telah menerima mereka," demikia Joao
kepada Publico. Maksud kunjungan tsb adalah mewujudkan sistem bi-
chamber, senat dan dewan perwakilan rakyat, seperti yang terdapat
di Malaysia. Menurut Joao, tokoh Timtim yang akan berada di Lisbon
sampai besok tsb sama sekali tidak berkaitan dengan konsep
tradisional liurai. Liurai adalah pemilik tanah, seseorang yang
berwenang atas tanah dan rakyatnya, seperti kepala suku. Pemahaman
konsep liurai mengalami pengaburan makna. Pada saat Portugis
datang ke Timtim, terdapat dua kerajaan yaitu Behali dan Semiao.
Namun sekarang ini, menurut studi yang dikutip oleh Joao  dari
"East Timor, Little Monographic" diterbitkan tahun 1968 oleh
Ultramar Ministry dan studi antropologi oleh Helio Felgas tahun
1968 serta Barradas Oliveira tahun 1952 - jumlah kerajaan Timtim
adalah 35. Masing-masing kerjaan terbagi dalam sucos (kelompok
desa) yang semuanya berjumlah 402. Liurai berwenang atas kerajaan
dan sucos. Menurut Joao, penguasa kolonial menghapuskan jabatan
kepala sucos dan digantikan dengan pejabat pemerintah Portugal.
Kepala sucos berkedudukan seperti baron di Portugal.

Dengan demikian, mengingat tidak diketahuinya jumlah aktual liurai
dan sucos, Joao membantah pernyataan penyelenggara kunjungan,
Manuel Tilman yang mengatakan bahwa Timtim terdapat 472 liurai.
Tokoh yang mengakui dirinya liurai Fatubessi (wilayah di bagian
tengah Timtim), Manuel Tilman, seorang pengacara adalah tokoh
terkemuka Timtim di Makao yang bertanggungjawab ats pembentukan
senart liurai di Timtim (terbentuk 13 Februari lalu) dan berhasil
merangkul lebih dari 31 liurai.

Joao juga membantah konsep liuraai yang disampaikan Manuel Tilman
setelah diterima Presiden bahwa kepala Suco adalah juga liurai
yang berarti mereka sama kedudukannya. Para liurai tersebut juga
menjelaskan bahwa mereka dianggap tokoh yang disegani masyarakat
meski tidak memiliki fungsi, demikian menurut Aleixo Corte-Real,
58 tahun yang turut berperan dalam perlawanan terhadap invasi
Jepang di PD II. Peran kepala suco sendiri dibantah Joao karena
bahkan liurai sendiri yang dinominasikan semasa kolonial hanya
berfungsi sebagai perantara penguasa administrasi dengan rakyat,
memang jaman dulu rakyat masih mematuhi perkataan liurai.

Carrascalao yang melarang partisipasi seluruh anggota UDT dalam
inisiatif Tilman tsb mengganggap bahwa senat liurai tsb tidak
memilikik legitimasi, kewenangan politik maupun mewakili
kepentingan rakyat Timtim. Namun demikian, dalam rombongan
terdapat dua anggota UDT bahkan mantan ketua partai yaitu Aleixo
Ximenes dan Aleixo Guterres yang beberapa waktu lalu menjabat
sebagai sekretaris-sekretaris UDT di Dili namun kemudian
diberhentikan karena kesediaan mereka mengikuti kunjungan ke
Lisbon. Dalam hal ini, menurut Joao, mereka dalam kapasitas
pribadi.

Di Lisbon, para liurai tsb menyatakan bahwa pendukung integrasi
masih dapat tinggal setelah kemerdekaan, dan mereka menyampaikan
petisi kepada Jaime Gama dan Jorge Sampaio untuk menciptakan
pasukan perdamaian di Timtim yang diikuti dengan perlucutan
senjata kaum sipil serta pengiriman petugas kesehatan dari
organisasi internasional untuk menggantikan tenaga kesehatan
Indonesia.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 19 Mar 1999 jam 10:32:14 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke