---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk Pengantar: Cerita pendek ini dipetik dan diterjemahkan dari buku novel biografi Sergei Lazo, karya I.N. Emirov yang berjudul W Ogne Revolutie (1958; "Dalam Api Revolusi"). Kapten Sergei Lazo berasal dari Moldavia, seorang tokoh militer legendaris dari jaman Revolusi Oktober 1917 dan perang saudara 1917-1920 di republik soviet yang muda itu. Selamat membaca.- (DSS, Penerjemah) I.N. Emirov: Mengawali Dinas di Krasnoyarsk (terjemahan Dini S. Setyowati) PAGI yang terang tapi dingin membeku telah memasuki Kranoyarsk. Matahari perlahan lahan menyingsing dari balik pucuk pucuk pohon pinus yang hijau tua. Udara tenang dan bening. Gunungan salju berkilau memutih. Bentuk bentuk dan suasana seperti membeku. Hanya sekali waktu terdengar suara langkah pejalan kaki sendirian memecah kesunyian yang mencekam. Kemudian kembali menjadi sunyi senyap. Sambil menunggu sleigh jemputan Lazo mondar mandir di sepanjang pagar jalanan. Topi Kozak yang dipakainya ditarik hingga menutupi dahinya. Suara salju berkerat kerit tipis terinjak langkah langkah Lazo. Kebekuan terasa seperti membakar. Akhirnya datang juga sleigh itu. Kusir yang berubel ubel dan berjubah kulit domba dengan gagahnya melompat turun, sambil menyingkap kulit beruang yang menyelimuti tempat duduk. Lazo segera duduk. Dan kuda berlari kencang, menarik sleigh menuju ke tangsi. Salju mengalir dari balik derap derap tapal kuda. Sleigh yang tua itu seperti menjerit jerit di atas jalanan salju yang memadat. Di depan sebuah bangunan tua mereka berhenti. Di halaman depan serdadu serdadu kelihatan berlari lari - waktu senam pagi. Kesatuan di mana Lazo ditempatkan, tinggal di satu kompleks yang terdiri dari beberapa rumah kediaman keluarga serdadu. Gedung terbesar yang tampak tua bertembok rapuh bertingkat dua merupakan kantor kesatuan. Bangunan yang lain, sebelah kiri, separoh di bawah tanah, dapur kesatuan dan gudang. Agak ke atas, barak barak dengan pelbed pelbed kayu. Dankie Kapten Smirnov menyongsong Kapten Lazo dengan ramah. Ketika diketahuinya Lazo berasal dari Moldavia ia agak khawatir. Apakah akan kerasan ia di tengah tengah kebekuan yang tak kenal ampun itu. "Akh sudah biasa." Lazo berkata sambil menyungging tawa di sudut bibirnya. "Tapi menyukainya memang belum." Tambahnya. Sesudah berbasa-basi sebentar Smirnov menceritakan situasi kompi yang dipimpinnya. Lazo mendengarnya dengan penuh perhatian, dan langsung memutuskan hendak berkenalan dengan para serdadu bawahannya. Dimintanya agar kompi itu disiapkan. "Seorang pemimpin atau komandan harus mengenal setiap serdadu di dalam pasukannya. Baik rupa maupun nama lengkap masing masing." Katanya di hati. Tiba tiba ia teringat kata kata seorang guru, ketika ia masih belajar di akademi militer. Sekarang ia sudah berdiri di depan kompi, dan menyatakan salam perkenalannya. Para serdadu menyambut pernyataan salam itu dengan suara riuh rendah. "Selamat pagi, Komandan. Siap!" Lazo mengeluarkan daftar absen. "Ivanov!" Serunya. "Ada!" "Nazarov!" "Ada!" "Kravcenko!" Diam. "Kravcenko?" Serunya sekali lagi. "Telah mati beku di tempat tugas, Komandan." Smirnov menjawab. "Mati beku, bagaimana?" "Ya. Begitulah. Pagi pagi dia ditemukan sudah kaku." Lazo mengerutkan alisnya. Sejurus diam, kemudian ia meneruskan mengabsen. Sesudah pasukan dibubarkan untuk sarapan, Lazo singgah ke kediaman Smirnov. "Ini kan kejadian di luar batas?!" Katanya dengan suara bergetar menahan marah. "Ah gampang, Pak! Tinggal dicoret saja nama serdadu itu. Lalu bubuhkan di atasnya nama baru. Habis perkara!" Kata Smirnov tak acuh sambil mengepul ngepulkan asap rokok. "Ya!" Sahut Lazo. "Tapi siapa dapat menjamin, hal itu tidak akan terulang?" Katanya tidak mau mengalah. "Di tengah kebekuan yang tajam seperti ini, dan serdadu serdadu bersepatu usang dan sudah bolong bolong ...?" Dalam suasana seperti itulah, pada tanggal 2 Januari 1917, masa dinas Sergei Georgevitsy Lazo dimulai di tangsi Krasnoyarsk kawasan Siberia. Ia diangkat sebagai Dan Kie III Yon IV pasukan cadangan di Krasnoyarsk. Lama setelah hari pertama berlalu, serdadu yang berangsur angsur membeku dan mati kaku itu masih terbayang di matanya: Kaki dan tangannya yang semakin dingin ... kebekuan menusuk- nusuk seluruh tubuh. Rasa sakit terasa mencekam, namun ia tetap berdiri tegak tidak mau meninggalkan posnya. Sambil mati perlahan-lahan, barangkali pikirannya berkata: "demi Tsar dan Tanahair ...." Tapi mungkin bisa juga lain yang terjadi. Barangkali di hatinya mendidih perasaan benci yang menyumpahi Tsar dan mengutuk Tuhan. Namun bagaimanapun ia toh tetap berdiri di posnya. Ya. Bagaimana bisa tahu apa yang ada dalam pikiran serdadu yang telah mati kaku itu? Juga muncul di angan-angannya sosok Dan Kie yang gendut. Matanya yang sipit karena lapisan lemak mengerdip-ngerdip: "Jangan khawatir, komandan. Nanti kita ganti dengan prajurit lain!" "Betapa sinis!" Bisik Lazo menahan marah. Tiap pagi ia datang ke tangsi untuk membangunkan serdadu serdadu bawahannya. Dengan cermat diperiksanya kerapian seragam mereka satu demi satu. Kemudian ia mulai mengajar. Selain teknik menembak dan taktik perang, diberikan pelajaran ilmu kemasyarakatan. Semuanya berjalan sesuai dengan jadwal. Sikap para serdadu pada komandan baru ini sama seperti pada para perwira yang lain. Asing dan berjarak. Tapi perasaan enggan dan kurang percaya mereka pada Lazo yang seperti itu, tak lama kemudian diganti dengan rasa hormat. Betapa tidak? Dia tidak pernah memukul, tidak menghukum karena hal-hal sepele. Lazo, komandan baru ini, hanya menuntut disiplin dan kejujuran. Setiap kali Lazo pergi ke tangsi, ia berangkat dengan hati bersih dan terbuka. Ia selalu berusaha mengerti suasana hati bawahan, pikiran dan rasa keputus-asaan mereka. Dan dengan melalui perhatian yang diberikannya, ia mencoba untuk meringankan beban mereka itu. Suatu ketika ia sedang mengajar ilmu kemasyarakatan. Serdadu-serdadu pun sudah siap mendengarkan pelajaran rutin tentang susunan keluarga kerajaan, dan tentang etika prajurit terhadap mereka yang berpangkat lebih tinggi. Tetapi betapa terheran heran mereka. Kali ini Lazo bicara tentang sesuatu yang sama sekali lain. Dengan berhati-hati ia membuka tema tentang masalah perang. Sambil bercerita Lazo berusaha menangkap daya terima para prajurit mengenai tema itu. Tampak mereka bersikap bercadang. Sepertinya mereka semua berpikir: apa maksud Komandan ini, dan ke arah mana dia mau bicara? Selama itu belum pernah ada seorang pun yang dengan bebas berani bicara tentang tema ini. Tapi berangsur-angsur keheranan dan kecurigaan mereka semakin mencair. Timbul keberanian mereka untuk berdiskusi. Tapi yang banyak tentu saja pertanyaan. Dalam pertanyaan-pertanyaan itu tersembunyi hasrat mereka yang mendalam: Agar perang cepat berakhir, dan dengan demikian cepat pula bisa pulang ke rumah. Anehnya, tidak ada satu orang pun yang memperlihatkan kesediaannya untuk berperang demi Tsar. Selanjutnya Lazo mulai bercerita tentang sebab-musabab perang yang sebenarnya. Dinasihatinya mereka, agar jangan percaya bahwa perang dilakukan demi kesejahteraan rakyat. Belakangan hari seorang prajurit bernama Nazarcuk, sesudah ia menjadi Bolsyewik, mengenang: Ketika Lazo bicara tentang suatu hal, yang untuk didengar pun terasa ngeri, saking asyiknya lupa bahwa dirinya seorang perwira tentara Tsar. Maka ketika tiba-tiba seperti tergugah dari keasyikannya, ia lalu berkata: "Ayo, kita kembali bicara tentang ilmu kemasyarakatan!" Ketika Lazo berangkat ke Krasnoyarsk, selama perjalanan di atas kereta api, ia dilanda kekhawatiran sendiri. Apakah akan kerasan ia di tempat terpencil, yang buta tuli segala berita itu. Konon daerah ini bermusim dingin panjang, dengan kebekuan yang keras kemeretak, dan pada malam hari serigala- serigala mengintai di sepanjang jalan. Tapi setelah semakin mendekati Krasnoyarsk, ternyata hatinya menjadi semakin tenang. Pemandangan yang terbentang di hadapannya justru tampak sangat indah. Kereta api meluncur di tengah-tengah padang luas, yang diselimuti oleh salju putih bersih. Kadang- kadang menyusup ke dalam terowongan gunung-gunung cadas, yang puncak-puncaknya menjulang menopang langit. Atau, tiba-tiba, seperti dikelilingi hutan belantara liar yang lebat. Pohon- pohon pinus di hutan itu tampak berdiri tegak dengan angkuhnya. Pelan-pelan pohon-pohon itu mengayun dahan-dahannya yang diselimuti salju, seperti kaki-kaki beruang berbulu putih. Sejak kecil Lazo memang mencintai alam. Kalau suasana hatinya tiba-tiba dilanda rasa murung, ia segera pergi berjalan-jalan ke taman di dekat rumah, mendengarkan daun-daun pepohonan yang saling berbisik. Tapi sekarang hatinya tenggelam sama sekali dalam kekaguman pada alam Siberia yang kaya dan beraneka. Setiba di Krasnoyarsk Lazo segera menulis surat kepada ibunya, tentang kesan-kesan pengalamannya di Siberia. Suatu kawasan yang digunakan sebagai tempat pembuangan dan kerja paksa, yang banyak dikisahkan dalam cerita-cerita rakyat dan legenda-legenda yang menakutkan. Tiba-tiba sekarang kawasan ini muncul di hadapannya dengan segala keanekaan keindahannya. "Ibu, aku tidak menyesal berada di Siberia." Begitu Lazo mengakhiri suratnya. Di waktu-waktu senggang Lazo suka menjelajahi pedalaman Kranoyarsk, mendaki gunung-gunung cadas yang tinggi dan berbentuk aneh. Dia sudah sangat tidak sabar untuk berkenalan dengan taiga. "Rencanaku, kalau mendapat dua hari liburan, bisa pergi ke taiga. Dan bersama dengan pemburu-pemburu setempat mencari sarang beruang dan berburu rendir." Tapi bukan saja alam Siberia yang beraneka ragam itu yang menarik perhatian Lazo. Ia juga sangat tertarik pada riwayat terjadinya "kawasan pembuangan" di situ, dan kehidupan serta tradisi masyarakat setempat. Dengan penuh minat dipelajarinya hikayat-hikayat tua yang mengisahkan tentang kelahiran dan perkembangan masyarakat Siberia. Karena itu pula ia pun suka mendengarkan cerita-cerita dari para pionir tentang asal-usul ibukota Yenise. Dari cerita-cerita hikayat bisa diketahui, bagaimana Siberia dikalahkan Moskow, dan kemudian ditundukkan di bawah kekuasaannya. Lazo juga membaca bagian-bagian hikayat yang menyeramkan: tempat-tempat orang buangan melakukan rodi, orang-orang yang bertahun-tahun diisolasi dalam sel-sel gelap pengap dan lembab, tempat-tempat pembuangan dari Sentral Aleksandri yang banyak dibaladakan oleh rakyat. Berangsur-angsur Lazo mengenal penduduk setempat. Ia merasa terkesan pada orang-orang pribumi Siberia. Dari luar mereka tertutup, sepintas lalu seolah-olah pemurung, tapi di dalam hati mereka bijaksana dan suka menolong sesama. Terutama yang sangat menarik perhatian Lazo yaitu kehidupan para tahanan politik, yang oleh Tsar berbondong-bondong dibuang dan dimukimkan di daerah Siberia dan sekitarnya. Terbayang di angan-angannya satu barisan panjang memenuhi pemandangan sepanjang jalan. Bondongan orang-orang buangan yang melangkah berat menyeret kaki mereka yang dirantai menuju tempat-tempat pembuangan. Pemandangan demikian merupakan hal yang lumrah belaka. Dalam salah satu suratnya kepada Ibunya, dengan penuh hormat dan cinta ditulisnya tentang orang-orang buangan politik yang tak menampak. Mereka dengan diam-diam tetap meneruskan tugas kegiatan-kegiatan kulturil, memberi penerangan pada kaum tani, sambil mencari tokoh-tokoh berbakat dari kalangan rakyat. Salah seorang yang berbakat seperti itu secara kebetulan pernah ditemukan. Pada suatu petang, dalam perjalanan pulang berburu, tiba- tiba datang badai salju. Kusir sleigh yang membawanya, setiba di suatu desa berkata: "Tidak mungkin kita meneruskan perjalanan. Terpaksa kita harus menginap di sini!" Berkata begitu sambil mengetuk pintu sebuah rumah yang paling ujung di desa itu. Tuan rumah, setelah mengetahui apa yang terjadi di luar, menyilakan mereka masuk. Di dalam rumah terasa hangat oleh api pemanas di tungku. Dekat tungku itu nyonya rumah duduk sambil menenun. Satu-satunya alat penerang ruangan sebuah lampu minyak yang sudah tua. Sinarnya menerangi wajah-wajah mereka. Di bangku duduk seorang laki-laki muda sekitar 18 tahun, berambut pirang dan agak kusut. Wajahnya yang biasa ditampar angin Siberia kelihatan merah dan kasar. Tampaknya anak laki- laki yang punya rumah. Sebuah buku tebal terbuka terletak di hadapannya. Telunjuknya berhenti pada baris di mana ia berhenti membaca, sementara matanya dengan pandangan berapi- api menatap lawan bicaranya. Begitu Lazo muncul pembicaraan mereka terputus. Dengan sigap pemuda itu menutup bukunya, dan menyembunyikannya di bawah meja. Sambil minta maaf karena merasa mengganggu, Lazo menyilakan mereka meneruskan pembicaraan. Setelah membuka mantelnya Lazo ikut duduk di bangku itu. Pembicaraan dan tanya jawab terjadi antara mereka. Tentu saja Lazo banyak ditanya tentang perkembangan terakhir di Moskow, dan juga tentang berita-berita yang disiarkan di koran-koran. Gaya bicara Lazo yang terbuka menimbulkan rasa simpati pada mereka semua. Akhirnya percakapan menjadi sangat akrab dan hidup, sehingga mereka pun menjadi berani menceritakan pengalaman masing-masing. Pemuda itu menceritakan, tentang berita-berita yang diperolehnya dari seorang buangan politik, yang bekerja sebagai guru di Sekolah Dasar milik Gereja setempat. Ia sering singgah ke rumah mereka untuk memberi penerangan, dan mengajar pemuda yang dipandangnya sebagai anak muda berbakat itu. Tapi wajah pemuda itu tetap kelihatan seperti putus asa. "Masa anak tani punya kesempatan masuk sekolah tinggi?" Katanya mengeluh. "Percuma saja saya mengetuk pintu. Tidak akan ada orang sudi membukanya." Sejak kecil ia memang suka membaca. Segala sesuatu yang bisa dibaca, sudah habis dibacanya. Cara berpikirnya selalu kritis dan penuh hasrat bertanya. Karena itu guru dengan senang hati selalu membawakan untuknya buku-buku dari bibliotik. Dan pada hari senja ketika itu ia sedang membacakan untuk kedua orangtuanya. "Apa yang sedang Anda baca?" Tanya Lazo penuh minat. Dengan pandangan bertanya pemuda itu berpaling pada gurunya. Guru itu menjawabnya dengan isyarat tidak keberatan. Dan pemuda itu memperlihatkan bukunya. "Oh, Cernisevski: 'Harus Bagaimana?' ..." Sahut Lazo sambil memperhatikan judul buku. Sampai larut malam mereka duduk bercakap-cakap tanpa merasa mengantuk. Seorang perwira tentara Tsar duduk bersama seorang buangan politik, dan seorang pemuda anak petani. Mereka bicara tentang perang, tentang impian Vera Pallovna tokoh utama cerita karya Cernisevski, dan tentu saja tentang susunan masyarakat masa depan. Ketika pagi menyingsing badai pun telah reda. Kemudian dengan hangat mereka saling mengucapkan kata-kata perpisahan. Di sepanjang perjalanan Lazo sibuk dengan pikiran sendiri. Makin jelas baginya, bahwa begitu banyak kekuatan segar dan sehat, serta energi tak kunjung habis yang bersumber dari tengah kehidupan rakyat biasa ... *** DI ANTARA para perwira tentara Tsar itu pun terdapat pula sumber kekuatan seperti itu. Di dalam kesatuan, dimana Lazo berdinas, ada seorang perwira bernama Kapten Silin. Ia masuk tentara ketika masih duduk di bangku kuliah, karena memenuhi panggilan dinas militer. Belakangan ternyata ia mempunyai pikiran yang sama seperti halnya Lazo. Di atas dasar itulah akhirnya tumbuh dengan subur benih persahabatan di antara kedua perwira ini. Sore itu Laso mampir ke rumah Silin. Sahabat yang pintar dan selalu penuh semangat. Kali ini pun begitu. Dengan hati terbuka dan gembira disambutnya kedatangan Laso. "Syukurlah! Kita punya kesempatan bertemu di luar tangsi." Kata Silin ramah. Dengan wajah cerah ia menyilakan Laso duduk di sebuah kursi tua dan reyot. "Ya!" Sahut Laso. "Tapi sekarang seluruh Rusia sudah menjadi tangsi. Bukan?!" Istri Silin sambil menyiapkan teh berpaling. Ia menimbrung bicara. "Benar, tapi kalian tidak akan kukasih aba aba bersiap. Jangan khawatir!" Katanya bergurau. Beberapa gelas teh ditaruhnya, di sebelah setumpukan buku tulis, di sebuah meja. Meja satu satunya di ruang yang sederhana itu. Istri Silin memang seorang guru. Mata Laso tertegun heran menatapnya. Seorang perempuan kurus dan tampak seolah olah rapuh itu. Sudah kira kira tiga tahun ia menjadi ibu guru, di satu desa yang buta-tuli berita, serta jauh terpencil dari segala fasilitas. Silin dan istri tinggal di satu kamar, yang diatur sederhana dan tampak miskin. Satu satunya hiasan yang melekat di dinding, dua lukisan cat minyak hasil kreasi tuan rumah sendiri. Sebuah lukisan pemandangan sifat alam Siberia yang tak kenal ampun. Tidak terkesan di situ sapuan lukisan yang berteknik tinggi. Tapi yang memantul daripadanya ialah kekerasan dan tempaan hidup. Seakan akan Silin, si pelukis, sedang melukiskan suasana Rusia ketika itu. Sambil menghirup teh mereka bercakap-cakap. Yang menjadi awal pembicaraan ialah masalah puisi. Silin membaca sebuah sajak. Tema sajak ini tentang seorang serdadu Rusia, yang sedang meregang maut. Menghadapi ajalnya. Ketika hadiah bintang penghargaan dari Tsar, disematkan di dadanya oleh seorang opsir atasannya, serdadu itu menyambutnya sambil berbisik. "Demi kesetiaanku pada Tsar dan Tanahair ..." Dan ia pun mati. "Siapa yang menulis syair itu?" Tanya Lazo. "Ah, seorang serdadu mana bisa berpesan begitu? Tentu saja saya yang menulis!" Kata Silin dengan mata sedikit nanar. "Anda tahu? Itu saya tulis atas perintah pimpinan Akademi Militer Irkutsk. Sesudah diperbanyak kami sebarkan dalam acara Malam Perwira. Lumayan. Dapat 25 rubel setiap eksemplar. Kebetulan ketika itu kami sedang serba kekurangan. Ya. Meskipun saya sebenarnya ada pikiran lain ..." Ia sekonyong-konyong berdiri. Entah mengapa. Sesudah sejurus merenung, ia memulai lagi bersajak: "Segala galanya kepatuhan kesabaran yang sejak mula tertindas nasib Kau panggul beban hidup yang berat rakyatku tercinta yang bisu" Silin membacanya dengan perlahan, penuh perasaan, penuh ekspresi. Kata-kata sedih terdengar seperti batu jatuh di tengah kegelapan yang sunyi. "... di hari-hari ini jiwa dipacu prihatin kau serahkan segalanya pada tanah air kekuatan yang terbaik kekuatan yang sedang berkembang kau bawa ke medan berdarah ..." Lazo mendengarkan dengan tajam. Selain suara Silin yang sedih itu, segala yang disekitarnya menjadi tak lagi eksis. Teh sudah lama menjadi dingin. Silin pun sudah lama berhenti membaca. Tapi tak seorang juga berani memecah kesunyian. Yang terdengar hanya bunyi jam dinding yang berdetak. "Kalau saja kita bisa membawa sajak ini ke tengah-tengah rakyat ...", kata Lazo penuh angan-angan, "dan kalau saja rakyat menangkap isinya, dan bersatu ... Maka tidak akan tersisa satu batu pun dari benteng tirani itu!" Silin tiba-tiba menoleh ke Lazo. "Ayo! Teh kita sudah dingin ...!" Sampai larut malam Lazo duduk di situ. Segan rasanya untuk meninggalkan keluarga Silin yang baik hati. Memang tidak menampak pada mereka kecukupan materi. Tapi kekayaan jiwa terasa melimpah. Kekayaan semahal itu tak bisa selalu ditemukan di sepanjang kehidupan. Ketika Lazo pamit, Silin menghadiahi sebuah buku kumpulan syair-syairnya. Beberapa baris kata kenangan ditulisnya di atasnya: "Dengan restu Tuhan untuk Perwira Lazo mengharap perubahan segera Pengarang, 1917" Hidup di tengah-tengah serdadu, dan merasai hubungannya dengan penduduk setempat, Lazo menjadi yakin: perang sudah membuat rakyat menjadi jemu dan jenuh. Suasana yang seperti itu dia sendiri ikut merasainya. Tapi ia pun mengerti, bahwa membenci perang saja tidak cukup. Juga tidak cukup dengan membenci Tsar. Tapi harus bertindak. Karena itu ia berusaha mencari hubungan dengan orang orang revolusioner. Ia membangun kontak dengan kelompok kiri kaum sosial demokrat internasional. Mereka itu, para sosial demokrat kiri khususnya yang internasionalis, sedang giat melancarkan propaganda yang luas anti-rezim totaliter. Rezim Tsar Nikolai Romanov II. Di masa Perang Dunia I mereka itu juga melancarkan propaganda anti- perang. Ke dalam kelompok inilah akhirnya Lazo menggabungkan diri. Jauh di kemudian hari, ketika menjawab pertanyaan angket organisasi, Lazo menulis: "Sebelum Revolusi Februari, satu bulan lebih saya bekerja di dalam organisasi sosial demokrat yang ilegal di Krasnoyarsk, yaitu di kalangan serdadu." Lazo bergaul erat khususnya dengan Nikolai, seorang perwira yang juga bertugas di batalyon yang sama. Nikolai dibuang ke Siberia karena kegiatan revolusionernya. Ketika perang pecah Tsar mengeluarkan peraturan, semua orang buangan politik dimiliterisasi. Karena itu Nikolai termasuk dalam Yon XV tentara cadangan di Siberia. Nikolai seorang yang kaya dengan jiwa erudisi dan penuh keyakinan kuat. Ia seorang lawan Tsar yang galak. Ia memiliki bakat bergaya bicara indah, mampu menyatakan pikirannya dengan terang, hidup dan mencitra. Pertemuan dengan Nikolai itu berpengaruh besar pada Sergei Lazo, dan menentukan langkah-langkah pertamanya di dalam kegiatan praktek revolusioner. Tak lama sesudah memasuki aktifitas ilegal sosial demokrat kiri, Lazo segera menjadi anggota yang sangat aktif. Ia tinggal di rumah seorang kaya bernama Kromov, tidak jauh dari tangsi. Menyewa satu kamar di tingkat satu, dengan jendela menghadap ke jalan raya. Pada siang hari kamar Lazo selalu kosong. Tapi setiap malam penuh dengan sahabat-sahabatnya. Mereka orang-orang muda, yang datang berkumpul untuk menyatukan pandangan mereka tentang perkembangan situasi terakhir. Mereka selalu terlibat dalam diskusi yang seru. Tentu saja masalah perang selalu menjadi tema utama. Mencari kesamaan faham dalam menilainya, dan selanjutnya mencari jalan untuk menghentikannya. Banyak gagasan yang dikemukakan. Melalui jalan diskusi banyak gagasan ditolak dan diganti dengan gagasan baru - yang satu lebih berani dari yang lain, yang lain lebih tegas dari yang satu. Tapi semuanya sama-sama tidak bisa diwujudkan di dalam praktek, karena diskusi ini tidak menemukan satu mata rantai utama: kebangkitan gerakan revolusioner pemuda bersama massa rakyat yang paling tertindas.(bersambung)*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 31 Dec 1998 jam 11:02:32 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
