----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

Rontok karena Kelewat Yakin dan Rakus

Prinsip bisnis adalah meraih keuntungan sebesar-besarnya. Itu pula, yang
dilakukan Bambang Tri ketika berkiprah di Osprey Maritime Ltd., Singapura.
Sayang sekali, manuver Bambang ini dinilai kelewat rakus oleh mitranya.
Perusahaan itu kemudian guncang dan hanya bisa selamat karena uluran tangan
para mitra itu. Pola-pola serupa dijalankan anak Soeharto yang lain, Tommy.
Bahkan, dengan cara-cara yang lebih kasar.

OSPREY, barangkali, menjadi gambaran pas atas kerakusan keluarga Cendana
sewaktu Soeharto berkuasa. Ketika Osprey pada 1997 merilis banyak saham
untuk membeli lagi sebuah kapal pengangkut minyak, Bambang dan koleganya
juga ingin kekayaan lebih. Menurut orang-orang yang bekerja dengan mereka,
Bambang dan koleganya kemudian meminjam uang agar bisa membeli saham baru
tersebut.

Itu dilakukan Bambang agar kekayaannya di Osprey tidak berkurang. Pinjaman
itu pun kemudian bisa diselamatkan lewat saham Osprey. Kini, holdings itu
menjadi tak menentu karena selama ini lebih banyak mengandalkan link Bambang
dengan Pertamina.

Konon, kata rekan-rekannya, Bambang tidak membayar pinjaman itu karena
sebuah perusahaannya di Jakarta dalam proses pailit. Padahal, perusahaan itu
belum bisa menutup dana yang ditomboki oleh saham Osprey tadi.

"Keluarga Soeharto bisa jatuh karena rakus dan kelewat yakin," ujar seorang
teman dekat Bambang. Bambang sendiri tidak menjawab pertanyaan untuk
berkomentar soal ini.

Sebelum Osprey, Bambang juga melakukan manuver sepuluh persen saham gratis
di proyek penambangan gas Kangenan, di utara Bali, yang dilakukan Atlantic
Richfield Co (Arco). Menurut eksekutif Arco dan sumber lain, manuver
tersebut dimulai pada 1989, saat Bimantara Group milik Bambang mengajukan
diri sebagai mitra lokal Arco.

Tetapi, praktiknya, kemitraan itu sudah jauh melampaui batas kewajaran.
Menurut eksekutif Arco dan Pertamina, Bimantara tidak puas hanya mengisap
profit lewat jaminan perjanjian penjualan listrik tenaga gas dari proyek
itu, tetapi juga memaksakan diri menjadi pengembang proyek pipanisasi bawah
laut.

Sudah demikian, Bimantara masih saja menggelembungkan dana yang disediakan
bagi proyek itu. Arco menganggarkan, proyek pipanisasi hanya untuk perairan
dangkal senilai USD 250 juta. Namun, Bimantara nekat membangun saluran pipa
itu di kedalaman sehingga menelan biaya USD 400 juta.

Bimantara mengungkapkan berbagai alasan teknis mengapa biaya bisa membengkak
sebesar itu. Tetapi, kalangan eksekutif yang ikut bekerja dalam proyek
tersebut mengatakan, meskipun saluran pipa ini di kedalaman, jumlah sebesar
itu jauh dilebih-lebihkan.

Sudah begitu, proyek tersebut terlambat satu setengah tahun dari batas akhir
penyelesaian. Mau atau tidak, Arco harus mengeluarkan biaya tambahan.
Bimantara dan Pertamina sendiri juga harus batal menelan pemasukan jutaan
dolar.

Kini, karena antara Bimantara dan Pertamina tidak memiliki perjanjian resmi
soal pembebasan lahan, jadilah Arco yang ketiban sial. Para pengelola itu
sangat kesulitan bisa memindahkan para pemukim di sekitar lokasi pipanisasi
itu untuk menjamin keamanan dan proses perawatan.

Apalagi, baru-baru ini Bimantara resmi melepas saham sepuluh persennya ke
Arco. Menurut Joseph Dharmabrata, direktur sebuah perusahaan pipanisasi yang
berafiliasi ke Bimantara, perusahaan juga segera melunasi pinjaman di proyek
itu. Krisis ekonomi, kata Bambang, yang layak dijadikan alasan. Bukan
kesalahan Bimantara.

"Prospek proyek itu cukup suram," paparnya.

Selain berkiprah di perminyakan, Bambang sebelumnya juga meraih nikmat di
bisnis telekomunikasi. Pada 1993, Satelindo yang dikontrolnya meraih tiga
jenis izin operasi tanpa lewat proses penawaran resmi. Tiga izin itu
meliputi operasi saluran jarak jauh dan layanan telepon genggam. Juga,
operasi satelit baru. Itu semua diakui sendiri oleh para eksekutif
Satelindo.

Menurut mereka, Satelindo, sebenarnya, memulai bisnis itu cuma dengan modal
ekuitas USD 50 juta yang disediakan perusahaan investasi milik militer.
Mereka kemudian menjual 50 persen saham ke Deutsche Telekom AG, Jerman,
senilai USD 586 juta.

Namun, kerja sama manis itu memunculkan masalah. Pada 1996, Deutsche Telekom
menyatakan, penawaran perdana yang dilakukan atas saham Satelindo itu adalah
USD 676 juta atau 15 persen lebih banyak daripada yang dilaporkan diterima
Satelindo. Ternyata, kata seorang banker investasi AS yang terlibat
transaksi itu, gap USD 90 juta disebut-sebut sebagai dana fasilitas.

"Saya tahu betul berapa jumlah sesungguhnya. Dan, soal ini benar-benar
sepihak," tutur dia.

Tetapi, Satelindo tampaknya bukan tidak memperhitungkan masalah yang bakal
muncul. Sebab, dalam undang-undang Jerman saat itu, biaya fasilitas tersebut
dinilai sah dan legal. Apalagi, di markasnya di Frankfurt, jubir Deutsche
Telekom menyatakan pihaknya tidak pernah meminta tolong orang untuk
menguasai sejumlah saham itu.

Biaya itu membengkak, lanjutnya, karena memang perlu dana tambahan broker,
berbagai macam konsultasi, dan sebagainya. Apa pun yang terjadi, para
penasihat keuangan menegaskan bahwa lazimnya, biaya fasilitas itu tidak
melebihi USD 20 juta. Jauh lebih kecil dibandingkan jumlah USD 90 juta tadi.

Yang lebih "lucu", Iwa Sewaka dan Kadir Assegaf  yang saat itu menjabat
Dirut Satelindo dan petinggi Bimantara tidak tahu-menahu soal biaya
fasilitas USD 90 juta itu.

"Kecurangan" lain juga dilakukan Satelindo ketika berbisnis perlengkapan
telepon selular senilai USD 800 juta  umumnya dari perusahaan Prancis
Alcatel SA. Namun, rekan-rekan Bambang menjualnya dengan lebih dulu
menggelembungkan 25 hingga 30 persen.

Menurut rekan-rekan Bambang itu, mereka menaikkan harga karena harus
membayar "biaya fasilitas" bagi Bambang dkk. Alcatel sendiri menolak
berkomentar soal penjualan dengan harga model itu. Yang jelas, Satelindo
masih punya utang luar negeri sampai USD 500 juta.

Kini, Satelindo telah direstrukturisasi. Menurut para banker yang tahu betul
transaksi itu, andaikata tetap ngotot, sangat mungkin Bambang akan keluar
dari Satelindo tanpa sedikit pun saham.

Menurut dokumen perusahaan, lewat salah satu perusahaannya, di Satelindo itu
pada 1997 lalu Bambang memperoleh jaminan pinjaman senilai USD 125 juta dari
Deutsche Bank AG, Jerman. Pihak bank Jerman itu mengatakan, kesepakatan
pinjaman ini tidak pernah terealisasi.

Selain Bambang, adiknya  Tommy Soeharto  juga bisa dikata kelewat rakus.
Pada 1989, perusahaan Humpuss Group yang dikelola Tommy memperoleh hak
khusus mengoperasikan Sempati Airlines, maskapai swasta pertama di
Indonesia. Pada awalnya, Sempati sukses luar biasa. Puncak penghasilan
terjadi pada 1996 dengan nilai USD 700 juta.

Padahal, pada saat perilisan perdana, maskapai itu ditaksir senilai USD 400
juta sampai USD 500 juta. Namun, tingginya biaya membuat Tommy tidak bisa
mengeruk tunai sesuai keinginannya. Pukulan lain, mitra Tommy nyempal
mendirikan maskapai sendiri. Tommy tidak kurang akal. Dia beli
pesawat-pesawat rival tadi dengan jalan menggelembungkan biaya maintenance
(perawatan) hingga dua kali lipat.

Tahun lalu, Sempati mencatat banyak utang hingga di-grounded. Menurut mantan
eksekutif Sempati, Tommy sendiri sebenarnya tidak paham bagaimana menghitung
nilai sebuah bisnis maskapai. Dia banyak mengongkosi maskapai ini dari
bisnis peternakan domba di Selandia Baru. Tommy tidak menjawab permintaan
untuk berkomentar soal ini.

"Tommy tak pernah mendengar siapa pun," komentar Setiawan Djody, pengusaha
yang juga musikus itu.

Namun, ruginya bisnis first family ini tidak terjadi selamanya. Kroni-kroni
Cendana juga ikut menangguk sukses. Catatlah saat Johannes Kotjo  teman
Bambang  mengakuisisi perusahaan permesinan Singapura yang lama tertidur,
Van der Horst Ltd. pada 1993. Dua tahun kemudian, nilai saham Van der Horst
mengalami kenaikan sampai 450 persen karena menang kontrak pada berbagai
proyek di Indonesia.

Pada 1995, Tommy membeli sepuluh persen saham perusahaan itu.
Kontrak-kontrak pun kemudian dialihkan ke Sigit Harjojudanto, kakak Bambang.
Kotjo kemudian dihukum pemerintah Singapura karena manipulasi saham. Citra
Van der Horst pun merosot.

Puncaknya, pada 1997, Van der Horst berdagang hanya sepertiga total sahamnya
dari ketika berjaya. Karena banyak utang, bank-bank pun kemudian melikuidasi
Van der Horst. Setahun kemudian, siapa sangka Soeharto lengser.

Selain anak-anak Soeharto yang disorot tajam, kroni-kroni, seperti Mohamad
"Bob" Hasan dan Liem Sioe Liong, pun juga tidak lepas dari gonjang-ganjing.
Dililit utang. Malahan, saat ini Bob harus rela dicekal ke luar negeri.

Tetapi, sekali lagi, terlalu dini mengatakan Soeharto dan kroninya itu
miskin. Menurut orang-orang dekatnya, sejauh ini Soeharto masih bangga
dengan prestasi anak-anaknya. Kadang, di tengah kebanyakan rakyat yang
dirajam ekonomi, Bambang masih tegar mengangkut Soeharto dan kroninya dengan
jip Cherokee ke masjid.

Soeharto, kata orang dekat tadi, mungkin tidak tahu bahwa keluarganya kini
telah membangun sebuah rumah pasir. "Kami tidak pernah membicarakan segala
sesuatu yang menyakitkan itu. Dia begitu bangga dengan anak-anak ini,"
ungkap Bustanil Arifin, mantan menteri dan orang kepercayaan Soeharto.
(wsj/sol--habis)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 7 Jan 1999 jam 08:39:17 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke