----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

From: suharjo nugroho
Mentri Tak Boleh Kampanye Karena Golkar

Jakarta, (26/03/99)
Larangan mentri berkampanye sebenarnya untuk bermotif mencegah Golkar
menggunakan kader-kadernya yang juga menjabat menteri, untuk memenangkan
partainya di pemilu nanti. Selain juga agar mentri-mentri tersebut tidak
menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan partainya. Hal ini
dikatakan Dirjen PUOD Prof DR Ryaas Rasyid ketika ditemui wartawan di
sela-sela Rapat Paripurna DPR-RI, Jumat (26/03).
Karena motif tersebut itu, ia mempertanyakan kekonsistenan keputusan
KPU tersebut kemudian hari setelah banyak mentri berasal dari parpol.
 Lihat saja pemilu berikutnya, saya tidak yakin masih dilarang. Bangsa
kita ini tidak pernah konsisten kok , ujarnya.
Dikatakan, keputusan KPU ini juga tidak membuat sistem menjadi baik
karena idenya meniru dari negara lain. Lagipula, tambah Ryaas, hal itu
tidak bisa diterapkan di Indonesia, yang menganut azas demokrasi. Ia
mengingatkan bahwa di negara demokrasi lain, menteri tidak dilarang
mengikuti kampanye pemilu, meskipun ia salah satu kader partai yang
berkuasa.  Sebutkan satu saja negara yang mentrinya juga anggota parpol
tapi tidak boleh kampanye, kalau ada saya akan bunuh diri , tantangnya
serius kepada wartawan. Karena Indonesia satu-satunya negara demokrasi
yang memakai larangan tersebut, Ryaas melihat Indonesia menjadi negara
yang paling lucu di dunia.
Bagi Ryaas, larangan KPU tersebut tidak jelas, dan hanya ingin jadi
kontroversial saja. KPU sebenarnya tidak berhak melarang, mengingat
berdasar Pasal 46 ayat 6 UU No 3/1999 tugasnya hanya menetapkan tata
cara kampanye saja.  Para anggota KPU itu cuma ingin agar keputusannya
kontroversial, untuk menarik simpati masyarakat , tandas dia.
Dijelaskan, di hawa reformasi saat ini, masyarakat akan simpati pada
lembaga yang membuat keputusan melawan pejabat pemerintah.  Padahal
masih banyak hal lain yang lebih penting bisa dikerjakan KPU untuk
persiapan pelaksanaan Pemilu , sesal Ryaas.

Oleh : Suharjo Nugroho

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 27 Mar 1999 jam 03:49:16 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke