----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk

> To: [EMAIL PROTECTED]
> Date: Tue, 15 Dec 1998 17:04:48 -0700
> From: "merza gamal" <[EMAIL PROTECTED]>

KENANGAN BATIN SEORANG ANAK BANGSA

Saya seorang pribumi muslim namun lebih dari tiga perempat pendidkan saya
dilalui di sekolah Katolik yang banyak etnis Cina di dalamnya.

Kenangan saya selama sekolah dari Tk sampai tamat Universitas Katolik
Parahyangan dengan teman-teman saya yang berbeda agama dan etnis selalu indah.

Saat TK saya lalui di Bengkalis, Riau. Didaerah ini etnis Cina sangat
dominan (waktu itu sekitar tahun 1971), mereka bukan hanya para pedagang
tetapi juga buruh dan tukang becak, bahkan pembantu di rumah saya adalah
seorang di antara mereka. Teman-teman saya bermain kebanyakan dari etnis Cina.

Setelah tugas Ayah saya sebagai salah seorang pejabat di Kabupaten tersebut
berakhir, kami pun pindah ke Pekanbaru. Kepergian kami dilepas dengan isak
tangis oleh teman-teman saya yang pribumi maupun yang Cina dan yang menangis
paling "seru" adalah pembantu kami, yang Cina tersebut, yang sudah bagai
keluarga kami sendiri.

Di Pekanbaru saya masuk SD yang termasuk dalam Perguruan Katolik yang paling
besar di kota  tersebut yang memiliki sekolah dari TK sampai dengan SMA dan
mempunyai sarana paling lengkap dari perpustakaan, poliklinik bahkan rumah
sakit.

Di sini sebagian besar teman saya tidak seiman dengan saya dan kebanyakan
dari mereka adalah keturunan Cina, tetapi persahabatan kami sangat kental,
kami tidak pernah merasakan perbedaan iman dan etnis menjadi penghalang
pergaulan kami.

Jika Imlek datang saya dan teman-teman pribumi datang ke rumah teman-teman
kami yang merayakannya seperti si Hoat, Liem, Joeliejon, Kim Han dan
lain-lainnya dan apabila Natal saya dan teman pun mendatangi rumah si Dimos,
Edwin, Oktobernat, Benhard dan lainnya, demikian pula apabila Idul Fitri
teman-teman saya datang ke rumah saya dan rumah teman kami yang muslim
seperti Chery Wibisono, Andri, Rizon dan lainnya. Dan kegiatan ibadah di
sekolah tidak pernah terhalang, apabila ada mata pelajaran Agama Katolik
kami yang bukan Katolik keluar dari kelas dan masuk ke kelas Budi Pekerti
dan pada hari Jumat sekolah pulang lebih cepat dan kami yang Muslim dapat
melaksanakan sholat Jumat di Mesjid. Apabila ada hari besar Nasrani, sekolah
mengadakan misa di Gereja, dan kami yang Non menunggu di halaman gereja atau
dalam kelas dan kemudian sekolah mengadakan acara gembira untuk semua murid.
Hal ini berlanjut sampai saya SMP dan kemudian meninggalkan Pekanbaru pindah
ke Bandung.

Saat SMA di Bandung saya masuk ke SMA Negeri dan di sini teman saya lebih
banyak yang seiman dan sama-sama pribumi, tetapi bukan tidak ada teman-teman
yang berlainan iman dan etnis. Saya punya sahabat seperti masih di Sekolah
Katolik dulu yakni Siang Hwat dan Aloysius Rudy yang anak Jawa Katolik. Di
SMA ini kami juga tidak pernah mengejek teman karena perbedaan iman dan
etnis. Demikian pula jika pelajaran Agama Islam, teman-teman yang Non keluar
belajar di kelas Agama lain.

Pada saat mahasiswa saya kuliah di Universitas Katolik Parahyangan,
sahabat-sahabat saya terdiri dari bermacam-macam iman dan suku serta etnis.
Kami begitu akrabnya, tidak ada perasaan perbedaan tersebut. Demikian pula
dalam mengambil mata kuliah, kami yang bukan Katolik tidak mengikuti mata
kuliah gama Katolik, tetapi mata kuliah Fenomenologi Agama.

Jadi dari sejak saya lahir hingga menjadi Sarjana, saya tidak merasakan
bahwa keimanan dan etnis tidak membuat saya merasa berbeda dari teman-teman
yang lain.
Perbedaan itu mulai saya rasakan setelah saya memperoleh kesarjanaan saya,
yakni ketika saya mulai bekerja di sebuah perusahaan konglomerat Cina yang
saya peroleh dari lowongan yang tersedia untuk alumni Unpar.

Saya mulai merasakan perbedaan itu, saya merasa dibedakan dari teman saya
yang dulu IP-nya lebih rendah dari saya, dan penempatan bagi kami-kami yang
pribumi adalah ditempat yang sulit yakni dimana saya harus menciptakana
konflik dengan bangsa saya sendiri yang harus saya bebaskan tanah yang
mereka diami dari jaman nenek moyang mereka, sedangkan teman saya yang Cina
ditempatkan di tempat yang mengurus semua surat ke birokrasi dan membawa
amplop-amplop berisi uang untuk dibagikan kepada para birokrat tersebut. Dan
gaji (imbalan) yang diterima antara saya dan teman Cina saya bagaikan bumi
dan langit.

Di sini saya sempat shock, ternyata keindahan persahabatan yang saya peroleh
sejak lahir dan perbedaan bukan suatu pertentangan hilang begitu saja.
Padahal saya telah memilih untuk bekerja diantara beberapa tawaran
perusahaan konglomerat lainnya, dengan pertimbangan bahwa konglomerat
tersebut saya nilai paling nasionalis dari ucapan-ucapannya di mass media,
ternyata saya salah.
Dan kemudian saya tidak berlama-lama di perusahan tersebut daan saya keluar
dan masuk ke perusahaan pribumi.

Semua  kenangan masa kecil saya muncul kembali akhir-akhir ini sejak sering
terjadinya bentrokan, pertikaian, penjarahan, perkosaan dan kekerasan
lainnya yang dilandaskan perbedaan etnis dan agama. Dan sering timbul
pertanyaan dalam benak saya apakah kita tidak menganggap perbedaan iman dan
etnis kita sebagai pertentangan karena pada saat itu kita masih kecil dan
belum mempunyai kepentingan tertentu, dan itu tidak bisa berlaku lagi
apabila kita telah mempunyai kepentingan, seperti saat saya kerja pertama
kali di perusahaan konglomerat Cina tersebut, sehingga kita mudah diadu
domba dengan mengemukakan isu perbedaan agama dan etnis, sedangkan pada saat
saya kecil dahulu tidak pernah kita berkelahi dengan teman karena dia Cina
atau tidak seagama dengan saya.

Jadi faktor apa yang salah atau siapa yang salah sehingga perbedaan iman dan
etnis  bisa memicu pertentangan.

Saya sering merenung  dan menangis saat-saat  mengingat masa kecil yang
indah dan mencari jawaban  tentang permasalahan yang timbul. tetapi saya
tidak pernah menemukan jawabannya.

Apakah orang lain tahu jawabannya. Entahlah..........????

Semoga kenangan indah masa kecilku muncul kembali sebagai kenangan manis
bangsaku.

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 16 Dec 1998 jam 10:56:02 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke