---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk RESENSI: SPRINGS OF FIRE, SPRINGS OF TEARS Collected Poems of Frans Nadjira Translated and Edited by Thomas M. Hunter Jr Bali, February 1997 Seperti yang disinyalir Will Derks dalam "Komentar" buku kumpulan sajak dua-bahasa penyair Bali Frans Nadjira ini, Sastra Indonesia dalam bahasa Indonesia memang pernah "terjerumus" dalam sebuah salah-kaprah nasional bahwa Jakarta adalah pusat negara Republik Sastra Indonesia. Hal ini pulalah yang menyebabkan penyair Bandung asal Riau Sutardji Calzoum Bachri pernah mengklaim dirinya sebagai "Presiden Penyair Indonesia" setelah dia berhasil "memantra" Jakarta di akhir tahun 1970an. Salah-kaprah nasional ini beranggapan bahwa aktivitas sastra yang terjadi di Jakarta pasti menjadi sesuatu yang bukan lagi sekedar aktivitas sastra belaka. Aktivitas sastra di Jakarta berarti lahirnya seorang sastrawan nasional Indonesia baru atau munculnya sebuah kanon karya sastra nasional yang baru. Posisi Jakarta sebagai ibukota administrasi negara telah menyebabkan administrasi sastra terpusat di sana. Fenomena Orde Baru ini tentu saja tak bisa dilepaskan dari beberapa faktor non-sastra yang meledak dengan pergantian rejim penguasa politik di paroh kedua tahun 1960an: munculnya majalah sastra "Horison" sebagai simbol jaman baru itu; berdirinya Taman Ismail Marzuki (TIM) sebagai pusat kegiatan budaya lokal, regional, dan nasional; dan menjamurnya koran-koran baru yang beberapa di antaranya punya distribusi penjualan sampai ke luar pulau Jawa. Di Indonesia sudah jadi tradisi bahwa koran-koran punya halaman sastra/budaya pada setiap edisi Minggu yang bisa diisi sebuah cerpen dan artikel sastra/budaya atau beberapa sajak dan cerpen dan artikel sastra/budaya. Faktor-faktor non-sastra ini sangat mendukung semaraknya kegiatan sastra di Jakarta dan membuat sastrawan-sastrawan daerah khususnya di luar pulau Jawa menjadi agak iri. Bagi mereka yang tidak mampu hijrah ke Jakarta, jalan menuju sukses dan sebagainya menjadi jauh lebih berliku dibanding yang beruntung tinggal di Jakarta. Hegemoni Jakarta dalam sastra ini mulai dipertanyakan dan ditolak oleh daerah di sekitar babak kedua tahun 1980an dan bisa dikatakan menjadi sekedar anekdot Sastra Indonesia modern di tahun 1990an. Konsolidasi sastrawan muda daerah terutama di Jawa Tengah dan pulau Bali berhasil mematahkan mitos bahwa Jakarta adalah pusat mutu Sastra Indonesia dalam bahasa Indonesia. Bali dengan beberapa penyair yang sudah dikenal luas secara nasional dan juga mulai "go-international" adalah hasil nyata dari "revolusi sastra" yang terjadi di tahun 1990an. Penyair-penyair Bali baik yang asli orang Bali maupun orang perantau telah memberikan sumbangan penting bagi daerah-daerah lain, khususnya di luar pulau Jawa, dalam pelurusan salah-kaprah lama bahwa Jakarta-lah masa depan Sastra Indonesia dalam bahasa Indonesia. Frans Nadjira adalah salah seorang penyair Bali orang perantau asal Makassar, Sulawesi Selatan yang meninggalkan Jakarta untuk menetap di daerah. "Penolakan" Frans untuk hidup di Jakarta ini tentu saja meminta konsekuensi non-sastra, misalnya sajak-sajaknya jadi kurang dikenal luas secara nasional dibanding beberapa penyair yang berbakat lebih rendah tapi tinggal di Jakarta. Tapi ini tidak berarti Jakarta melupakan Frans. Di tahun 1979 Frans Nadjira terpilih untuk mewakili Indonesia mengikuti "International Writing Program" di Iowa, Amerika Serikat. Kumpulan sajak-lengkap penyair Frans Nadjira dalam dua-bahasa ini memang sudah tepat waktunya. Disamping merupakan sebuah dokumen sastra yang penting artinya bagi Sastra Indonesia dalam bahasa Indonesia, kumpulan sajak ini juga membuktikan bahwa penyair daerah tidak kalah mutu karyanya dibanding yang dihasilkan Jakarta. Kumpulan sajak Frans ini menunjukkan betapa naifnya salah- kaprah Orde Baru tentang polarisasi sastra Jakarta-daerah selama ini. Bagi para pembaca internasional, dunia Sastra Indonesia modern telah diperkaya lagi dengan seorang penterjemah handal dalam diri Thomas M. Hunter Jr. Kumpulan "Springs of Fire, Springs of Tears" bukanlah buku terjemahan beliau yang pertama. Sebelum ini Thomas Hunter sudah menerjemahkan novel terkenal Romo Mangunwijaya "Burung-burung Manyar" dan karya-karya para penyair Bali lainnya, khususnya penyair Tan Lioe Ie. Pengalaman hidup di Bali dan usaha-usaha penterjemahan karya Sastra Indonesia ke dalam bahasa Inggris yang dilakukannya sebelumnya membuat terjemahan Hunter kali ini terasa lebih mengalir. Misalnya terjemahannya atas sajak Frans yang terkenal berikut: Selamat Jalan I Gusti Nyoman Lempad Untuk kali terakhir kata menjengukmu karena kata cuma milikku: "Selamat jalan, batu paras yang ditatah dengan kapak" Di suatu desa ada sumber air panas menjangan-menjangan berkumpul di sana. Termangu. Mengapa angin pagi ini terasa liar. Ini bukan tarian biasa. Ia membelit ia melilit. Seperti berobah perangainya. Langitpun jatuh. Melekat seperti kaki-kaki gurita. Dukaku memeluk lengan menjangan-menjangan yang bernyanyi perlahan: "Kubuatkan ayunan lengkung cahaya di kaki langit. Kami yang nampak karena lahir. Matahari silam, topeng-topeng buatkan kami nyanyian untuk berangkat". Karena kata cuma milikku Kujenguk kau dengan kata: "Selamat jalan, batu paras yang ditatah dengan kapak" (hal.49) A Bon Voyage, for I Gusti Nyoman Lempad At this the final meeting words, my sole possession, must do the work of eyes: "Bon voyage, soft stone of gray Shaped with an ax." There is a hot springs in a certain village where the deer gather together, as if entranced. Why does the wind this morning feel so wild, so untamed? This is no ordinary dance. The wind twists, it coils and turns, as if to shed its own disposition. The sky too has fallen. It clings to the earth like the tentacles of an octopus. The pain of my sorrow wraps round the forelegs of the deer slowly they sing: "I have made a craddle from the curving light of the horizon. We are visible because of our birth. Oh setting sun, oh ageless masks, make for us a song of departure." Because they are all I have I look out at you through words: "Bon voyage soft stone of gray, Shaped with an ax." (hal.50) Kehandalan terjemahan Hunter di atas seakan mengimbangi sajak aslinya yang rata-rata merupakan sajak-sajak "psikografi", mengambil istilah yang dipakai Frans Nadjira untuk lukisan-lukisannya pada periode 1980an. Istilah "psikografi" ini mengacu ke bentuk sajak yang pernah sangat populer di sastra Inggris dan Amerika yaitu Imagism yang sangat menekankan faktor imaji sebagai kekuatan sajak. Sajak "made-in-America" "Sungai Mississippi" adalah sebuah contoh lain dimana terjemahan Hunter mampu mengungkapkan apa yang Walter Benjamin katakan sebagai,"That...specific significance inherent in the original (poem) (which) manifests itself in its translatability." Terlepas dari beberapa "tak ada gading yang tak retak", seperti terjemahan-terjemahan bahasa Indonesia atas Kata Pengantar Penterjemah dan Komentar-komentar sambutan dari A.L.Becker dan Will Derks yang nampaknya dilakukan terburu-buru, buku kumpulan sajak lengkap dua-bahasa Frans Nadjira yang dihiasi dengan sebuah repro lukisan Frans ini layak dimiliki para pecinta Sastra Indonesia dalam bahasa Indonesia. Auckland, 17 Desember 1998 Saut Situmorang ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 18 Dec 1998 jam 05:16:47 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
