----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

PEMILU 1999: KRISTALISASI PARPOL, HARAPAN OPTIMUM

Pemilu tinggal enam bulan lagi, kita sudah menginjak masa kampanye politik.
Sedemikian jauh yang sudah bisa berkampanye adalah: PAN, Golkar, PDI sedang-
kan NU yang pengikutnya terbatas di Jawa dan mungkin di Kalimantan mempu-
nyai anggota tetap yang loyal kepada partai. PKB baru merupakan upaya untuk
melebarkan sayap NU ke pulau pulau lain sehingga mereka harus berkampanye.

Parpol parpol baru yang kecil akan mendapat kesulitan prasarana: organisasi
di seluruh Indonesia dan dana kampanye. Pemerintah tidak mungkin memberi-
kan subsidi pemilu kepada parpol parpol karena dirinya sendiri saja sudah
tidak
mampu menjalankan pemerintahan tanpa pinjaman asing.

Jumlah calon pemilih di Jawa yang berpenduduk lk 100 juta orang itu sudah
di "book" oleh beberapa parpol besar: NU (40 juta anggota), PAN
(Muhammadiyah lk 30 juta), PDI Mega (mungkin lk20 juta). PDI hasil kongres
Medan tampaknya akan tersisihkan oleh PDI Mega.

Golkar yang pecah sukar untuk ditaksir sedangkan ICMI masih disangsikan
apakah akan tetap dengan Golkar atau masuk partai Islam yang mana?

ICMI ini adalah ibarat PSI, partai "Chiefs without Injuns" yang pasti akan
menjadi gurem kalau tidak beraliansi. Dan ICMI memang bukan parpol.

Aliansi partai Islam kota yang dipimpin oleh PPP sangat boleh jadi tercipta
dan akan kebagian lk 10 juta. Harapan PPP adalah luar Jawa, terutama
Sumatra.

Yang menarik ialah bahwa pemilu yang relatif akan lebih bebas terbuka namun
belum tentu jurdil, akan merupakan proses kristalisasi parpol Islam, antara
Islam Intelek di kota kota besar dan Islam Konservatif di Kota Kota kecil,
dll.

Masalah dana untuk kampanye adalah paling sulit bagi parpol sehingga Golkar
yang memiliki "war chest" paling besar bisa mendominasi tapi tidak mungkin
merajalela seperti jaman Harmoko jadi Ketua karena akan menimbulkan reaksi
hebat dari parpol parpol lain yang "gigit jari" dalam soal dana.

Konglomerat jahat, KKN harus disorot terus kegiatannya agar supaya tidak
sam-
pai berhasil dalam upayanya manipulasi 140 juta rakyat melarat dengan
politik
dagang sapi yang menyolok mata melotot. Ini adalah tugas pengawas pemilu
jurdil yang paling berat.

Betapapun juga risikonya, pemilu Juni 1999 ini adalah satu satunya jalan
untuk
mencegah disintegrasi, kekacauan total, dan skenario teburuk. Mungkin hanya
merupakan pemilu peralihan yang harus ditindak lanjuti dengan pemilu lainnya
berdasarkan RUU yang lebih jurdil, dalam suasana politik yang lebih stabil.

Maunya kita mengikuti Korea Selatan, Thailand dan Filipina yang setelah
Kris-
mon pemilunya sekaligus membawa ke Reformasi Total, namun "humanly im-
possible" karena fasisme militer Suharto dengan keserakahan KKN-nya
yang sudah digulingkan mahasiswa, ternyata masih "membercokolkan" ironi
dan idiosinkrasi Dwifungsi ABRI yang jelas menjadi kendala dahsyat untuk
mengikuti jejak Korea Selatan, Thailand, Filipina kearah Reformasi Total.

Pemilu Juni 1999 belum ideal karena baru mencapai tahap kristalisasi parpol
parpol namun sudah merupakan harapan optimum, tampaknya kita terpaksa
harus puas untuk tahap sekarang ini karena tidak bisa sekaligus mencapai
Reformasi Total karena dahsyatnya resistans Orde Baru.

H.S. Hidayat Supangkat
New York

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 24 Dec 1998 jam 07:54:44 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke