----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

KOLOM Perwira Alengka.

Duncan Mc Leod, Culbright, Methos dan Eyang Soeharto.
11 Desember 1998. Jam 02.30 WIBB.

Menarik sekali menyaksikan film The Highlander di SCTV beberapa malam
yang lalu ( salam  buat Ira.K dan Arief ). Ada Mc Leod sang immortal
yang membela kejujuran, kebenaran, dan keadilan. Ada immortal lain,
Culbright yang sebenarnya juga baik, tetapi sangat militeris, kaku, dan
menjalankan SOPnya seperti mesin pembunuh. Dan hadirnya sang Methos, si
Empu Supo, immortal tua yang disegani, yang dengan kearifan dan
keluas-dalamannya, membawakan misi damai. Suatu kehidupan tanpa
kekerasan,  melupakan benci dan dendam, yang dengan kebaikan, mencoba
mendamaikan mereka. ( Netters di luar negeri pasti tidak nonton ).

Film itu memang sangat menarik. Sampai kemudian panggilan dinas  membuat
Perwira Alengka tidak dapat menonton bagian akhir dari film ini.
Begitupun, terlepas dari bagaimana endingnya, Perwira Alengka mohon
kepada stasiun televisi swasta lain agar memutar ulang film ini.
Maknanya menarik untuk di renungkan.

Di diri Perwira Alengka memang ada dua kepribadian ini. Duncan Mc Leod
yang humanistis dan Culbrihgt yang loyalis/militeris. Pada saat melihat
ketidak benaran dan penindasan di Neo Alengka ini, nurani Perwira
Alengka adalah seorang Duncan Mc Leod. Tetapi dalam menjalankan tugas
dan tanggung jawabnya, Perwira Alengka adalah Culbright, sang militer
profesional. Untunglah ditengah-tengah dua kepribadian ini ada Empu
Supo, yang selalu menasehati Perwira Alengka dengan harmonisasi, dimana
perannya mirip The Wise Methos, si unsur penyelaras.

Kepribadian temporer ini, bukan anomali permanen sebab semua Generasi
Muda Tentara Diraja Alengka pasti melewati tahapan emosional begini,
sampai dia kemudian menentukan posisi nya. Militeris atau humanis. Fase
ini adalah fase psikologi konvergensi yang klasik. Psikologi konvergensi
yang dianut GM TDA saat ini adalah cendrung berbasis humanis, suatu
konvergensi pyramida dengan lapis-lapis skala prioritas. GM TDA
menempatkan universal human right dan kejujuran moral / intelektual
sebagai basic layer. Second layer adalah kepentingan negara dan bangsa
Neo Alengka. Third layer adalah  kepentingan Neo TDA sebagai organisasi
keamanan dan sosial politik. Yang terakhir dipuncaknya adalah
kepentingan satuan, corps dan angkatan, itupun harus sinergis dengan
tiga kepentingan terdahulu yang lebih mendasar.

Semoga dengan penjelasan ini, para netters tidak bingung dengan posisi
Perwira Alengka. Dengan hologram imajinasi dapat dibayangkan posisi
ganda GM TDA sesuai skala prioritasnya. Jadi jangan bingung jika sewaktu
waktu Perwira Alengka tampil beda dengan frame of thinking yang 180o
berputar dari tulisan sebelumnya. Itu tergantung pada skala prioritas
saat itu. Jadi, secara tegas Perwira Alengka sampaikan bahwa GM TDA
jelas bukan opportunist, bukan mendua, atau multifaces.

Dalam konteks, bila Neo TDA atau Neo Alengka ( Oxfort dictionary : ABRI
Baru dan Indonesia Baru ) melanggar universal human right, tulisan
Perwira Alengka pasti akan mengecam Neo TDA dan Neo Alengka untuk bela
Universal Human Right. ( Perwira Alengka mengutuk kerasan kasus Semanggi
) Begitu pula jika ada unsur yang ingin menghancurkan Neo Alengka,
Perwira Alengka sebagai anggota Neo TDA pasti akan menentangnya. ( baca
 Surat kepada Romo  dan   Honesty, Transparancy and Trust  yang
menghimbau agar jangan membawa bawa world societies dan overseas group
untuk menekan Alengka yang sudah collaps) Dan bila ada yang ingin
membubarkan Neo TDA, maka Perwira Alengka selaku anggota satuan, corps,
dan angkatan pasti akan bersama teman temannya menyelamatkan Neo TDA.

ini posisi Perwira Alengka pada tulisan dua minggu yang lalu saat
Mahapatih Wir mau dicopot dan TDA mau dibubarkan). Hal ini juga dapat
berlaku viceversa, dengan melalui  screening system yang rasional/logic
dan sesuai hati nurani tentunya.

Justifikasi inilah, pada saat mana situasi sudah sedemikian kritisnya,
dimana TDA sudah di obok obok, dan di ulek ulek sampai lumat dan siap
untuk dijadikan Patung Patung Terracotta, dimana Mahapatih Wir diminta
mengundurkan diri lalu ingin dikubur bersama sama sang mantan Raja
karena kasus Semanggi. Maka Perwira Alengka dan GM TDA unsur darat
segera menghentak dengan keras. Kami tidak ingin di kubur dalam makam
raja sebagai patung terracotta. ( Baca tulisan Perwira Alengka beberapa
bulan yang lalu,  Kami Bukan Patung Patung Terracotta ).

Dalam cemasnya melihat situasi Neo TDA dan Neo Alengka saat itu, Perwira
Alengka meluncurkan sebuah tulisan yang jibaku,   Pemikir bukan
Pemimpin  sebuah hatzaai yang menusuk kemana mana  Menyadari segala
konsekwensi logis dari tulisan Perwira Alengka itu, yang membawa nama
beberapa Patih, selaku perwira, Perwira Alengka menyatakan siap salah,
dan pasrah menerima hukuman. Perwira Alengka tidak akan membela diri,
dan selaku prajurit juga tidak akan minta maaf, sebab dalam lingkungan
militer, kami tidak mengenal maaf selain  siap salah . Namun dengan
sejujurnya Perwira Alengka sampaikan bahwa semua tulisan itu Perwira
Alengka lakukan demi eksistensi Neo TDA. Semua tulisan Perwira Alengka
itu bertujuan menyelamatkan eksistensi Neo TDA yang benar benar kritis
saat itu. Harus ada counter issue dan bila perlu amputasi partial, demi
keselamatan harkat dan kehidupan Neo TDA. Karena itu, mohon tulisan
Perwira Alengka itu jangan dibaca lepas tanpa back ground saat itu.
Variabel ruang, waktu,  tempat dan situasi poleksoskam, sangat
mempengaruhi latar belakang pemikirannya.

Kedalam   tulisan tersebut bertujuan agar seluruh pimpinan Neo TDA
melakukan introspeksi/menyesali  atas segala  kesalah-urusan  yang
terjadi di Alengka selama ini. Keluar adalah sebagai deterrent factor.
Jika Perwira Alengka yang GM TDA saja berani memilih mati jibaku ala
Kamikaze itu, yaitu lebih mati sama sama dari pada mati terjepit di
dalam, itu adalah bahasa halus buat para Patih, bahwa sebenarnyalah GM
TDA tidak memiliki dosa  atau tanggung jawab moral apapun terhadap

kesalah-urusan  yang terjadi di Alengka selama ini. Itu urusan para
Patih. Tetapi kata kata pengecut dan buang badan seperti itu, lari dari
tanggung jawab, tidak akan pernah kami ucapkan. Kami GM TDA  (defenisi
operasionalnya adalah para perwira angkatan setelah tahun 80 atau
Perwira dibawah umum 40 tahun ) tidak akan seperti orang lain, yang
begitu mudah main khianat, balik muka, lepas tanggung jawab, cuci
tangan, menghianati mantan Caponya seperti ayam jantan yang berselingkuh
seribu dan ejakulasi praecox di mana mana. GM TDA tidak begitu. Kami
sepenuhnya loyal pada pimpinan. Kami sepenuhnya setia. Kami sepenuhnya
solid dan fakta itu tidak usah diragukan.

Jika kemudian dalam Kamikaze survival game itu ada nama nama yang merasa
dirugikan, Perwira Alengka siap salah  selanjutnya siap dihukum.
Kamikaze telah dilakukan, Neo TDA tidak jadi bubar. Hujadan pun mulai
berhenti, namun Perwira Alengka masih tetap hidup sampai saat ini.
Perwira Alengka heran, kok belum di tangkap. Karena itu, justru Perwira
Alengka merasa felling guilty. Perwira Alengka bukan type orang yang
menimba popularitas dari penderitaan orang lain, terutama dari para
Nyai/Roro yang kehidupan keluarganya mungkin terusik karena tulisan itu.
Untuk itu Perwira Alengka minta maaf bagi para Nyai / Roro. ( Not for
the Patih ).

Sedangkan untuk Para Patih, sekali lagi Perwira Alengka siap salah dan
siap di hukum. Hanya sebelum dihukum, ada satu hal yang Perwira Alengka
ingin ketahui; yaitu kala mana GM TDA berusaha membela Neo TDA dan Neo
Alengka sampai titik darah yang penghabisan, adakah diantara para Patih
dan para Menteri yang siap melakukan harakiri sebagai tanggung jawab
moral terhadap  kesalah-urusan  yang telah kita lakukan selama ini. Jika
ada  dan cukup banyak .. , terima kasih!. Berarti Perwira Alengka tidak
sendiri menghadap NYA.

Sekarang Neo TDA tidak jadi bubar, rembuk nasional sudah ditolak dan
Mahapatih Wir sudah menyatakan tidak akan mengambil kekuasaan. Dialog
Nasional masih coba di ajukan juga rakyat terlatih. Jika semua ditolak,
berarti pola mainnya menjurus ke Nigeria 93 - ngaibaba. Berarti Neo TDA
akan masuk barak, belajar, berlatih dan bertani. Kami tidak akan ikut
campur urusan di luar atau kalau ikutpun, paling sekedarnya. Sebab
masalah instsabilitas keamanan yang bersumber dari dalam negeri itu
urusan adik kami si Plice. Jika ada musuh dari luar, baru kami turun,
itu sesuai tuntutan semua pengamat politik. Sehingga, apa yang terjadi
di luar  terjadilah. Biarlah kami berdiri diatas semua golongan. Neo TDA
tidak akan mengambil inisiatif lagi atas rembuk nasional, dialog
nasional atau rakyat terlatih yang dampaknya memang bisa lebih parah
dari insiden Semanggi.

Untuk pelurusan, jika kemudian ada yang menduga Perwira Alengka adalah
The Last Mohicans dari Benny Moerdani atau tangan kanan Mahapatih Wir,
Perwira Alengka geli sendiri. Korban iklan, baca Tekad agar tidak nekad,
malah jadi sesad. Analisa premature ini akan semakin menggelikan lagi
bila nanti Perwira Alengka mencalonkan Yuwono Sudarsono sebagai The
Fourth President.  Atau Faisal Basri jadi mentri perekonomian. Atau
Patih Kivlan Zein mohon di rehabilitasi mengingat masa masa
pengabdiannya sebagai komandan batalyon yang sangat berkesan. Aneh bukan
?. Siapa Perwira Alengka. Apa latar belakang kelompoknya. Apa visi dan
misi politiknya. Apa motivasinya. Yang akan menimbulkan banyak analisis
lainnya. Sementara terus terang di GM TDA kami tidak bicara soal
kelompok atau basic pemikiran lagi. Tetapi meritokrasi.

Juga masih dalam pelurusan, bila Perwira Alengka kemarin dalam tulisan
tidak mencantumkan menggandeng PPP, PAN atau Golkar adalah, bagaimana
kami bisa menggandeng PPP misalnya kalau platform utama mereka masih
tetap membasmi Neo TDA. Sementara di Neo TDA itu 95% anggotanya adalah
Muslim dengan budaya pemisahan baik-buruk, benar-salah, anti
rekayasa-pro rekayasa yang jelas. Sehingga jangan kaburkan masalah baik
buruk, benar salah dengan Islam dan Non Islam. Rusak kita. Yang benar
adalah  bahwa yang menang  akhirnya tetap adalah seperti sejarah
dimana-mana yaitu kejujuran, kebenaran dan keadilan. Jadi bukan soal
Islam atau Non Islam, atau TDA Hijau-TDA Merah Putih. Wong kami ini
semua seragamnya Hijau, benderanya Merah Putih  dan 95% beragama Islam.

Masalah ekonomi kerakyatan, Perwira Alengka sendiri tidak kenal Adi
Sasono atau yang lainnya. Tidak ada personifikasi antara tugas dengan
individu. Perwira Alengka hanya memohon agar Mr AS mengurangi
pembicaraan yang selalu membangkit-bangkitkan SARA, atau perbedaan kaya
miskin dll. Terlalu kejam jika kami menyebut pola ini sama dengan pola
yang dituduhkan pada Forkot dahulu. Kan Neo TDA jadi tidak enak, polanya
mainnya sosialis/pseudo marxisme tetapi pemainnya ultra kanan. Dan
sangat berat bagi kami untuk membersihkan image di luar negeri tentang
peran TDA, berkaitan dengan insiden pra 21 Mei ( pembakaran dan
penjarahan di kota-kota Situbondo, Tasik Malaya, Pekalongan, Ujung
Pandang dll ). Insiden 13- 14 Mei itu sendiri. Dan bahkan insiden
insiden terakhir sesudah era Neo TDA saat ini.

Jika strategi merebut 70% kue tersebut adalah target, monggo. Bisa
diatur dengan kalem, jangan gebyah uyah untuk dapat kue lalu main bakar
rumah, bakar Alengka, sehingga semua investor pada lari, industri mati,
perekonomian stagnasi, PHK meningkat yang akhirnya hanya meningkatkan
sosial unrest. Buntutnya Neo TDA yang disalahkan karena tidak mampu
menjaga keamanan. Kan kami yang repot.

Karena itu mohon kurangi komentar soal kaya miskin, konglomerat bandit
vs ekonomi kecil, kartel vs ini itu dll. Anjing menggonggong kafilah
tetap berlalu. Namun  kalau kafilahnya pun ikut menggonggong, apa
bedabnya dengan anjing, lalu ramailah pro-kontra, dan tak ada lagi
merchandizer yang mau singgah di Alengka ini. Matilah kita semua.
Mungkin baik bila menurut anda bahwa ekonomi set back 20 tahun tak apa,
asal ekonomi dikuasai oleh bangsa kita. Teori itu memang baik. Tapi
positive thinkinglah, out-ward lookin dan jangan main zerosum game lah.
Pembangunan 32 tahun jangan disirnakan begitu saja. Pasar bebas sudah
dekat. Belum jelas mana yang lebih baik, memanfaatkan wong kuning yang
bisa diatur atur dan diutak atik dengan hukum yang jelas, atau  wong
bule yang justru akan menguasai Alengka sama dengan Neo VOC nya.

Perwira Alengka berpendidikan western sehingga teman teman Athan Athan
dari western jangan salah duga).

Bagi Neo TDA, pilihan yang manapun tidak ada masalah, hanya mohon dikaji
ulanglah, jangan sampai try and error.  Teori tricle down effect boleh
salah. Tetapi jangan bawa bawa SARA lah. Kasihan itu Marzuki Usman
pusing dia. Apalagi Marzuki Darusman kalau pelanggaran HAM semakin
banyak. Kalau anda mau main politik sekaligus hitung bisnis, jumpailah
Patih Djadja Suparman. Perwira Alengka beri rekomendasi pada anda.
Beliou jagonya politik dan bisnis dari Neo TDA. Bila anda bisa kompromi
dengannya, dan mau mendengarkan sarannya, pasti tidak akan merugikan
rakyat banyak.

Sekarang soal badut. Ketika badut dan bunglon bunglon politik saat ini
semakin banyak, rasanya masih jauh lebih baik Mahapatih Wir, yang
berjanji akan  menjaga keselamatan keluarga mantan Capo, dan sampai saat
ini masih tetap dijaga, dari pada badut badut hina yang terus berupaya
membodohi masyarakat dengan semua sandiwaranya. Jangan anggap rakyat dan
mahasiswa itu bodoh. Mereka mempunyai catatan lengkap. Mulai dari yang
hari ini bilang tidak bersedia dicalonkan lagi, lalu bulan berikutnya
bilang tidak pernah mengucapkannya, sampai seorang pahlawan yang hari
ini minta maaf tetapi besoknya ditolak oleh bossnya. Dan anehnya minggu
berikutnya si Boss ini malah menyatakan bahwa tindakan golongan mereka
dimasa dahulu adalah racun bagi eksistensi masa depan golongannya.
Kerajaan Alengka memang Negara Ketoprak. Mungkin ini yang dimaksud
Pandita dengan sebutan negara Gohkarna itu. Kalau Perwira Alengka
konsekwen untuk tetap meyebutnya Neo Alengka.

Pada kondisi terakhir, bila kemudian Mahapatih Wir sedikit menjauh dari
Gus Dur, dan memasang muka ketat saat pertemuan keduanya, itu sekedar
memberi kesempatan bagi Beringin, PAN dan PPP bahwa Mahapatih Wir masih
membuka pintu untuk bersahabat. Dan untuk itu mbok yaaa upayakanlah agar
PPP dan PAN memperlunak platform mereka, dan Golkar jangan hianati kami
lagi. Kalau paltform nya tetap mau membabat kami , tetap main khianat,
main kacang lupa kulit ., yah .. gimana lagi. Itu rejekinya Gus Dur,
Mbak Mega dan kelompok lainnyalah. Jangan salahkan Mahapatih Wir yang
tidak ingin bergandengan dengan kalian. Habis PPP ancamannya serem
banget : to kill or to be killed. Kan sangat merepotkan kami. OHIDA

orang hidup dengan Aids ) saja masih diberi kesempatan hidup dan gaul.
Apalagi Neo TDA.

Untuk itu main tranparan sajalah. Jika mau main kata kata, bisa saja
kami katakan bahwa kami sangat mendukung Mr. Amien Rais dengan konsep
negara federalnya, one step to disintergration. Dalam dukungan tersebut,
tak lupa GM TDA  mengucapkan salam sukacita untuk Irian Jaya, Maluku
Selatan, Bali, NTT, Timor Timur, Kalimanatan Barat, Sulawesi Utara,
Aceh, Riaw atau mana saja yang ingin kesana dll. Selamat selangkah lagi
untuk merdeka. Berterima kasihlah pada Amin Rais.

Dan jangan lupa pesan sponsor dari Perwira Alengka, dimana GM TDA punya
stok sumber daya manusia untuk mengisi jabatan keamanan. Dijamin 100%
bebas Dwi Fungsi, tidak resek, tidak bermuka dua, dll  asal gaji layak
dan fasilitas cukup. Jangan seperti saat ini, dana Hankam proporsinya
terkecil di dunia dari APBN yang juga sangat kecil. Soal loyalitas
jangan di khawatirkan. Soal gaji, bisa diatur. Kami bukan legiun asing
Perancis atau Gurha merceneries. Kami tidak meterialistis. Dan untuk MR
AR sendiri Perwira Alengka mengucapkan selamat jadi Presiden di
Wonogiri atau Gunung Kidul. ( Patih Soewarno mohon bicara hati ke
hatilah pada Mr AR ini agar jangan memusuhi  Neo TDA, untuk apa ?).

Begitu juga untuk Beringin. Ketika angin masih kuat dan iklim masih
baik, kalian mendukung kami. Tetapi setelah Semanggi, tatkala kami
dihujad, tatkala kami dinistakan, tatkala kami diambang kehancuran,
kalian meninggalkan kami dan menarik dukung bagi kami. Yahh, tidak
apalah. Kehidupan memang keras. Kami siap menerimanya. Hanya ingatlah
hukum karma. Dan kini, kami siap menerima apa adanya. Itulah gunanya
Perwira Alengka belajar management of changes. Sehingga, apapun yang
kalian lakukan. Kami akan berubah mengikuti keadaan. Panduan kami adalah
apa yang diinginkan masyarakat luas. Keinginan mereka  akan kami ikuti.
Kami ikuti tanpa syarat, tanpa reserve. Konsepnyakan sudah pernah
Perwira Alengka tawarkan pada para netters dengan segala untung ruginya.

Semua konsep, model, variant, paradigma baru akan masa depan Neo Alengka
dan Neo TDA sudah pernah Perwira Alengka sampaikan di puluhan tulisan
terdahulu. Jadi junta militer boleh. Masuk barak  pola Nigeria 93,
juga boleh. Mau banting lagi dan pecahkan mozaik ini sehingga
disintergrasi pun terjadi, monggo. ( baca "Mozaik mozaik berserakan")
Atau mau jadi negara Islam pun baik. Mau jadi apa saja pokoknya Neo TDA
dan GM TDA ( lihat defenisi operasional GM TDA ) sekarang oke punya.

Sehingga jelas bahwa kami adalah Neo TDA yang selalu Tut Wuri Handayani.
Apapun yang rakyat putuskan, akan kami ikuti. Kami juga bukan pimpinan
yang baik, apalagi cuma dipilih dari sekeranjang mangga. Kami sekarang
nggak berani macem macem. Kami cuma orang bodoh yang yang boleh dicaci
maki, dihujad, dilempari, diludahi, ditabrak, diculik atau diapakan
saja. Menyadari keterbatasan kami itulah, maka melalui tulisan Perwira
Alengka dua minggu yang lalu Perwira Alengka meminta kepada para dosen
Pasca Sarjana Perguruan Tinggi Negeri se Alengka agar membantu kami
untuk bisa mengikuti program kajian Pasca Sarjana (  Post Graduate ).
Eh... tau tau kok Athan Inggris itu bisa ngerti dan langsung nyambung
gitu lho. Mereka langsung menghubungi dan menawarkan kesempatan melalui
Patih Agum untuk membantu menyekolahkan GM TDA di London atau daerah
lain di UK.

Jika dalam negosiasi dengan Athan ini nantinya Patih Agum mampu
menyekolahkan 50 orang GM TDA saja pertahun ke luar negeri, Perwira
Alengka akan minta maaf pada Patih Agum dan sekaligus mencabut seluruh
asumsi yang pernah Perwira Alengka tuliskan, bahwa Perwira Alengka
adalah salah.  ( minta maaf adalah suatu hal yang tabu bagi militer )
dan jika sampai terlaksana, maka Perwira Alengka akan menyemir sepatu
Patih Agum selama sebulan di depan alun alun Monas. Ini perjanjian
serius, bukan dagelan gendong di muktamar, sebab ini menyangkut masa
depan strategic GM TDA.

Dan, untuk Gus Dur, Mahapatih Wir minta maaf soal ditolaknya rembuk
nasional, rakyat terlatih dan dialog nasional. Soalnya Maha Patih Wir
masih trauma dengan kasus Semanggi. Beliou sedikit jera untuk menerima
Gus Dur yang Grand Master Politik Peringkat Dunia sementara belioukan
masih peringkat master nasional. Ngamanin SI yang konstitusional saja
sudah sulit, apalagi rembuk nasional yang nggak jelas latar belakangnya.
Yang jelas saja sudah dihujad dan hampir di copot, apalagi yang tidak
jelas. Karena itu Neo TDA tidak mau ambil inisiatif lah. Soal revolusi
sosial yah boleh boleh saja. Mahapatih Wir sudah berjanji tidak akan
ambil alih kekuasaan. Bagus kan ??. Berarti tidak ada rezim militer dan
Neo TDA kini adalah organisasi yang sangat luwes. Kalau ada gosip yang
bilang ini semua kan kong kalikong nya Gus Dur dengan Mahapatih Wir dan
Patih Agum  jangan percayalah. Rakyat tidak sebodoh itu.

Dan selanjutnya sandi operasi Neo TDA juga akan kami ganti menjadi
 Operasi Dara Cantik, Dara Manisku .  Atau    Kiri Kanan Oke . Artinya,
setelah tahapan mengalah dan melemah dalam  Operation Positioning
Humble  tidak diterima, yang kemudian ditunggangi sehingga ada loncatan
energi sesaat di Semanggi, kini Neo TDA mulai dengan operasi putri malu.
Maklumlah kinikan Neo TDA adalah anak gadis semata wayang. Banyak yang
naksir dan ajak kencan lho. Sementara soal revolusi sosial . Wah .
Jangan bikin serem ah. Gus Dur kan memang bisa aja tuhhhh. Tetapi sekali
kali somse nggak apalah lah yaawwww . Pokoknya  ..nggak kuku !

Demikianlah para netters. Setelah lama kami mabok, sekarang gantian
ngoboklah. Neo TDA secara resmi sudah mengatakan keluar dari bursa
pasar. Sekarang terserah mekanisme pasarlah. Yang paling kuat yang akan
menang. Yang kuat massa, yang kuat dana, yang kuat tepu, kuat rekayasa
dll. Dan kami akan mendukung yang terkuat alias yang menang. Safekan ?

kami tidak sehina itu ). Begitulah laporan dari lapangan. Akhir kata
untuk siapa saja yang tersinggung pada tulisan hatzaai Perwira  Alengka
dua minggu yang lalu Perwira Alengka siap salah. Perwira Alengka saat
itu adalah gabungan dari Duncan Mc Leod, yang membela
kejujuran-kebenaran-keadilan, Culbright yang loyalis militeris dan Empu
Supo yang melihat dari semua sisi dan membahasnya secara manusiawi.
Perwira  Alengka tidak tahan melihat TDA diperlakukan begitu.

Setelah main keras kerasan nggak kuku, sekarang main genit genitan.
Semoga kegenitan Neo TDA yang bersedia pacaran dengan siapa saja, jangan
membuat Neo TDA menjadi pelacur murahan, yang akhinya juga akan
merugikan kami GM TDA. Berarti juga menimbulkan kerugian berkepanjangan
bagi masyarakat luas.  Mohon lakukanlah study evaluasi setiap hari. Kita
adalah manusia manusia bermoral. Jika metode ini tidak tepat mohon
segera direvisi kembali.

Untuk Eyang Suharto, Perwira Alengka sarankan agar minta maaflah secara
tulus kepada Rakyat dan Mahasiswa Neo Alengka. Lakukan permintaan  maaf
ini dengan betul betul ikhlas dan rendah hati. Jangan dengan senyum
senyum. Atau pamer ketenangan segala. Apa Eyang tak punya feeling
guilty. Menyebut nama Patih saja kemarin Perwira Alengka sudah feeling
guilty. Apa Eyang nggak begitu ???? Minta maaflah setulus tulusnya dan
setelah itu, sebagai bentuk penyesalan yang paling dalam, menyepilah di
salah satu pesantren dan selanjutnya Eyang cukup menyapu lapangan Monas
satu jam seminggu selama setahun  sebagai penyesalan sosial. Jika itu
yang Eyang lakukan, kami akan mengawal ketat.

Bila Eyang mau minta maaf dan menyesal diri sepenuh hati, rakyat dan
mahasiswapun akan kasihan. Mereka akan menyesal sendiri. Psikologi
masyarakat Neo Alengka adalah masyarakat pemurah dan pemaaf yang tidak
pendendam. Diprediksikan, pasti setiap harinya akan banyak rakyat yang
mencium tangan Eyang, atau malah sungkem. Tetapi bila Eyang tetap senyum
sinis, pura pura tidak bersalah, menunda nunda proses, atau bahkan
menantang, Perwira Alengka dengan sangat menyesal menyatakan adios
amigo, and will call you as "CAPO" kepala mafia again. Berarti Eyang
sama sekali tidak pernah memikirkan keselamatan Neo Alengka umumnya dan
Neo TDA khususnya. Eyang hanya memikirkan anak anak Eyang yang
ngaaaaawulo waduk alias kapal keruk dan tidak pernah memikirkan nasib
Mahapatih Wir dan masa depan kami GM TDA.

GM TDA tidak pernah mengenal Eyang kecuali melalui mitos. Pepatah  Tak
kenal maka tak sayang  masih relevan. Dan karena kami lebih mengenal
Mahasiswa demonstran itu, sebab tiap hari berhadap hadapan dengan kami,
maka jangan salahkan kami bila suatu saat akhirnya kami malah jatuh
cinta dengan mereka. Kan repot. Antara cinta dengan kesetiaan biasanya
lebih berat cinta. Seperti antara Duncan Mc Leod dan Culbright. Maka apa
saja bisa terjadi.Dan jangan menyesal ketika itu. Salam reformasi

Hidup Neo Alengka yang suka khianat.
Hidup Neo TDA yang kini gadis jelita.

Perwira Alengka.
di. Neo Alengka.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 17 Dec 1998 jam 09:35:13 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke