----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

Toha adalah bekas room mate dari Semarang.
Datang ke  Amerika bukan karena ingin sekolah.
Melainkan karena ingin merubah nasib dan
berangan angan  bisa hijrah dan lepas dari
jeratan low class ke medium class, seperti mimpi
jutaan manusia lainnya tentu saja.

Toha datang ke Amerika lantaran dibawa seorang
pengusaha Indonesia yang memiliki Metropolitan
hotel di Sunset Boulveard di Los Angeles.
Seperti kebanyakan orang kampung yang tidak
cukup pendidikan, Toha tentu mau saja menjadi
pekerja dgn gaji murahan dibawah minimum dibagian
housekepping.Setelah beberapa bulan bekerja
hubungan mutualisme Toha dengan majikannya ini kandas
ketika dia tahu bahwa dengan bekerja diluar, Toha
bisa mendapatkan gaji yg lebih baik.

Toha kabur dari airport ketika akan dipulangkan
majikannya. Tiket pulang ke Indonesia dibiarkannya
hangus. Setelah bergaul dengan orang orang Indonesia
di LA, toha mendapatkan pekerjaan di Pabrik lampu
dengan gaji diatas minimum.Dan  ketika gaji pertamanya
diterima maka dimulailah apa yang dinamakan orang
sebagai proses culture shock. Ketika seorang miskin
yang jarang berduit tiba tiba punya income tetap
yang layak dan sejumlah cerdit card, Jelas adalah
sebuah perubahan status dan gengsi.Dan untuk itulah
tulisan ini dibuat.

Toha amat mirip dengan Indonesia. Ya setiap melihat
Toha selalu saya  seperti melihat tanah air kita. Begitu banyak
masalah soal utang. Harga diri yang berlebihan. Tanpa
berpikir panjang misalnya dia membeli mobil creditan
yang masih baru.Cologne yang mahal,dan ketika saya
membeli komputer baru dengan processor intel MMX 166
Toha tidak mau kalah 2 hari setelah itu membeli komputer
creditan MMX 233 ( cuma buat internet ). Setiap date juga
Toha tidak segan untuk membayari teman kencan di restaurant
bergengsi.Ketika date dengan pramugari garuda, hari pertama
toha memberi hadiah kamera yang baru saja dia beli seminggu
yang lalu untuk dirinya sendiri.Call ke Indonesia bisa berjam jam.
Walaupun billnya nanti datang selalu membuat mukanya merah matang.
Toha tidak perduli.

Toha adalah Indonesia. Dia selalu berpikiran sedikit kedepan.
Agar kelihatan kaya tidak  segan dia memaksa diri melengkapi
hal hal yang sebenarnya dia tidak perlukan. Jadi walaupun
dia nampak diatas rata rata orang Indonesia pekerja,
sebenarnya hutang Toha alangkah banyaknya. Dibandingkan
dengan pendapatan dia setiap bulan, Toha boleh dikatakan
bangkrut. Jangankan menabung, untuk membayar bunga utang
saja dia sudah megap megap. Dan karena kemampuan atau
potensi ( talent&pendidikan ) tidak ada, Toha memang tidak
bisa apa apa.

Toha bisa saja meminjam uang dari Bank.( Persis
seperti Indonesia meminjam duit dari IMF) untuk melunaskan
utang utangnya. Tapi seperti juga perjanjian Indonesia/IMF
Toha harus membayar fee 2 sampai 2.5 percent selain
kewajiban membayar utang dan bunga cicilan utang.
Jika itu yang dia lakukan, Toha sebenarnya cuma  mendapatkan
napas sedikit tapi utang akan terus bertambah dan beban
jelas akan semain berat dikemudian hari.

Toha dalam keadaan karam selama ini. Setelah dia sadar
bahwa sumber daya manusia tidak ada, jalan satu satunya
cuma bekerja seperti kuda. Tapi pekerjaan kasar mana yang
bisa menghapus utang utang dia?Untunglah Toha tidak
bekeluarga. jadi tidak seperti negara kita yang bangkrut
akibatnya mengorbankan rakyat banyak. Toha tidak punya
Istri dan anak. Tidak ada anak  yang putus sekolah karena
ulahnya tidak ada Istri yang menjadi pelacur gara gara
perbuatannya.

Ekonomi Toha murat marit seperti Indonesia.
Dibandingkan dengan Abdullah, pekerja dari Palembang
yang bertubuh kecil tapi kekar. Toha memang nampak
lebih berkelas. Tapi Abdullah yang bekerja sebagai
buruh bangunan tahu bagaimana mengatur income
dan pengeluaran. Memang Abdullah tidak mengerti arti inlasi.
Tidak tahu arti CPI, tidak juga tahu apa itu rule 72.
Tidak pernah mendengar yang namanya Adam Smith.
Walaupun sama sama anak kampung, Abdullah yang
terkenal pelit ini dalam 3 tahun bisa mengumpulkan 35
ribu dollar. Dan Toha? minus sekian belas ribu dollar.

Toha adalah Indonesia. Dan Abdullah adalah cikal bakal
sebuah negara yang benar benar berkembang.
Suatu saat Abdullah yang telah membeli van dan mem
beli alat alat konstruksi berat, sambil belajar les mengelas
dan mencoba berbisnis, boleh jadi akan menjadi konglomerat.
Dan Toha seperti juga Indonesia, masih juga merasa bangga
dengan mobil utangan, Komputer utangan,juga bangga mendapat
kan kepercayaan dari bank yang memberinya sekian credit card.
Karena menurutnya " Gue masih mendapatkan kepercayaan"
untuk ngutang dan ngutang dan ngutang....dan ngutang.

Toha mungkin nampak keren. Dia memang roomate saya.
Tapi untuk mempelajari sukses, saya harus banyak belajar
dari Abdullah.Walaupun dia pelit dan berpenampilan seperti
kuli, walaupun badannya tidak wangi juga tidak sekolah
tinggi Abdullah sebenarnya adalah seorang ekonom handal.


Indonesia dan Toha, belajarlah dari Abdullah...



Hasan Basri

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 3 Jan 1999 jam 04:43:41 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke