---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk BIAR MASYARAKAT MENOLAK, RATIH JALAN TERUS JAKARTA (SiaR, 23/12/98) Desakan penolakan pasukan rakyat terlatih (ratih) semakin kuat. Namun hal tersebut tidak membuat pimpinan ABRI menjadi mundur dengan rencananya. Mereka hanya mengubah istilah ratih menjadi kamra. Bahkan sekarang sedang dipersiapkan undang-undang untuk melegalkan rencana pembentukan pasukan itu. Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Surabaya merupakan satu di antara puluhan organisasi massa yang secara resmi menyatakan penolakan terhadap pasukan sipil itu. Dalam aksinya Senin lalu, PMII Surabaya menyebarkan lebih 10,000 selebaran penolakan tersebut ke masyarakat umum. Selebaran-selebaran itu dibagi-bagikan kepada masyarakat di halte-halte bus, terminal dan sejumlah tempat keramaian lain, seperti Tunjungan Plaza, Jembatan Merah Paza dan sebagainya. "Lewat Ratih, militer ingin lempar batu sembunyi tangan. Sedakep awe-awe," kata Adnan, salah seorang aktivis PMII tersebut. "Ratih itu simbol militerisme dan kekerasan," kata Yok Zakaria menimpali. Adnan menilai, ratih tidak ada bedanya dengan Pam Swakarsa yang pernah dipertontonkan saat sidang istimewa. "Jadi, ratih itu rakyat sipil yang dipersenjatai untuk pengamanan Pemilu 1999," katanya. Sementara itu walaupun protes keras terus berlanjut, bak anjing menggonggong kafilah tetap berlalu, ABRI terus mengadakan perekrutan persiapan ratih itu di sejumlah tempat. Mentrans Letjen Hendropriyono, melakukan perekrutan orang-orang desa untuk dilatih militer, walaupun istilahnya bukan pasukan ratih. Mereka, kelak menurut bekas Pangdam Jaya ini, untuk mengamankan daerah-daerah transmigrasi dari bahaya yang mengancam wilayahnya. Perekrutan juga sudah dilakukan oleh Kodam I Bukit Barisan. Beberapa waktu lalu Pangdam Mayjen TNI Ismed Yunizairi Chaniago di Rindam Bukit Barisan Simalungun melantik sekitar 121 orang untuk dilatih di Kodamnya. Namun demikian, Kapendam I Bukit Barisan, Letkol Nurdin Sulistyo membantah bahwa pasukan itu merupakan bagian dari proyek ratih. "Status mereka sebagai prjaurit cadangan wajib (PCW), bukan ratih," katanya. Menurut Nurdin, PCW tersebut merupakan perekrutan rutin lima tahun sekali yang dilakukan oleh Kodam I Bukit Barisan. Mereka berasal dari pegawai BUMN yang ada di lingkungan Kodam I. "PCW ini sudah ada sejak lama," tegasnya. Para pegawai BUMN ini, katanya selain dilatih baris berbaris, juga dilatih menembak serta latihan militer yang lain selama tiga bulan di Rindam I Bukit Barisan. Setelah dilatih, mereka dikembalikan ke perusahaannya masing-masing untuk bertugas selama lima tahun dengan pangkat Parjurit Satu dan berhak atas honor setaraf gaji PNS golongan I/B. Namun setelah lima tahun bertugas, mereka dipensiunkan dengan mendapat pesangon. Dan menurut Kapendam, selama ini pihaknya belum pernah memanggil kembali PCW tersebut karena negara sementara ini merasa belum membutuhkan mereka.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 23 Dec 1998 jam 14:00:49 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
