---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- EVALUASI BLIND SPOT KABAKIN MAULANI Bagaimana mungkin evaluasi Kepala Bakin Maulani bisa dibuat berdasarkan "blind spot" di mana faktor potensi kerusuhan yang begitu menyolok sampai tidak diperhitungkan samasekali: rakyat melarat yang sudah mencapai 140 juta, mungkin 80 juta di antaranya tinggal di pulau Jawa, 38 juta penganggu- ran, 10 juta busunglapar. Memang mereka itu tidak anti-Habibie "per se", mungkin juga karena tuna-po- litik sedemikian jauh, namun sebagai manusia merekapun masih bisa berpikir, mengapa mereka menderita azab sengsara, siapa yang bertanggung jawab ka- lau bukan pemerintah? Pikirannya memang sumpek sekali karena kurang pendidikan selama ini dan hanya melihat pedagang Cina yang menjual sembako dan segala kebutuhan hidup sebagai kambing hitam sehingga dilampiaskan amarahnya kesitu kare- na irihati dan dianggap lemah tak bisa mempertahankan diri. Pikiran rakyat penjarah yang berdasarkan blind spot tidak mampu melihat pe- merintah, dalam hal ini Suharto dan KKN-nya sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kesengsaraan mereka dapatlah dimengerti karena mereka tidak ber- pendidikan. Pandangan blind sport mereka bisa kita pahami. Namun kalau KABAKIN memberikan evaluasi berdasarkan blind spot merupakan blunder yang amat sangat serius, justru pada saat saat kritis seperti sekarang ini karena hanya ingin menjatuhkan nama lawan lawan Habibie yang ingin menjatuh- kannya. Kini dapat dipahami mengapa selama ini pikiran dan tindakan pemerintah seolah olah "everything is OK", "no problema" dan ongkang ongkang menganggap "busi- ness as usual" sehingga tuntutan mahasiswa dan sebagian masyarakat aktivis pro-Reformasi yang sudah gundah gulana karena situasi sudah hyper-critical, di- anggap sebagai golongan ekstremis. Harus diakui bahwa mereka masih terbatas jumlahnya karena klas menengah kita tidak seperti di India, Filipina, Thailand, Malaysia, Singapura, Korea Selatan, masih masih merupakan minoritas kecil yang masih bisa hidup dengan dignity (kemuliaan). Namun "it's a matter of time" puluhan juta "silence majority" yang sengsara badan akan bertindak, kalau tidak mendukung mahasiswa dengan demo seperti di Filipi- na, Thailand, Korea Selatan, mereka akan bertindak mengambil jalan sendiri me- nurut persepsinya yang serbakurang karena kurang pendidikan: penjarahan! Adalah suatu blunder serius yang tak berampun untuk mengambil sikap "taken for granted" bahwa mereka yang dapat kita ibaratkan sebagai "Kumbakarna tidur" itu akan tertidur selama lamanya. Konsekwensi logis ini sukar sekali dijangkau oleh pandangan "myopic" para pe- mimpin kita yang selalu ketinggalan "overtaken by events" sepanjang masa! Kita tidak usah jadi "psychic", paranormal, "weruh sadurung winarah" untuk me- mahami konsekwensi logis ini. Ahh, mengapa pula saya yang secara pribadi nun jauh di sana tidak bisa dijangkau oleh potensi amuk amukan Kumbakarna justru tidak nyenyak tidur sedangkan me- reka yang akan dijadikan sasaran justru ongkang ongkang terus karena "over con- fident" terhadap senjata lengkap ABRI yang malah mau "diperkuat" dengan Ratih? H.S. Hidayat Supangkat New York (Masih mau lihat New Year's Eve Times Square) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 31 Dec 1998 jam 11:04:16 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
